Mohon tunggu...
Isson Khairul
Isson Khairul Mohon Tunggu... Jurnalis - research | media monitoring | content creator | video journalist | corporate communication

Kanal #Reportase #Feature #Opini saya: http://www.kompasiana.com/issonkhairul dan https://wm.ucweb.com/dashboard/article Kanal #Fiksi #Puisi #Cerpen saya: http://www.kompasiana.com/issonkhairul-fiction Profil Profesional saya: https://id.linkedin.com/pub/isson-khairul/6b/288/3b1 Social Media saya: https://www.facebook.com/issonkhairul dan https://plus.google.com/+issonkhairul/posts serta https://twitter.com/issonisson Silakan kontak saya di: dailyquest.data@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Wisata Pilihan

Bapak-Anak Jelajah Motor 7.000 KM, Jakarta-Sabang 22 Hari

24 Agustus 2021   12:58 Diperbarui: 24 Agustus 2021   13:04 97 2 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Bapak-Anak Jelajah Motor 7.000 KM, Jakarta-Sabang 22 Hari
Jelajah Sumatera, Jakarta-Sabang sejauh 7.000 kilometer. Foto: dok. andrabells

Perkenalkan, Andrabells. Ia menekuni bidang advertising. Ia juga mengelola kedai kopi. Di usianya yang sudah 53 tahun, Andrabells aktif menjelajah dengan sepeda motor. Tahun 2019 misalnya, ia menjelajahi Garis Batas Borneo di Pulau Kalimantan. Awal tahun 2021 lalu, Andrabells turing panjang Jakarta-Timor Leste.

Hari Minggu, 22 Agustus 2021 kemarin, Andrabells berangkat dari rumahnya di Bekasi, memulai penjelajahan ke Pulau Sumatera. Targetnya, Jakarta-Sabang pergi-pulang, sejauh 7.000 kilometer. Ia berdua dengan anaknya, Syahnail, yang baru berusia 19 tahun. Mereka masing-masing menunggangi Kawasaki Versys X250.


Bulan Agustus, bulan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Andrabells memilih bulan istimewa tersebut, untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan kepada sang anak. Andrabells ingin agar anaknya bukan hanya tahu Indonesia melalui bacaan, tapi juga menyelami kehidupan rakyat negeri ini, dengan mengunjungi mereka secara langsung. Salah satu caranya ya dengan turing, dengan sepeda motor.

Bapak-anak itu sepakat untuk menjelajahi Jakarta-Sabang pergi-pulang, dengan perkiraan 22 hari perjalanan. Mereka akan menempuh rute panjang itu dengan sepeda motor masing-masing. Mereka memulai perjalanan kebangsaan tersebut dari rumah mereka di Bekasi, Jawa Barat, menuju ujung utara Pulau Sumatera.

Tujuan akhir mereka adalah tugu Kilometer Nol Indonesia, yang berada di Pulau Weh. Persisnya, di Desa Iboih, Kecamatan Sukakarya, Kota Sabang, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Tugu bercat putih dengan tinggi sekitar 43,6 meter tersebut, diresmikan oleh Wakil Presiden Indonesia Try Sutrisno, pada 9 September 1997. Lokasi tugu sekitar satu jam berkendara dari pusat Kota Sabang.

Dalam konteks turing, Safety Riding adalah agenda pertama mereka, agar selamat di perjalanan. Kelengkapan komponen kendaraan serta kelengkapan pelindung diri sebagai pengendara, menjadi prioritas. Mereka percaya, safety riding adalah poin penting berkendara di jalan raya. Artinya, tertib berlalu-lintas itu, dimulai dari diri sendiri.

Nah, spirit safety riding itulah yang hendak mereka gelorakan kepada publik di sepanjang 7.000 kilometer perjalanan. Selain itu, karena negeri ini sedang menghadapi pandemi Covid-19, bapak-anak tersebut melengkapi diri dengan persyaratan protokol kesehatan. Antara lain, menjalani test Antigen dan Vaksinasi, sebelum keberangkatan.

Dengan kata lain, Andrabells dan Syahnail selaku bapak-anak, ingin mengampanyekan keselamatan berkendara serta protokol kesehatan di event yang mereka namakan Father n Son, Road to Sabang Aceh 7.000 Kilometer. Menjaga keselamatan dan kesehatan adalah bagian dari cara mereka untuk turut memulihkan Indonesia dari hantaman pandemi Covid-19.

Itulah sesungguhnya substansi event Father n Son ini. Andrabells ingin sang anak merasakan denyut nadi warga di berbagai wilayah yang disinggahi. Ia ingin Syahnail menghirup udara segar, menikmati kuliner, serta meresapi panorama destinasi wisata tanah Sumatera. Semua itu adalah bagian dari kekayaan bangsa Indonesia, yang harus kita rawat serta kita kelola demi kesejahteraan bersama anak-anak bangsa.

Andrabells dan Syahnail mengendarai sepeda motor yang sama: Kawasaki Versys X250. Bobot motor tersebut sekitar 170 kilogram. Untuk turing ini, sang motor dilengkapi dengan top box dan side box sebagai wadah penyimpan peralatan yang dibutuhkan selama perjalanan. Otomatis bobot sang motor membengkak menjadi 250 kilogram.

Mengendarai motor dengan bobot 250 kilogram, tentulah bukan hal mudah. Apalagi harus melalui jalanan Sumatera yang penuh dengan tikungan, tanjakan, serta turunan silih berganti. Ditambah lagi dengan rute yang panjang sejauh 7.000 kilometer. Tak bisa diingkari, semua itu membutuhkan skill berkendara di atas rata-rata. Juga, stamina yang terlatih, tentunya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...
Lihat Konten Wisata Selengkapnya
Lihat Wisata Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x
LAPORKAN KONTEN
Alasan