Mohon tunggu...
Isson Khairul
Isson Khairul Mohon Tunggu... Jurnalis - Journalist | Video Journalist | Content Creator | Content Research | Corporate Communication | Media Monitoring

Kanal #Reportase #Feature #Opini saya: http://www.kompasiana.com/issonkhairul dan https://www.kompasiana.com/issonkhairul4358 Kanal #Fiksi #Puisi #Cerpen saya: http://www.kompasiana.com/issonkhairul-fiction Profil Profesional saya: https://id.linkedin.com/pub/isson-khairul/6b/288/3b1 Social Media saya: https://www.facebook.com/issonkhairul, https://twitter.com/issonisson, Instagram isson_khairul Silakan kontak saya di: dailyquest.data@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Vox Pop Artikel Utama

Penunggak Sewa Rusun: Bom Waktu Jakarta

12 September 2017   13:23 Diperbarui: 16 September 2017   15:45 3478
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Mereka melihat daftar sambil menghitung hari. Mungkin hari ini, mungkin besok, mungkin pula lusa. Segalanya menjadi tanda tanya. Hidup memang tidak mudah. Menjadi korban gusuran, lebih tidak mudah. Membayar sewa rusun, jauh lebih tidak mudah. Tapi, tangan besi penguasa, dengan mudah menggusur dan mengusir mereka. Foto: dicapture isson khairul dari lama cnn.com, pada senin (11/09/2017).

Kami ditempatkan di rusun, bukan mencari rusun. Itu kata penghuni rusun Jatinegara. Mereka mengaku dirugikan: digusur tapi tidak diganti rugi. Dan, mereka akan melawan, jika diusir Pemprov Jakarta.

Pesan mereka, jelas. Sikap mereka, tegas. Rusun Jatinegara, satu dari 23 rusun di Jakarta. Tunggakan penghuni mencapai Rp 31,7 miliar untuk 9.522 unit. Yang menunggak: 6.514 korban gusuran dan 3.008 warga umum. Jumlah tunggakan mereka terus melonjak, bergerak layaknya argometer. Akan bagaimana jadinya? Apakah setelah digusur, kemudian mereka diusir? Saya teringat nyanyian Iwan Fals[i]

Jakarta oh Jakarta
Kau tampar siapa saja saudaraku yang lemah 
Manjakan mereka yang hidup dalam kemewahan

Perlahan tapi pasti, para penunggak sewa rusun tersebut akan menjadi bom waktu bagi Jakarta. Mereka sudah digusur dengan tangan besi, akankah mereka juga diusir dari rusun dengan tangan besi? Waktu terus berjalan. Inilah potret orang-orang yang lemah, yang selalu kalah oleh beragam kebijakan. Dalam banyak hal, mereka tidak punya pilihan. Argumen penguasa, terlalu canggih bagi mereka. Jangankan untuk mendebat, memahami maksud penguasa pun, mereka tak kuasa.

Para penguasa hanya sekali tempo lemah-lembut: saat hendak berkuasa dan saat dahaga ingin berkuasa kembali. Setelah itu, mereka mati rasa. Kenapa? Karena, mereka tidak pernah mengaktifkan rasa, tapi selalu mengutak-atik angka. Mereka menghitung gubuk di pinggir kali, kemudian menggusur penghuni gubuk ke rusun. Telah berbuat baik? Sepintas, iya. Tapi, penguasa sesungguhnya sudah mencabut penghuni gubuk dari kehidupan ekonomi, yang telah puluhan tahun mereka jalani.

Gubuk mereka memang sudah berubah wujud menjadi sepetak hunian di rusun. Namun, mereka telah kehilangan aktivitas ekonomi, sumber kehidupan sehari-hari. Dengan pengetahuan yang terbatas serta ketersediaan modal yang sangat terbatas, tidak mudah bagi mereka untuk memulai usaha baru.

Kemampuan mereka beradaptasi, pastilah kalah jauh dibandingkan jajaran penguasa, yang telah menggenggam banyak ijazah dan sertifikat. Apakah penguasa bisa merasakan apa yang mereka rasakan? Di mata penguasa, mereka hanya tinggal angka: angka penghuni, angka penunggak. Saya teringat sajak Goenawan Mohamad[ii]

Orang ini tak berkartu.
Ia tak bernama.
Ia tak berpartai.
Ia tak bertandagambar.
Ia tak ada yang menangisi, karena kita tak bisa menangisi.

Ibu ini belum lama melahirkan. Ketika gubuknya digusur, anaknya masih dalam masa menyusui. Dan, di tengah porak-porandanya gusuran, sang ibu menunaikan kewajibannya: menyusui. Di bawah terik matahari, di antara debu yang beterbangan, juga di antara tangis dan air mata. Foto: kompas.com
Ibu ini belum lama melahirkan. Ketika gubuknya digusur, anaknya masih dalam masa menyusui. Dan, di tengah porak-porandanya gusuran, sang ibu menunaikan kewajibannya: menyusui. Di bawah terik matahari, di antara debu yang beterbangan, juga di antara tangis dan air mata. Foto: kompas.com
Benarkah kita tidak bisa menangisi? Di siang yang garang, tangan besi merobohkan gubuk mereka. Semua hancur, porak-poranda. Keringat dan tetes darah mereka, punah dalam sekejap.

Ada amarah tapi tak berdaya. Peluh dan air mata menyatu, bergulir entah ke mana. Teriakan dan perintah, sudah tidak ada bedanya. Mereka yang berseragam, dengan bengis melaksanakan tugas. Ini bukan kemauan mereka. Ini bukan kehendak mereka. Yang mereka lakukan hanya tugas, sesuai perintah sang penguasa.

Inikah sesungguhnya perintah penguasa? Yang dengan bengis membasmi orang-orang miskin di pinggir kali, kemudian mencemplungkan mereka ke sepetak ruang di rusun tanpa daya secara ekonomi, lantas mengusir mereka karena tidak mampu bayar sewa? Ayo, pentaskan kembali orkestra di Balai Kota. Rayakan kemenangan, karena penguasa sudah sukses memiskinkan orang-orang miskin, menjadi lebih miskin. Benarkah kita tidak bisa menangisi? Saya teringat terjemahan lagu Bob Dylan[iii]

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Vox Pop Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun