Isson Khairul
Isson Khairul research l media monitoring l content writing l public relation

Kanal #Reportase #Feature #Opini saya: http://www.kompasiana.com/issonkhairul Kanal #Fiksi #Puisi #Cerpen saya: http://www.kompasiana.com/issonkhairul-fiction Profil Profesional saya: https://id.linkedin.com/pub/isson-khairul/6b/288/3b1 Social Media saya: https://plus.google.com/+issonkhairul/posts dan https://twitter.com/issonisson Silakan kontak saya di: dailyquest.data@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Jakarta Artikel Utama

Penunggak Sewa Rusun: Bom Waktu Jakarta

12 September 2017   13:23 Diperbarui: 12 September 2017   20:25 3052 1 0
Penunggak Sewa Rusun: Bom Waktu Jakarta
Mereka melihat daftar sambil menghitung hari. Mungkin hari ini, mungkin besok, mungkin pula lusa. Segalanya menjadi tanda tanya. Hidup memang tidak mudah. Menjadi korban gusuran, lebih tidak mudah. Membayar sewa rusun, jauh lebih tidak mudah. Tapi, tangan besi penguasa, dengan mudah menggusur dan mengusir mereka. Foto: dicapture isson khairul dari lama cnn.com, pada senin (11/09/2017).

Kami ditempatkan di rusun, bukan mencari rusun. Itu kata penghuni rusun Jatinegara. Mereka mengaku dirugikan: digusur tapi tidak diganti rugi. Dan, mereka akan melawan, jika diusir Pemprov Jakarta.

Pesan mereka, jelas. Sikap mereka, tegas. Rusun Jatinegara, satu dari 23 rusun di Jakarta. Tunggakan penghuni mencapai Rp 31,7 miliar untuk 9.522 unit. Yang menunggak: 6.514 korban gusuran dan 3.008 warga umum. Jumlah tunggakan mereka terus melonjak, bergerak layaknya argometer. Akan bagaimana jadinya? Apakah setelah digusur, kemudian mereka diusir? Saya teringat nyanyian Iwan Fals[i]

Jakarta oh Jakarta
Kau tampar siapa saja saudaraku yang lemah 
Manjakan mereka yang hidup dalam kemewahan

Perlahan tapi pasti, para penunggak sewa rusun tersebut akan menjadi bom waktu bagi Jakarta. Mereka sudah digusur dengan tangan besi, akankah mereka juga diusir dari rusun dengan tangan besi? Waktu terus berjalan. Inilah potret orang-orang yang lemah, yang selalu kalah oleh beragam kebijakan. Dalam banyak hal, mereka tidak punya pilihan. Argumen penguasa, terlalu canggih bagi mereka. Jangankan untuk mendebat, memahami maksud penguasa pun, mereka tak kuasa.

Para penguasa hanya sekali tempo lemah-lembut: saat hendak berkuasa dan saat dahaga ingin berkuasa kembali. Setelah itu, mereka mati rasa. Kenapa? Karena, mereka tidak pernah mengaktifkan rasa, tapi selalu mengutak-atik angka. Mereka menghitung gubuk di pinggir kali, kemudian menggusur penghuni gubuk ke rusun. Telah berbuat baik? Sepintas, iya. Tapi, penguasa sesungguhnya sudah mencabut penghuni gubuk dari kehidupan ekonomi, yang telah puluhan tahun mereka jalani.

Gubuk mereka memang sudah berubah wujud menjadi sepetak hunian di rusun. Namun, mereka telah kehilangan aktivitas ekonomi, sumber kehidupan sehari-hari. Dengan pengetahuan yang terbatas serta ketersediaan modal yang sangat terbatas, tidak mudah bagi mereka untuk memulai usaha baru.

Kemampuan mereka beradaptasi, pastilah kalah jauh dibandingkan jajaran penguasa, yang telah menggenggam banyak ijazah dan sertifikat. Apakah penguasa bisa merasakan apa yang mereka rasakan? Di mata penguasa, mereka hanya tinggal angka: angka penghuni, angka penunggak. Saya teringat sajak Goenawan Mohamad[ii]

Orang ini tak berkartu.
Ia tak bernama.
Ia tak berpartai.
Ia tak bertandagambar.
Ia tak ada yang menangisi, karena kita tak bisa menangisi.

Ibu ini belum lama melahirkan. Ketika gubuknya digusur, anaknya masih dalam masa menyusui. Dan, di tengah porak-porandanya gusuran, sang ibu menunaikan kewajibannya: menyusui. Di bawah terik matahari, di antara debu yang beterbangan, juga di antara tangis dan air mata. Foto: kompas.com
Ibu ini belum lama melahirkan. Ketika gubuknya digusur, anaknya masih dalam masa menyusui. Dan, di tengah porak-porandanya gusuran, sang ibu menunaikan kewajibannya: menyusui. Di bawah terik matahari, di antara debu yang beterbangan, juga di antara tangis dan air mata. Foto: kompas.com
Benarkah kita tidak bisa menangisi? Di siang yang garang, tangan besi merobohkan gubuk mereka. Semua hancur, porak-poranda. Keringat dan tetes darah mereka, punah dalam sekejap.

Ada amarah tapi tak berdaya. Peluh dan air mata menyatu, bergulir entah ke mana. Teriakan dan perintah, sudah tidak ada bedanya. Mereka yang berseragam, dengan bengis melaksanakan tugas. Ini bukan kemauan mereka. Ini bukan kehendak mereka. Yang mereka lakukan hanya tugas, sesuai perintah sang penguasa.

Inikah sesungguhnya perintah penguasa? Yang dengan bengis membasmi orang-orang miskin di pinggir kali, kemudian mencemplungkan mereka ke sepetak ruang di rusun tanpa daya secara ekonomi, lantas mengusir mereka karena tidak mampu bayar sewa? Ayo, pentaskan kembali orkestra di Balai Kota. Rayakan kemenangan, karena penguasa sudah sukses memiskinkan orang-orang miskin, menjadi lebih miskin. Benarkah kita tidak bisa menangisi? Saya teringat terjemahan lagu Bob Dylan[iii]

berapa pasang telinga
yang dibutuhkan seorang penguasa
sampai ia sanggup mendengar tangisan warganya

Telinga? Masih adakah gunanya? Ada beragam puja-puji yang mengalun tiap saat. Ada orkestra yang seakan mengukuhkan keberagaman. Semua itu melenakan, membawa angan melayang ke langit. Seakan kekuasaan kan abadi. Seakan jabatan kan dipangku sampai mati. Sementara, di bekas gusuran, orang-orang terhempas meratapi nasib. Ratapan mereka tenggelam oleh beragam puja-puji. Tangisan mereka tak terdengar, diterkam gemuruhnya orkestra.

Mereka yang berpunya, berkoar tentang salah dan benar, sembari menikmati orkestra. Mereka yang berkelebihan, berteriak lantang tentang hukum dan undang-undang. Bagi mereka yang haus kekuasaan, alangkah mudah memutarbalikkan semua itu. Yang salah, jadi benar dan yang benar, jadi salah. Kekuasaan selalu punya mekanisme untuk melakukan rekayasa, demi membenarkan segala kebijakan, seakan-akan telah menolong orang miskin. Saya teringat sajak WS Rendra[iv]

Kekayaan melimpah.
Kemiskinan melimpah.
Darah melimpah.
Ludah menyembur dan melimpah.
Waktu melanda dan melimpah.
Lalu muncullah banjir suara.

Mereka orang-orang yang kalah dan selalu kalah. Digusur, kemudian akan diusir, dalam kemiskinan. Ayo, pentaskan kembali orkestra di Balai Kota. Rayakan kemenangan, karena penguasa sudah sukses memiskinkan orang-orang miskin, menjadi lebih miskin. Foto: nu.or.id
Mereka orang-orang yang kalah dan selalu kalah. Digusur, kemudian akan diusir, dalam kemiskinan. Ayo, pentaskan kembali orkestra di Balai Kota. Rayakan kemenangan, karena penguasa sudah sukses memiskinkan orang-orang miskin, menjadi lebih miskin. Foto: nu.or.id
Angka kemiskinan diutak-atik. Parameter diputar-balik. Untuk apa? Untuk menunjukkan kepada publik, bahwa penguasa sudah sukses menekan angka kemiskinan? Publik tidak perlu ditunjukkan dan diyakinkan, karena publik sudah merasakan, betapa hidup semakin sulit. Apakah penguasa tahu, bagaimana 6.514 korban gusuran yang menunggak itu mencari makan untuk hidup? Apakah penguasa mau tahu? Pernahkah penguasa melakukan pengkajian serta penelitian tentang hal itu?

Itulah yang harus dilakukan, jauh sebelum melakukan penggusuran dengan bengis. Penguasa sudah seharusnya mengeksekusi kebijakan secara komprehensif: pra-eksekusi, eksekusi, dan pasca-eksekusi. Kenapa? Karena, yang digusur bukan hanya gubuk, tapi ada ribuan nyawa di sana. Ada anak-anak, ibu-ibu, bapak-bapak, dan orang-orang tua. Mereka bukan bangsa lain, tapi bangsa kita. Negeri ini tumpah darah mereka. Sistem ekonomi-politik yang berpihak kepada capital, telah membuat mereka menjadi miskin.

Benarkah kita tidak bisa menangisi? Ke-6.514 korban gusuran yang menunggak itu, memandang ke luar jendela. Mereka melihat, lahan gusuran sudah dipermak penguasa menjadi gemerlap. Ada beragam hiburan di sana. Orang-orang berpunya, orang-orang berkelebihan, menikmati kegemerlapan tersebut. Ada area parkir untuk sepeda motor dan mobil. Mereka sungguh menikmatinya. Para pemuja, tidak ada hentinya memuja-memuja penguasa, dengan share dan like di sana-sini. Inikah yang disebut pembangunan? Pembangunan untuk siapa? Untuk mereka yang berpunya dan berkelebihan?

Ke-6.514 korban gusuran yang menunggak itu, menangis. Mereka menangisi nasib, di sepetak ruang di rumah susun. Segalanya menjadi tanda tanya. Bagaimana caranya membayar sewa? Apa hari ini bisa makan? Entahlah. Barangkali, sebentar lagi, mereka sudah tidak di sana. Tangan-tangan besi nampaknya sudah bersiap mengusir mereka. Di kejauhan, saya mendengar jeritan Iwan Fals[v], seakan mewakili jeritan para korban gusuran itu:

Penguasa ... penguasa
berilah hambamu uang
Beri hamba uang    
Beri hamba uang    

isson khairul --dailyquest.data@gmail.com

Jakarta, 12 September 2017

--------------

[i] Ini petikan dari lagu Kontrasmu Bisu yang ada dalam album Ethiopia, yang diluncurkan Iwan Fals pada tahun 1986. Hampir seluruh lagu dalam album ini diciptakan oleh Iwan Fals, kecuali lagu Kontrasmu Bisu dan Lonteku, dikerjakan Iwan Fals bersama Anto Baret.

[ii] Ini petikan dari sajak Goenawan Mohamad Tentang Seorang yang Terbunuh di Sekitar Hari Pemilihan Umum. Sajak ini ditulis tahun 1971, dimasukkan dalam buku Interlude: Sekumpulan Sajak. Kumpulan sajak ini memuat 16 sajak dalam 33 halaman. Buku tersebut diterbitkan oleh Yayasan Indonesia Jakarta, pada November 1973.

[iii] Ini petikan dari terjemahan bebas lagu Bob Dylan Blowin' In The Wind. Musikus ini mendapat hadiah Nobel Sastra 2016. Dia menerima medali nobel tersebut di sela jadwal konsernya di Kota Stockholm, Swedia, pada 1-2 April 2017.

[iv] Ini petikan dari sajak WS. Rendra Sajak Kenalan Lamamu. Sajak ini ditulis di Yogyakarta, 21 Juni 1977, dan terhimpun dalam buku Potret Pembangunan dalam Puisi.

[v] Ini petikan dari lagu Pesawat Tempur dari album 1910. Dibaca: sembilan belas-sepuluh. Album ini dirilis Iwan Fals pada tahun 1988. Judul album 1910 ini merupakan 19 Oktober 1987, mengacu pada peristiwa Tragedi Bintaro, tragedi perkeretaapian Indonesia.