Mohon tunggu...
Isson Khairul
Isson Khairul Mohon Tunggu... Jurnalis - research | media monitoring | content creator | video journalist | corporate communication

Kanal #Reportase #Feature #Opini saya: http://www.kompasiana.com/issonkhairul dan https://wm.ucweb.com/dashboard/article Kanal #Fiksi #Puisi #Cerpen saya: http://www.kompasiana.com/issonkhairul-fiction Profil Profesional saya: https://id.linkedin.com/pub/isson-khairul/6b/288/3b1 Social Media saya: https://www.facebook.com/issonkhairul dan https://plus.google.com/+issonkhairul/posts serta https://twitter.com/issonisson Silakan kontak saya di: dailyquest.data@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi

Inspirasi dari Komunitas Pensiunan, Jalan Rintisan untuk Berwirausaha

13 Juni 2015   19:03 Diperbarui: 17 Juni 2015   06:04 807 1 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun

Subandi Purwo Widodo, 63 tahun, pensiunan dari Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD) Pemerintah Kabupaten Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Ia berbagi spirit wirausaha tentang budidaya jamur yang sudah ia tekuni sejak pensiun tahun 2008, kepada 40 orang anggota komunitas purnabakti yang merupakan nasabah Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN) di Kulonprogo, pada Selasa (9/6/2015). Foto: kompas.com dan suaramerdeka.com

Oleh: isson khairul (id.linkedin.com/pub/isson-khairul/6b/288/3b1/ - dailyquest.data@gmail.com)

Hari Gerakan Kewirausahaan Nasional (GKN) diperingati tiap tanggal 16 Juni. Hingga kini, jumlah pengusaha di Indonesia, baru sekitar 1,65 persen dari jumlah penduduk. Kita jauh tertinggal di bawah Singapura, dengan rasio pengusaha 7 persen dari penduduknya. Inspirasi dari Komunitas Pensiunan ini, barangkali bisa jadi penggerak semangat untuk berwirausaha.

Salah satu rumus yang dianut para pengusaha adalah tidak kenal kata menyerah. Jatuh-bangun di dunia usaha, sesungguhnya hal biasa. Yang penting, tidak menyerah dan terus berusaha. Spirit pengusaha itulah yang ada dalam diri Subandi Purwo Widodo. Bahkan, setelah pensiun sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) tahun 2008, ia menggelorakan spirit wirausaha tersebut. Kini, usaha budidaya jamurnya, dengan brand Julira, sudah menuai sukses. Dan, memasuki usia 63 tahun, ia menggelorakan spirit wirausaha tersebut, kepada para pensiunan.

Para Pekerja Pasti akan Pensiun  

Anda mungkin masih bekerja, sebagai profesional di institusi yang kini menaungi. Suatu hari, Anda pasti akan pensiun. Baik karena usia yang sudah lanjut, karena dipensiunkan perusahaan secara dini melalui mekanisme Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), maupun memilih pensiun sejak dini karena hendak berdikari. Apa yang akan Anda lakukan kelak setelah pensiun?

Langkah yang ditempuh Subandi Purwo Widodo ini mungkin bisa dijadikan inspirasi. Ia menjalani masa kerjanya sebagai PNS sampai selesai. Semasa aktif bekerja, ia mencoba berbagai bentuk usaha, dengan memanfaatkan waktu luang yang ada. Ini langkah yang aman, karena kalaupun usaha yang dilakukan mengalami kerugian, toh penghasilannya sebagai PNS tetap ada.

Langkah coba-coba berusaha dan tahap uji coba berwirausaha adalah bagian dari proses menjadi wirausaha. Bila kita baca dengan sungguh-sungguh sejumlah buku tentang dunia usaha, kita akan paham bahwa tak ada yang sekali jadi. Semua butuh proses, tahap demi tahap. Tiap orang melalui proses yang unik dalam berusaha, meski menekuni kategori usaha yang sama.

Banyak faktor yang memengaruhi keunikan tersebut. Lingkungan sosial, tujuan berusaha, ketersediaan modal, skill yang dimiliki, dan kondisi yang tengah dihadapi, hanyalah beberapa faktor dari banyak faktor yang lain. Subandi Purwo Widodo, misalnya, meski sudah mencoba berusaha di banyak bidang, akhirnya memilih usaha jamur untuk ditekuni setelah pensiun.

Pilihan tersebut ia tetapkan setelah mencermati tugas kuliah sang anak, Handoko, tentang kewirausahaan. "Waktu itu, yang saya lihat prospektif, ya jamur. Sebab, dibandingkan dengan budidaya lele, misalnya, bidang itu sudah sangat banyak yang menekuni. Pemasarannya pun menurut saya lumayan susah," kata Subandi kepada wartawan yang berkunjung ke rumah produksinya, di Kulonprogo, Yogyakarta, pada Selasa (9/6/2015).

Infografik dari Dicky dari Kompas ini menunjukkan kepada kita, betapa beragamnya alasan yang mendorong seseorang untuk berwirausaha. Hal yang menggembirakan, yang kita lihat dari Infografik tersebut adalah alasan yang paling menonjol yaitu memperluas lapangan kerja. Ini sebuah penegasan bahwa dunia wirausaha turut berperan dalam menyerap tenaga kerja serta mengurangi angka pengangguran yang ada. Foto: print.kompas.com

Bekerja Menciptakan Lapangan Kerja

Bila dikorelasikan dengan apa yang tengah dijalani Subandi Purwo Widodo, kita menemukan jawaban kongkritnya. Setelah bekerja puluhan tahun, kemudian pensiun sebagai PNS, Subandi tidak menambah angka pengangguran. Dulu pegawai negeri, kemudian menjadi wirausahawan. Ia tetap tercatat sebagai pekerja aktif dengan usaha jamurnya. Bahkan, sebagai pensiunan PNS, Subandi telah turut mengurangi beban pemerintah, dalam hal menciptakan lapangan kerja.

Melalui usaha budidaya jamurnya, dengan brand Julira, Subandi telah menciptakan lapangan kerja untuk 10 orang yang kini menjadi karyawannya. Ini tentulah sebuah capaian yang mengesankan, yang mestinya dicermati oleh berbagai pihak, dalam konteks memberdayakan potensi yang dimiliki kalangan pensiunan. Baik pensiunan PNS maupun pensiunan swasta. Dari sisi skill, pengalaman kerja, dan network, para pensiunan tentulah telah memilikinya.

Tahun 2015 ini, ada sekitar 100 ribu PNS yang memasuki masa pensiun. Jumlah itu sudah mengacu pada kebijakan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN-RB) yang memberlakukan perpanjangan batas usia PNS, pada jabatan administratif, dari 56 tahun menjadi 58 tahun. Kebijakan tersebut berlaku per 1 Febuari 2014, berdasarkan Surat Kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN) tanggal 17 Januari 2014 yang berisi petunjuk teknis untuk perpanjangan Batas Usia Pensiun bagi PNS.

Dari sekitar 100 ribu pensiunan PNS, ada berapa banyak yang akan mengikuti jejak Subandi Purwo Widodo untuk berwirausaha? Barangkali, ini pertanyaan sebagian dari kita. Andai saja ada 1.000 pensiunan yang mengikuti jejak Subandi, dengan berwirausaha di berbagai bidang yang mereka minati, kemudian masing-masing bisa menyerap 10 orang tenaga kerja, maka ada 10.000 lapangan kerja baru terbuka di negeri ini. Tentu jumlah lapangan kerja baru tersebut akan berkali-lipat, jika digabungkan dengan pensiunan dari kalangan swasta dan pensiunan dari berbagai angkatan bersenjata serta kepolisian.

Artinya, gerakan wirausaha yang dilakukan individu-individu pensiunan tersebut, akan sangat berarti bagi pengurangan angka pengangguran di negeri ini. Menteri Ketenagakerjaan, M. Hanif Dhakiri, mengatakan, tingkat pengangguran terbuka menunjukkan kenaikan. Hal itu ia katakan saat peresmian Padat Karya Pembangunan Jembatan Gantung Berbasis Sumberdaya Lokal di Desa Slukatan, Kecamatan Mojotengah, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, pada Kamis (15/1/2015).

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, jumlah pengangguran di tanah air memang terus bertambah. Bahkan, bulan Februari 2015, menjadi puncak angka pengangguran tertinggi di Indonesia, sejak Agustus 2012. Pada bulan Agustus 2012, jumlah pengangguran tercatat 7,24 juta orang, sementara pada bulan Februari 2015, jumlah pengangguran bertambah menjadi 7,45 juta orang.

Subandi menunjukkan jamur yang dikembangkannya di baglog miliknya. Subandi adalah salah seorang nasabah PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk (BTPN), yang mengikuti program Daya Tumbuh Usaha. Ternyata, tak butuh modal terlalu banyak untuk memulai usaha budidaya jamur, hanya sekitar Rp 1 juta. Menurut Subandi, usaha jamur ini cocok sekali untuk para pensiunan, karena tidak butuh tenaga banyak. Ora perlu macul neng panasan. Foto: koran-sindo.com

Realistis Memilih Bidang Usaha

Dari Subandi Purwo Widodo, kita bisa belajar, bagaimana bersikap realistis dalam memilih bidang usaha. Ia menyadari bahwa budidaya lele, sedang digandrungi banyak orang. Ia juga paham bahwa memasarkan lele, lumayan susah, meski di berbagai penjuru kota bertebaran pedagang pecel lele. Sebagai pensiunan, Subandi secara realistis mengukur tingkat risiko yang hendak ia jangkau. Karena itulah, ia memilih budidaya jamur.

Ada tiga jenis jamur yang ia budidayakan: jamur kuping, jamur lingsi, dan jamur tiram. Selain itu, Subandi juga melayani olahan jamur, sesuai pesanan. Meski demikian, dalam realitasnya, sebagian besar kapasitas produksi Julira adalah memproduksi baglog, yakni media tanam jamur. Saat ini, setiap bulan Julira bisa memproduksi hingga 9.000 baglog jamur, dengan harga jual Rp 2.000 untuk jamur tiram, Rp 2.100 untuk jamur kuping, dan Rp 2.500 untuk jamur lingzhi.

Dengan kata lain, Subandi menunjukkan kepada kita, bagaimana hendaknya bersikap sebelum masuk ke dunia usaha, khususnya di bidang budidaya jamur. Ia lebih banyak memproduksi baglog, media tanam jamur, yang dibutuhkan para pembudidaya jamur. Ini artinya, Subandi melihat ada minat yang cukup besar di kalangan masyarakat untuk melakukan budidaya jamur, dan ia menyambutnya dengan memproduksi lebih banyak baglog.

Realistis memilih bidang usaha dan responsif terhadap permintaan pasar, itulah yang digarisbawahi Subandi kepada kita. Atas kesungguhannya melakoni budidaya jamur ini, Subandi dijadikan mentor untuk memberikan pelatihan budidaya jamur kepada sekitar 40 orang pensiunan, yang merupakan komunitas purnabakti nasabah Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN). Regional Governance Head BTPN Purna Bakti wilayah Jawa Tengah, Hari Suseno, mengatakan, BTPN menyakini, keterlibatan langsung dalam memberdayakan nasabah merupakan kunci pertumbuhan kinerja bisnis yang berkelanjutan. Ini pulalah yang diyakini Subandi Purwo Widodo dalam memberdayakan pembudidaya jamur yang jadi pelanggannya.

Jakarta, 13 Juni 2015

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ekonomi Selengkapnya
Lihat Ekonomi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan