Mohon tunggu...
Zulkarnain El Madury
Zulkarnain El Madury Mohon Tunggu... Penulis - Lahir di Madura pada tahun 1963,
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Seorang pemburu kebenaran yang tak pernah puas hanya dengan " katanya". Adalah Da'i Pimpinan Pusat Muhammadiyah peeriode 1990 sd 2007, selanjutnya sebagai sekjen koepas (Komite pembela ahlul bait dan sahabat) hingga 2018, sebagai Majelis Tabligh/Tarjih PC. Muhammadiyah Pondok Gede, Sebagai Bidang Dakwah KNAP 2016 -219 . Da'i Muhammadiyah di Seluruh Tanah air dan negeri Jiran ..pernah aktif di PII (Pelajar Islam Indonesia), Tinggal dijakarta

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Konsep Teologi Muhammadiyah Vs Teologi Mu'tazilah

2 Mei 2020   19:51 Diperbarui: 2 Mei 2020   19:51 1657
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Filsafat. Sumber ilustrasi: PEXELS/Wirestock

2.Al-'Adlu

Menurut Mu'tazilah, manusia memiliki kebebasan dalam segala perbuatan dan tindakannya. Disebabkan kebebasan itulah manusia harus mempertanggungjawabkan segala perbuatannya. Jika perbuatan baik, maka Tuhan akan memberi kebaikan dan jika perbuatannya buruk maka Tuhan akan memberikan hukuman. Inilah yang disebut dengan keadilan oleh Mu'tazilah. Mereka juga menyatakan bahwa wajib bagi Allah untuk bersikap adil.

Menurut Mu'tazilah, Tuhan menguasai kebaikan dan tidak menghendaki keburukan. Manusia bebas berbuat karena kebebasan itu adalah pemberian Tuhan kepada manusia. Namun demikian, Mu'tazilah tidak mengakui bahwa manusia memiliki qudrat dan iradat, tetapi qudrat dan iradat itu hanyalah pinjaman belaka.

Al-Nazzam menyatakan bahwa Tuhan tidak berkuasa berbuat dhalim, karena perbuatan dhalim hanya timbul dari yang mempunyai cacat, dan Tuhan tidak mempunyai cacat. Dari Tuhan hanya timbul perbuatan-perbuatan baik. Menurut Al-Nazzam, Tuhan berkuasa berbuat dhalim, tetapi mustahil Tuhan bersifat dhalim, karena hal tersebut akan membawa kepada kurang sempurnanya sifat Tuhan.

3.Al-Wa'du dan Al Wa'id (janji dan ancaman)

Prinsip janji dan ancaman Allah yang dipegang oleh Mu'tazilah adalah untuk membuktikan keadilan Tuhan sehingga setiap manusia dapat merasakan balasan dari Tuhan terhadap segala perbuatannya. Menurut Mu'tazilah, orang mukmin yang berdosa besar lalu mati dan tidak sempat bertaubat maka ia tidak akan mendapat ampunan dari Allah. Di akhirat tidak ada syafa'at, sebab syafa'at bertentangan dengan Al-Wa'du dan Al-Wa'id. Tuhan akan membalas kebaikan manusia dan menjatuhkan siksa terhadap kejahatan yang dilakukan oleh manusia.

4.Al Manzilah bainal Manzilatain

Yang dimaksud dengan tempat di antara dua tempat oleh kaum Mu'tazilah adalah tempat bagi orang fasiq, yaitu orang mukmin yang melakukan dosa besar tetapi tidak musyrik, maka mereka akan ditempatkan di suatu tempat antara surga dan neraka. Orang fasiq ini tidak akan keluar dari neraka yang agak dingin dan tidak pula masuk ke dalam surga yang penuh kenikmatan.

5.Amar Ma'ruf Nahi Munkar

Menurut Mu'tazilah, orang yang menyalahi pendirian mereka dianggap sesat dan harus dibenarkan dan diluruskan. Oleh karena itu Mu'tazilah tidak segan-segan membunuh siapa saja yang bertentangan dengan paham mereka, seperti yang terjadi pada peristiwa Quran Makhluk. Mu'tazilah juga membolehkan melakukan pemberontakan terhadap pemimpin yang melakukan maksiat.

Kesimpulan

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Filsafat Selengkapnya
Lihat Filsafat Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun