Mohon tunggu...
Irwan Sutisna
Irwan Sutisna Mohon Tunggu...

Economic Statistician | Badan Pusat Statistik | Universite Paris 1 Sorbonne | Contact Me : irwan@bps.go.id

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi Artikel Utama

PDB Hijau untuk Mengukur Kinerja Ekonomi Berkelanjutan

12 November 2017   23:48 Diperbarui: 13 November 2017   11:22 4527 5 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
PDB Hijau untuk Mengukur Kinerja Ekonomi Berkelanjutan
Pelabuhan, salah satu pusat perekonomian di Barcelona Spanyol (dok. pribadi)

Menurut laporan PwC (Februari 2017), pada tahun 2050 diproyeksikan negara berkembang seperti China, India, Indonesia dan Brazil akan mendominasi 5 besar perekonomian terbesar dunia (dilihat dari nilai Pendapatan Domestik Bruto atau PDB). Satu-satunya negara maju saat ini yang diperkirakan akan masuk ke dalam 5 besar hanya Amerika Serikat, yaitu di posisi ke-3, disusul Indonesia dan Brazil.

Secara Total, pertumbuhan PDB dunia dari tahun 2016 sampai dengan 2050 diperkirakan akan tumbuh lebih dari 2 kali lipat yaitu sebesar 130%. Dominasi China terhadap  perekonomian dunia belum tergeser justru akan tumbuh menjadi 20%. Adapun India berhasil melesat 2 kali lipat menjadi 15%. Sedangkan kontribusi Indonesia terhadap perekonomian dunia bergerak cepat dari yang awalnya hanya 2.6 % menjadi 3.7 %.

Pesatnya pertumbuhan PDB negara-negara berkembang diperkirakanakan melampaui pertumbuhan negara-negara maju secara rata-rata. Selain dikarenakan jumlah penduduknya yang besar, pertumbuhan PDB-nya juga disebabkan karena negara-negara tersebut merupakan negara industri baru yang sedang mengalami pertumbuhan pesat  terutama di sektor Industri dan jasa.

China sendiri hampir setengah dari perekonomiannya ditunjang oleh sektor Industri (46,8 % pada tahun 2013, Wikipedia). Begitu pula dengan India, Sektor Industri merupakan sektor yang sangat penting dan telah menyumbang sekitar 30% dari nilai PDB-nya. Sedangkan di Indonesia, berdasarkan data BPS, pada tahun 2016 sektor Industri menyumbang PDB sebesar 20,51%.

Perumbuhan Ekonomi dan Dampak Lingkungan

Pesatnya pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang ini sayangnya tidak hanya berdampak pada meningkatnya pendapatan rata-rata masyarakat tapi juga memberikan dampak buruk bagi lingkungan. Hal ini dikarenakan pengelolaan industri di negara-negara berkembang belum secara penuh menerapkan prinsip-prinsip yang menjamin pertumbuhan secara berkesinambungan (Sustainable Development). Sehingga dampak buruk dari aktivitas ekonomi terutama di Sektor Industri lebih banyak terjadi dibandingkan negara maju.

Pada tahun 1997 World Bank pernah mengeluarkan laporan tentang polusi industri di China yang menyatakan bahwa "Telah terjadi ratusan dari ribuan kelahiran di China merupakan kelahiran pematur dan banyaknya kejadian penyakit pernafasan akibat paparan polusi industri". Selain itu para ahli lingkungan di China juga mengatakan bahwa 300.000 orang meninggal karena kanker paru-paru dan jantung serta diperkirakan bahwa akan terjadi kematian bayi prematur sebanyak 550.000 pada tahun 2020 jika polusi udara ini dibiarkan (Wikipedia).

Begitu juga dengan India, buruknya kualitas lingkungan di negara ini menyebabkan negara ini berada pada posisi 174 dari 178 negara untuk indeks kinerja lingkungan (Environmental Performance Index). Selain itu jumlah orang yang meninggal karena Asma di India merupakan yang paling banyak di dunia. World bank mengungkapkan bahwa degradasi lingkungan di India menyebabkan kerugian sebesar USD 80 milyar setiap tahunnya dan merupakan salah satu penyebab utama kematian bayi.

Setali tiga uang, di Indonesia polusi Industri telah mengakibatkan semakin buruknya kondisi kesehatan masyarakat. Polusi udara akibat limah pabrik seperti Gas Rumah Kaca dan partikulat debu berukuran kurang dari 10 mikrometer (PM-10) telah menyebabkan meningkatnya perevelensi masyarakat terserang berbagai penyakit seperti asma, bronchitis, ISPA, kanker paru-paru dan lain sebagainya.

Pada tahun 2009, saya (penulis) pernah meneliti dampak dari pencemaran PM-10 yang merupakan polusi sektor industri terhadap kesehatan masyarakat di Jakarta. Hasilnya kerugian yang diderita akibat paparan PM-10 hampir satu triliun rupiah. Nilai ini divaluasi dari biaya kesehatan yang dikeluarkan dan penghasilan yang hilang akibat tidak bekerja karena sakit.

Tidak hanya udara, sektor industri juga berampak pada semakin meningkatnya pencemaran air dan tanah. Berdasarkan laporan Green Cross Switzerland, Sungai Citarum yang menyediakan 80% dari air permukaan Jakarta dan mensuplai 5% air dari pertanian padi di Indonesia, ternyata merupakan sungai terpolusi di dunia.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN