Mohon tunggu...
Irwan Rinaldi Sikumbang
Irwan Rinaldi Sikumbang Mohon Tunggu... Freelancer

menulis untuk menikmati kehidupan

Selanjutnya

Tutup

Kisah Untuk Ramadan Artikel Utama

Puasa Jadi Kambing Hitam, Betulkah Kita Bangsa Pemalas?

1 Mei 2021   00:01 Diperbarui: 4 Mei 2021   11:40 2941 97 17 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Puasa Jadi Kambing Hitam, Betulkah Kita Bangsa Pemalas?
Ilustrasi malas saat bekerja. Sumber: Freepik/Racool_Studio via KOMPAS.COM

Entah betul atau tidak, konon bangsa Indonesia lebih pemalas dibandingkan bangsa lain. Saya pakai kata "konon", karena memang tidak didukung oleh bukti penelitian ilmiah.

Tapi, jika dibandingkan dengan cara orang-orang di negara maju bekerja sehari-hari, terutama dari segi kedisiplinan dan produktivitas, saya bisa memahami bila warga Indonesia belum sedisiplin dan seproduktif itu.

Selain itu, dari hasil pengamatan saya secara sekilas, baik di tempat saya bekerja maupun di tempat lain, kebanyakan di antara kita (termasuk saya juga), pintar mencari alasan untuk membenarkan perilaku kurang berdisiplin.

Sebagai contoh, sudah tahu kalau kota Jakarta itu sehari-harinya macet, tetap saja alasan kemacetan lalu lintas sering digunakan ketika seseorang terlambat sampai di tempat kerjanya. Padahal, bukannya kalau sudah tahu macet, harus disiasati, misalnya dengan berangkat jauh lebih awal.

Apalagi sekarang ini, dalam suasana bulan suci Ramadan, sangat gampang para pegawai ngacir ke musala atau ke ruang lain yang kosong. Bukan untuk beribadah, tapi untuk tidur. Maka, puasa pun sering jadi kambing hitam.

Maksudnya, dengan berpuasa seolah-olah boleh saja para karyawan diam-diam mencuri waktu untuk tidur. Jangan-jangan, pada dasarnya karyawan yang tidur itu memang pemalas.

Saya pernah berdiskusi dengan seorang konsultan asing yang bekerja untuk Booz Allen Hamilton (BAH). Ketika itu, sekitar 1992-1993, BAH dipakai untuk menangani suatu proyek di kantor tempat saya bekerja.

Kata si konsultan, para pegawai di Indonesia itu jam kerja efektifnya sangat sedikit, jauh di bawah jam kerja yang tercatat dalam kartu absensinya di kantor. 

Begitu sampai di kantor, para pegawai butuh waktu ke belakang merapikan penampilan yang lecet setelah menempuh perjalanan yang macet (bayangkan kondisi di Jabodetabek).

Lalu setelah itu banyak karyawan yang ke pantry meminta office boy (OB) membuat mi rebus atau meminta OB keluar kantor membelikan bubur ayam atau jenis makanan lain yang lazim untuk sarapan.

Ngobrol sambil sarapan antar karyawan menjadi hal yang lazim, hingga akhirnya dari waktu bekerja yang harusnya dimulai pukul 07.30, baru betul-betul memegang pekerjaan sekitar pukul 08.30.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN