Mohon tunggu...
Irwan Rinaldi Sikumbang
Irwan Rinaldi Sikumbang Mohon Tunggu... Freelancer

menulis untuk menikmati kehidupan

Selanjutnya

Tutup

Karir Artikel Utama

Nasib Dosen Tidak Tetap yang "Ngamen" di Beberapa PTS

14 Oktober 2020   00:08 Diperbarui: 15 Oktober 2020   06:42 1596 78 25 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Nasib Dosen Tidak Tetap yang "Ngamen" di Beberapa PTS
dok. sevima.com

Secara umur, saya tergolong dosen yang sudah berusia tua, saat mengambil kesempatan untuk mengajar mata kuliah Akuntansi di sebuah Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi yang dikelola oleh sebuah yayasan yang ada hubungan tidak langsung dengan sebuah lembaga pelatihan bagi karyawan bank.

Namun, dari sisi jam terbang, saya tergolong junior, apalagi status saya adalah dosen tidak tetap. Memang, pekerjaan utama saya bukan dosen, hanya sebagai upaya untuk mencari kesibukan seiring dengan datangnya masa pensiun dari sebuah perusahaan milik negara.

Maka tolong jangan tanyakan apa keuntungan yang saya peroleh secara finansial dari kegiatan mengajar itu, karena bukan itu motif utama saya.

Mengajar adalah cara saya untuk belajar kembali, karena buku teks yang dipakai saat ini sudah banyak mengalami perubahan ketimbang yang saya pelajari lebih dari 30 tahun lalu.

Di samping itu, dengan pengalaman saya mempraktikkan akuntansi secara nyata di tempat saya bekerja, menurut saya perlu dibagikan kepada mahasiswa, agar mereka tidak hanya memahami sisi teoritis semata.

Apalagi kalau melihat soal-soal untuk latihan, jika mengandalkan buku teks, hanya memakai kasus-kasus di Amerika Serikat yang tidak semua relevan dengan kondisi Indonesia.

Mata kuliah yang saya pegang bernilai 3 satuan kredit semester (SKS). Pada semester yang lalu, saya kebagian jadwal setiap Rabu pagi, dari pukul 08.00 hingga 10.30 (1 SKS berdurasi 50 menit).

Kalau tidak keliru, setiap SKS-nya dihargai Rp 75.000. Lalu ada uang transportasi Rp 50.000 per hari kedatangan. Atas honor yang diterima langsung dipotong pajak sebesar 5 persen.

Setiap bulan, rata-rata saya menerima honor sekitar Rp 1 juta. Namun saya juga mengeluarkan uang pribadi untuk ongkos taksi Rp 100.000 setiap kali datang. Kalau dihitung-hitung, saya menerima bersih sebesar Rp 600.000 per bulan. 

Jangan dikira saya bekerja di Rabu pagi saja. Karena saya harus membaca buku, membuat soal latihan, membuat slide presentasi, membuat soal ujian, memeriksa lembar jawaban mahasiswa, dan juga memberi nilai. Ada juga tetek bengek lainnya yang bersifat laporan administrasi rencana perkuliahan dan pelaksanaannya.

Jelaslah, bila hanya berburu uangnya, menurut saya belum worth it. Apalagi saya beberapa kali mengajar di pusdiklat sebuah perusahaan dengan audiens para karyawan, honornya beberapa kali lipat dari yang saya terima sebagai dosen tidak tetap.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x