Mohon tunggu...
Irwan Rinaldi Sikumbang
Irwan Rinaldi Sikumbang Mohon Tunggu... Freelancer

menulis untuk menikmati kehidupan

Selanjutnya

Tutup

Bisnis Pilihan

Investor Asing Sengaja Ingin Menghancurkan BRI?

18 Mei 2020   10:10 Diperbarui: 18 Mei 2020   11:58 5440 67 14 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Investor Asing Sengaja Ingin Menghancurkan BRI?
dok. Antara Foto

Agak provokatif pesan yang saya terima dari seorang teman melalui grup WhatsApp (WA) yang beranggotakan para pekerja dari sebuah bank milik negara. Pesan tersebut berupa link ke channel Youtube yang dibawakan seorang pengamat pasar saham. Judul videonya yang saya anggap provokatif; Profit Luar Biasa, Kenapa BBRI Dihancurkan Asing?

Setelah saya simak, ternyata isinya tidak seseram judulnya. O ya BBRI adalah kode saham Bank Rakyat Indonesia yang diperjualbelikan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Pengertian "dihancurkan" di sini bukan membuat BRI sebagai sebuah perusahaan menjadi hancur berkeping-keping, namun membuat harga sahamnya anjlok tajam. 

Dari pengamatan saya sekilas, bukan BRI saja yang harga sahamnya terjun bebas, tapi juga banyak perusahaan lainnya. Untuk perbankan misalnya, bank lain sesama penghuni papan atas jajaran bank-bank nasional, yakni Bank Mandiri, Bank Central Asia (BCA) dan Bank Negara Indonesia (BNI), juga mengalami hal yang sama. 

Namun tulisan ini terfokus membahas BRI, bank yang terkenal sebagai jagoan dalam penyaluran kredit mikro bagi para pedagang kecil, petani, nelayan, dan masyarakat kelas menengah ke bawah lainnya. Bank ini punya keunggulan karena jaringan kantornya terbanyak dan tersebar di seluruh penjuru tanah air. Boleh dikatakan di setiap kecamatan, ada kantor BRI.

Kenapa pihak asing disebut menghancurkan BBRI? Itu karena selama ini investor asinglah yang sangat dominan dalam  menentukan pergerakan harga saham  BBRI. Dari seluruh saham BRI yang beredar di BEI, 81,7 persen di antaranya (per akhir Februari 2020 lalu) adalah milik asing. Jelaslah, yang paling banyak punya saham, sehingga dapat disebut sebagai bandar karena mampu menggerakkan harga, ya pihak asing itu.

Jangan keliru dengan pendapat umum bahwa harga saham terbentuk terutama sebagai respon dari berita di media massa. Ada berita bagus, harga saham akan naik, dan sebaliknya kalau berita jelek. Secara umum boleh dibilang begitu, tapi tidak sesederhana itu. 

Karena porsi kepemilikan asing versus lokal demikian timpang pada BBRI, mereka yang memiliki paling banyaklah yang menjadi penentu harga. Jika investor asing serentak melakukan aksi jual, rontoklah harga saham. Nanti kalau mereka kembali berburu BBRI, harga kembali terkerek naik.

Sebagai bank milik negara, memang saham BRI secara mayoritas, sekitar 55 persen, masih dimiliki oleh pemerintah. Tapi ini bukan saham yang diperdagangkan di BEI dan tidak bisa apa-apa untuk mempengaruhi harga saham.

Maka kondisi dunia yang dihantam pandemi Covid-19 betul-betul mimpi buruk bagi perdagangan saham di banyak negara, tidak hanya Indonesia. Sepanjang tahun ini sampai posisi tanggal 15 Mei 2020, BBRI telah tergerus lebih dari 50 persen. Sempat menyentuh harga tertinggi di awal Januari lalu  di harga Rp 4.700-an per lembar, sekarang hanya dihargai jadi Rp 2.240.

Padahal pihak manajemen BRI baru saja mempublikasikan kinerja keuangannya selama triwulan pertama tahun ini, dengan keberhasilan mencetak laba Rp 8,16 triliun. Ini jumlah yang sama besarnya dengan  kondisi triwulan pertama 2019 lalu. Perlu dicacat, BRI adalah bank dengan predikat sebagai pencetak laba terbesar di antara perbankan nasional sejak 12 tahun terakhir.

Masalahnya, publikasi yang dilakukan manajemen BRI, Kamis (14/5/2020) itu, sama sekali tidak mampu mengangkat harga BBRI. Malahan pada perdagangan saham besoknya (15/5/2020), BBRI semakin nyungsep. Artinya, kemungkinan besar di mata investor asing, meskipun BRI sampai triwulan 1 tahun ini kinerjanya belum terpengaruh dampak kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB), tapi prospek ke depannya akan memburuk.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x