Mohon tunggu...
Irwan Rinaldi Sikumbang
Irwan Rinaldi Sikumbang Mohon Tunggu... Freelancer

menulis untuk menikmati kehidupan

Selanjutnya

Tutup

Finansial Pilihan

Direksi BCA Beli Saham BBCA, Apa Kaitannya dengan Demo 22 Mei 2019?

24 Mei 2019   18:36 Diperbarui: 24 Mei 2019   20:24 0 22 1 Mohon Tunggu...
Direksi BCA Beli Saham BBCA, Apa Kaitannya dengan Demo 22 Mei 2019?
dok. bca.co.id

Dapat tantiem miliaran rupiah, suatu jumlah yang amat sangat besar bagi sebagian besar masyarakat, ternyata merupakan rutinitas tahunan bagi pengurus (direksi dan komisaris) bank-bank papan atas. 

Tantiem adalah istilah yang dilekatkan untuk bonus tahunan yang diterima para direksi dan komisaris perusahaan, dengan rumus sekian persen dari laba perusahaan pada tahun sebelumnya, yang diputuskan pada Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST).

Tak heran kalau para direktur tersebut mampu membeli rumah di daerah paling elit di Jakarta, katakanlah seperti di Menteng, Kebayoran Baru, atau Pondok Indah. 

Namun baru-baru ini, para direktur Bank Central Asia (BCA) seperti yang diberitakan beberapa media, punya pilihan tersendiri dalam membelanjakan uang tantiem yang baru mereka terima. 

Dilansir dari bisnis.com (21/5/2019), sejumlah direktur BCA melakukan pembelian saham bank yang mereka pimpin dengan kode emiten BBCA pada tanggal 13 sampai 16 Mei 2019. Total pembeliannya adalah Rp 11,42 miliar.

Ada tujuh orang direktur BCA yang melakukan pembelian pada rentang waktu empat hari tersebut dengan harga saham yang berbeda-beda, dari yang termurah saat berharga Rp 27.400 per lembar sampai yang termahal pada harga Rp 28.115 per lembar.

Dalam regulasi di bursa saham memang ada prinsip keterbukaan informasi yang tak bisa dihindari, sehingga bila orang-orang kunci dari suatu perusahaan publik seperti direksi dan komisaris membeli atau menjual saham perusahaan yang dikelolanya, harus diungkapkan ke publik, agar tidak dianggap sebagai insider trading.

Tentu saja dengan pembelian oleh direksinya sendiri, dapat dibaca sebagai betapa kuatnya kepercayaan dari "orang dalam" terhadap prospek BCA di masa depan. Hal sebaliknya bisa dipersepsikan publik bila mengetahui ada "orang dalam" yang menjual saham perusahaan yang dikelolanya.

Namun, mengingat pembelian tersebut dilakukan menjelang tanggal 22 Mei, di mana beberapa hari sebelumnya telah berhembus berita akan ada aksi masa di Jakarta, maka transaksi tersebut bisa juga bernilai politis.

Ingat, saat krisis moneter tahun 1998, BCA yang waktu itu mayoritas sahamnya masih dimiliki kelompok Salim, sempat "terhuyung" sehingga dikuasai oleh Badan Penyehatan Perbankan Nasional, dalam arti diambil alih oleh pemerintah sampai sehat kembali. Sekarang saham mayoritas BCA dimiliki oleh Grup Djarum.

Jadi dengan pembelian itu, direksi BCA seolah-olah ingin memberikan ketenangan pada pasar, jangan khawatir dengan BCA meski ada aksi masa. Tapi apa boleh buat, setelah itu harga saham banyak perusahan yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada jeblok, bukan karena soal politik dalam negeri, tapi karena dampak perang dagang Amerika Serikat - China.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2