Mohon tunggu...
Irwan Rinaldi Sikumbang
Irwan Rinaldi Sikumbang Mohon Tunggu... Freelancer

menulis untuk menikmati kehidupan

Selanjutnya

Tutup

Transportasi Artikel Utama

Kereta Bandara Sulit Bersaing, Mungkinkah Tarifnya Diturunkan?

6 Januari 2019   15:27 Diperbarui: 6 Januari 2019   18:00 0 22 12 Mohon Tunggu...
Kereta Bandara Sulit Bersaing, Mungkinkah Tarifnya Diturunkan?
Stasiun Bandara Soetta (dok pribadi)

Akhirnya saya dapat kesempatan juga untuk menjajal kereta api dari Bandara Soekarno Hatta (BSH). Memang setelah saya tidak lagi bekerja full time seperti sebelum dua tahun lalu, amat jarang saya mendapat penugasan ke luar daerah, artinya saya tidak sering lagi naik pesawat. 

Sepi (dok pribadi)
Sepi (dok pribadi)
Namun, Alhamdulillah sesekali saya masih punya kesempatan untuk naik kendaran yang oleh orang kampung saya dinamakan kapal terbang (dalam bahasa Minang: kapa tabang) itu. Biasanya ini berkaitan dengan acara yang bersifat kekeluargaan yang harus saya hadiri.

Sebagai contoh, akhir Desember lalu, saudara sepupu saya menikahkan anak perempuannya di Batam, Kepulauan Riau. Maka saya pun berada di kota tersebut selama tiga hari dua malam, 28 - 30 Desember 2018.

View dari kereta (dok pribadi)
View dari kereta (dok pribadi)
Saat kembali dari Batam, begitu pesawat yang saya tumpangi mendarat mulus di Terminal 3 BSH, langsung terpikir akan menjajal kereta bandara. Soalnya hitung-hitungan saya, karena hanya berangkat sendiri dengan barang yang relatif sedikit, semua termuat dalam ransel di punggung saya, maka inilah saat yang tepat merasakan nyamannya kereta yang belum lama menghubungkan BSH dengan Stasiun BNI City (SBC) di Dukuh Atas, Jakarta Pusat.

Sekiranya saya bepergian dengan keluarga, misalnya dengan istri dan anak bungsu saya yang sudah remaja, maka akan lebih efisien langsung naik taksi dari rumah saya di Tebet, Jakarta Selatan, ke BSH atau sebaliknya.

View dari jendela kereta (dok pribadi)
View dari jendela kereta (dok pribadi)
Tahu sendiri kan, kalau ibu-ibu bepergian (eh maaf ya para ibu-ibu), bawaannya cenderung banyak, meski hanya untuk 2 atau 3 malam saja. Jadi kalau berpindah moda angkutan dengan memindahkan barang, agak merepotkan. Soalnya untuk ke SBC dari rumah saya atau sebaliknya, tetap perlu taksi. 

Maka kenapa tidak sekalian saja taksi dari rumah ke bandara yang argonya berkisar Rp 150.000? Kalau ke SBC dulu, argo taksi dari Tebet sekitar Rp 40.000 sampai Rp 50.000. Lalu, nah ini yang memberatkan, tarif kereta SBC ke BSH Rp 70.000 per orang. Untuk bertiga perlu merogoh kocek Rp 210.000. Sangat boros ketimbang taksi, bukan?

Stasiun Kalayang terminal 3 (dok pribadi)
Stasiun Kalayang terminal 3 (dok pribadi)
Menurut analisis saya yang sederhana, kereta bandara hanya akan menjadi pilihan bagi orang yang penasaran karena belum pernah mencicipi, yang bepergian sendiri atau maksimal berdua dan bertempat tinggal dekat SBC. 

Kereta juga jadi satu-satunya pilihan bila akses jalan raya ke bandara terhalang karena kejadian luar biasa, seperti banjir besar atau tabrakan beruntun yang melibatkan truk atau bus berbadan besar yang butuh waktu lama untuk memindahkannya. 

Inipun dengan catatan informasi tersebut sudah didapat calon penumpang saat masih bersiap-siap ke bandara dari rumah atau dari titik keberangkatannya. Misalnya sudah terlanjur naik taksi atau bus, kemudian terjebak tidak bisa bergerak di tengah jalan, biasanya entah dari mana, tiba-tiba ojek motor bermunculan menawarkan jasanya.

Tampilan kereta bandara dari luar (dok pribadi)
Tampilan kereta bandara dari luar (dok pribadi)
Dalam kondisi normal-normal saja (macet pun sepanjang masih padat merayap, di Jakarta dianggap normal), maka orang seperti saya hanya mempertimbangkan naik bus atau taksi. Saya yakin banyak warga ibukota yang juga berpikiran seperti itu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x