Irwan Rinaldi Sikumbang
Irwan Rinaldi Sikumbang freelance

menulis untuk menikmati kehidupan

Selanjutnya

Tutup

Bisnis Artikel Utama

Bencana Alam dan Manajemen Kelangsungan Usaha

10 Oktober 2018   10:10 Diperbarui: 11 Oktober 2018   10:51 2305 9 3
Bencana Alam dan Manajemen Kelangsungan Usaha
Dok. datamanager.it

Setelah sekitar 10 hari kantor-kantor pemerintah di Palu dan kota lain yang terkena bencana gempa bumi dan tsunami tidak berfungsi, Senin kemaren (8/10) pelayanan di berbagai instansi pemerintah sudah dibuka lagi, meski dalam kondisi serba darurat.

Ya, bagaimanapun juga, masyarakat yang membutuhkan berbagai surat izin, surat keterangan, atau urusan administrasi lainnya, harus tetap terlayani dengan baik, meskipun aparat yang melayani mungkin masih berduka kehilangan orang yang dicintainya atau mungkin juga kehilangan rumah dan kendaraan yang dimilikinya.

Jauh sebelumnya, tim penanggulangan bencana, baik dari level pusat, maupun level provinsi, telah melakukan tugasnya dengan baik yang berkaitan dengan pencarian korban, penampungan di area pengungsian, memberikan pengobatan, menyalurkan bantuan, dan sebagainya.

Dalam standar operasional di perusahaan, dikenal apa yang disebut dengan Business Continuity Management atau yang diterjemahkan sebagai Manajemen Kelangsungan Usaha (MKU). Tentu MKU versi kantor-kantor pemerintah, mungkin dengan nama yang berbeda, juga ada dan telah diterapkan.

Tapi tulisan ini lebih menekankan dari sisi kelangsungan bisnis buat suatu perusahaan yang mendadak terhenti beroperasi karena bencana, dan dalam waktu singkat bisa melakukan recovery.

Ketika bencana muncul, termasuk yang baru terjadi di Palu dan sekitarnya, kendala paling sering mengemuka dari masyarakat setempat adalah matinya listrik dan jaringan telepon. Nah hal ini jelas domain-nya  perusahaan milik negara, PLN dan Telkom. Khusus untuk jaringan telepon dan internet, beberapa perusahaan swasta juga punya usaha di bidang itu.

Untunglah kedua perusahaan milik negara tersebut sudah berpengalaman dalam MKU. Dengan berbagai cara, esoknya secara bertahap operasi pemulihan telah dimulai. 

Airnav, perusahaan milik negara yang mengelola menara pemandu lalu lintas pesawat, menyediakan menara bergerak karena gedung menaranya ambruk. Dengan begitu, pesawat Hercules dan pesawat lain yang memberikan bantuan, bisa dipandu mendarat di Bandara Palu.

Bank-bank milik negara juga sudah punya standar bagaimana melayani nasabah dalam kondisi darurat. Contohnya dengan membuka layanan mobil keliling, mendirikan tenda khusus, atau mengalihkan nasabah di kantor yang ambruk ke kantor lain terdekat yang tidak terdampak.

Dalam kondisi bencana, perusahaan tidak selayaknya menghitung untung rugi, karena memenuhi pelayanan pada konsumen adalah nomor satu. Justru di situlah jargon pelayanan prima yang sering didengungkan perusahaan, mendapat ujian yang sesungguhnya.

Memang kalau dihitung-hitung, biaya MKU itu besar, di atas jumlah yang biasa dikeluarkan di saat normal. Tapi citra baik perusahaan yang tertanam di benak masyarakat adalah hal yang tidak ternilai.

Padahal perusahaan tersebut sangat mungkin menderita kerugian besar dari gedungnya yang ambruk, pegawainya yang meninggal, dan sebagainya. Sebagian mungkin saja mendapat penggantian dari asuransi.

Perusahaan milik negara, lazimnya mendapat tenaga bantuan dari kantor pusatnya di Jakarta atau dari cabang lain terdekat. Bahkan sudah ada prosedur tetapnya bagaimana membangun tim asistensi yang langsung aktif ketika terjadi bencana.

Perusahaan swasta yang bagus, juga sudah punya MKU atau sejenis itu. Dulu, sewaktu tsunami melanda Aceh tahun 2004, koran Serambi Indonesia, yang masih termasuk grup Kompas, hanya terhenti beberapa hari saja. 

Setelah itu dengan sisa wartawan yang selamat, dan terbit dengan peralatan seadanya dari Lhokseumawe yang tidak separah Banda Aceh dalam terdampak bencana, koran itu kembali hadir menyapa pembacanya yang pasti haus informasi.

Pedagang individual juga tahu bahwa ia mesti berdagang lagi, membeli barang sebisanya lalu menjual di tempat yang memungkinkan. Yang biasa membuka warung makanan, harus berjualan lagi. Demikian juga penjual sayur dan kebutuhan sehari-hari lainnya.

Pembelinya yang dari pelanggan lama justru mungkin berkurang karena sebagian eksodus ke kota lain. Tapi akan muncul pelanggan baru yang  berasal dari kelompok relawan, wartawan, dan sebagainya.

Tentu soal dana untuk berdagang kembali jadi problem tersendiri. Namun dengan semangat gotong royong, biasanya ada saja sanak famili di kota lain yang bersedia memberikan dana atau pinjaman.

Jadi, meskipun kita tidak pernah berharap terjadi bencana, namun bila itu tidak bisa dielakkan, kita harus segera bangkit, dengan cara apapun dan dalam kondisi bagaimanapun. Jangan terlalu lama larut dalam kesedihan.

The show must go on.