Irwan Rinaldi Sikumbang
Irwan Rinaldi Sikumbang freelance

menulis untuk menikmati kehidupan

Selanjutnya

Tutup

Musik

Pak Ngah, Pencipta Lagu Melayu Legendaris, Meninggal Dunia

8 Oktober 2018   14:20 Diperbarui: 8 Oktober 2018   14:34 269 5 1
Pak Ngah, Pencipta Lagu Melayu Legendaris, Meninggal Dunia
dok. twitter.com

Lagu-lagunya pasti akrab di telinga penggemar musik Melayu di kawasan Asia Tenggara. Siapa yang tak suka lagu Cindai yang dibawakan oleh penyanyi dari negara jiran, Siti Nurhaliza, atau Laksamana Raja di Laut yang dibawakan oleh penyanyi asal Riau, Iyeth Bustami.

Ya, meskipun lagu tersebut sudah sangat dikenal publik, namun tak banyak orang Indonesia yang tahu siapa penciptanya. Adalah komposer Malaysia, Suhaimi Mohd Zain, atau lebih dikenal dengan Pak Ngah, yang menciptakan lagu tersebut. 

Jelas di Malaysia, kiprah Pak Ngah sering diberitakan media setempat. Sedangkan di Indonesia, Pak Ngah baru muncul setelah ada acara tahunan "Dangdut Academy Asia" (DA Asia) sejak tiga tahun lalu, yang disiarkan salah satu televisi swasta nasional. Pada DA Asia tersebut, Pak Ngah adalah salah seorang juri.

Dulu, nama Pak Ngah sempat pula ramai diberitakan media Indonesia sekitar tahun 2005 terkait saling klaim atas siapa sebenarnya pencipta lagu Laksamana Raja di Laut. Soalnya pada album penyanyi Iyeth Bustami, lagu tersebut diberi keterangan NN alias no name atau anonim. Iyeth beranggapan lagu tersebut sebagai lagu rakyat yang ada sejak zaman baheula.

Lalu muncul gugatan dari Nurham Yahya, seperti diberitakan kapanlagi.com (16/2/2005), yang mengklaim sebagai penciptanya dan meminta Iyeth membayar kompensasi senilai Rp 3 miliar.

Untungnya, saat Iyeth lagi manggung di Brunei, setelah ia membawakan lagu Laksamana Raja di Laut, ada seseorang yang memberi tahu bahwa penciptanya ada di sini (maksudnya ikut menonton konser Iyeth). Maka Iyeth pun berkenalan dengan Pak Ngah, yang awalnya membuat lagu itu pada tahun 1993 tapi berjudul "Nostalgia Idul Fitri". 

Lagu tersebut ternyata amat populer di Bengkalis, Riau, kampung Iyeth Bustami. Oleh masyarakat Riau liriknya diganti dan diberi judul Laksamana Raja di Laut. Pak Ngah akhirnya mengizinkan Iyeth sebagai penyanyi resmi yang mempopulerkan lagu itu di Indonesia.

Nah, berita terbaru tentang Pak Ngah adalah berupa kabar duka. Pak Ngah telah menghembuskan nafas terakhirnya di Batam, Kepulauan Riau, Selasa 25 September yang lalu, diduga akibat serangan jantung. 

Saat meninggal dunia, Pak Ngah telah berada di Kepulauan Riau selama 3 hari untuk keperluan keluarga. Jenazah almarhum pada hari itu juga dibawa ke Malaysia untuk dimakamkan di Kuala Lumpur.

Kepergian Pak Ngah tentu membuat penikmat musik berirama Melayu di negara-negara serumpun (Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Brunei) merasa kehilangan. Jasa almarhum untuk membangkitkan kejayaan musik Melayu pantas diapresiasi.

Apalagi kalau kita melihat perkembangan di Indonesia, lagu-lagu Melayu yang di sampai era 1960-an merajai blantika musik tanah air, antara lain ditandai oleh lagu-lagu ciptaan Said Effendi (Fatwa Pujangga, Timang-timang, Bahtera Laju), Ismail Marzuki (Di Ambang Sore), dan Husein Bawafie (Seroja), setelah itu tergilas oleh sempalan musik Melayu, yang kemudian dikenal sebagai musik dangdut.

Namun, barangkali terinspirasi oleh lagu-lagu legendaris ciptaan Pak Ngah, di Indonesia telah muncul generasi baru pencipta lagu berirama Melayu, seperti Adibal Sahrul yang telah menciptakan lagu yang mendayu-dayu seperti Muara Kasih Bunda dan Cintai Aku Karena Allah.

Sebentar lagi acara DA Asia yang ke 4 kali akan digelar, semacam ajang pencarian bakat penyanyi dangdut lintas negara, yakni dari Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Brunei, dan Timor Leste. Tapi tentu tidak bakal ada lagi Pak Ngah. 

Selamat jalan Pak Ngah. Para pewarismu siap melanjutkan tugas mengibarkan bendera musik Melayu di negara-negara serumpun.