Irwan Rinaldi Sikumbang
Irwan Rinaldi Sikumbang freelance

menulis untuk menikmati kehidupan

Selanjutnya

Tutup

Travel Artikel Utama

Menyusuri Agung Rai Museum of Art yang Lebih dari Sekadar Museum

9 Agustus 2018   11:15 Diperbarui: 10 Agustus 2018   16:45 509 10 7
Menyusuri Agung Rai Museum of Art yang Lebih dari Sekadar Museum
Taman di halaman museum (Dok pribadi)

Ubud adalah salah satu kota kecil di Bali yang terkenal antara lain karena mempunyai beberapa museum lukisan. Jangan bayangkan museum di sana seperti di banyak daerah lain di Indoensia, yang museumnya sepi dari pengunjung, meskipun digratiskan, kecuali bila ada rombongan anak sekolah yang diwajibkan berkunjung oleh gurunya. 

Nah, museum di Ubud, kondisinya jauh berbeda, karena termasuk banyak diminati wisatawan, baik lokal maupun mancanegara. Padahal rata-rata untuk masuk sebuah museum di Ubud, pengunjung harus merogoh kocek yang tidak murah.
Di antara sekian buah museum di Ubud, yang terbesar dan sekaligus favorit bagi wisatawan adalah Agung Rai Museum of Art (ARMA). Museum yang terletak di Pengosekan, Ubud, Kabupaten Gianyar, ini memiliki area yang amat luas, dan tarif masuknya Rp 100.000 per orang.

Namun pada lembaran tiket masuk tertulis kalimat bahwa uang dari pengunjung akan digunakan untuk program pemeliharaan seni dan budaya oleh Yayasan ARMA. Jadi, anggap saja sebagai sumbangan bagi pelestarian kesenian dan kebudayaan, yang akan sangat bermanfaat bagi generasi mendatang.

Salah satu gerbang masuk (dok pribadi)
Salah satu gerbang masuk (dok pribadi)
Museum ARMA mulai dibuka untuk umum sejak 9 Juni 1996, sebagai wujud kecintaan pemiliknya, Agung Rai, pada seni dan Budaya Bali. Pria yang sekarang berumur 63 tahun ini saat remaja hidupnya termasuk susah dan untuk mendapatkan uang ia menjadi pedagang asongan di kampungnya, Peliatan, Ubud. 

Berikutnya ia menjadi pemandu wisata dan sekaligus mencoba menawarkan lukisan hasil karya para pelukis di Ubud kepada para turis yang dipandunya. Dari sinilah Agung belajar tentang seluk beluk lukisan serta memahami selera turis terhadap lukisan.

Lukisan sawah (Dok pribadi)
Lukisan sawah (Dok pribadi)
Sedikit demi sedikit Agung Rai berhasil mengumpulkan duit. Mula-mula ia merenovasi tiga kamar di rumahnya menjadi homestay agar turis bisa menginap di Ubud, tidak perlu balik ke Kuta yang jauh di selatan. Saat itu tahun 1973, belum ada hotel di Ubud.

Kemudian di tahun 1978 ia mendirikan Agung Rai Fine Art Gallery  yang sampai sekarang masih ada di Peliatan, Ubud. Tapi mimpi besar Agung adalah membangun suatu tempat yang tidak saja sebagai tempat memamerkan atau menjual lukisan, tapi juga menjadi tempat pengunjung untuk menikmati berbagai hal berkaitan dengan budaya dan kesenian Bali. 

Tempat belajar bagi yang ingin mendalami kesenian Bali, sekaligus juga tempat memanjakan mata dengan pemandangan alam yang menawan berupa area persawahan trasering (bertingkat), sungai, kolam ikan, taman bunga serta pepohonannya.

Petunjuk arah di museum (Dok pribadi)
Petunjuk arah di museum (Dok pribadi)
Maka mimpi besar itu akhirnya terwujud pada Museum ARMA. Di komplek  ini selain ada empat gedung untuk pameran lukisan, juga dilengkapi dengan panggung terbuka tempat pagelaran seni sekaligus tempat belajar menari, kantor, toko buku, hotel, beberapa unit villa, kafe, restoran, spa, kolam renang, dan sebagainya. Jadi kalau pengunjungi berkeliling museum dibutuhkan waktu berjam-jam.

Apalagi kalau semua lukisan yang dipamerkan dilihat satu per satu, bisa menghabiskan waktu seharian. Makanya pengunjung yang waktunya terbatas, hanya mengamati beberapa lukisan yang sesuai seleranya, sedangkan lukisan lain dilihat sambil lalu saja.

Tenggelamnya kapal Titanic (Dok pribadi)
Tenggelamnya kapal Titanic (Dok pribadi)
Museum ARMA sering dikunjungi para pejabat baik dalam maupun luar negeri. Mantan Presiden Amerika Serikat Barack Obama sempat mengunjungi museum ini pada Juni 2017 lalu, dan menjadi satu-satunya museum di Asia yang pernah dikunjunginya. Obama yang saat kecil pernah bersekolah di Jakarta, betah selama beberapa jam berkeliling museum, termasuk berjalan-jalan di pematang sawah.

Hebatnya, Obama datang diam-diam, tidak memberitahu terlebih dahulu ke pemilik museum, sehingga tidak ada acara penyambutan khusus. Agung Rai kaget ketika tiba-tiba di museumnya banyak personil keamanan, polisi dan tentara.

Seorang pengunjung menikmati lukisan (Dok pribadi)
Seorang pengunjung menikmati lukisan (Dok pribadi)
Boleh dikatakan semua aliran utama dalam seni lukis ada di museum ini. Beberapa nama besar diberi kapling khusus mulai dari karya pelukis tanah air legendaris Affandi, lukisan pelukis asal Bali yang terkenal seperti Nyoman Lempad, sampai pelukis asing seperti Walter Spies. Bahkan pelopor seni rupa modern Indonesia, Raden Saleh, juga punya kapling khusus di Museum ARMA.

Berwisata ke museum seperti ARMA memberi banyak manfaat, karena bernilai edukatif.

Kafe di komplek museum (Dok pribadi)
Kafe di komplek museum (Dok pribadi)