Mohon tunggu...
Dian S. Hendroyono
Dian S. Hendroyono Mohon Tunggu... Freelancer - Life is a turning wheel

Freelance Editor dan Penerjemah Kepustakaan Populer Gramedia | Eks Redaktur Tabloid BOLA | Eks Redaktur Pelaksana Tabloid Gaya Hidup Sehat | Eks Redaktur Pelaksana Majalah BOLAVAGANZA | Bekerja di Tabloid BOLA Juli 1995 hingga Tabloid BOLA berhenti terbit November 2018

Selanjutnya

Tutup

Healthy Pilihan

Berteman dengan Malaria

15 Juli 2021   22:25 Diperbarui: 15 Juli 2021   22:35 188
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Nyamuk Anopheles. (Sumber: The Public Health Image Library)

Ketika pertama kali terkena malaria, saya sedang ada di sekolah. Sejak pagi, saya memang sudah tidak enak badan. Saya diam saja. Badan saya tidak juga membaik. Malah makin parah menjelang siang. Akhirnya saya memberi tahu guru saya. Tanpa banyak cakap, Pak Guru lantas mendatangi ruang kepala sekolah untuk menelepon ibu saya yang ada di rumah.

Sekitar setengah jam kemudian, bapak saya datang menjemput. Pastinya dia sedang di kantor, tapi menyempatkan diri untuk membawa saya pulang.

Sepekan berikutnya adalah siksaan. Tentu saja, saya dibawa ke dokter. Rupanya, untuk Pak Dokter itu, malaria bukan lagi barang aneh di Irian. Saya mendapat beberapa jenis obat. Ada kina juga, tapi bentuknya beda.

Warnanya hijau, berbentuk bulat, ukurannya seperti tablet normal. Nama obat itu Malarex. Jangan tanya rasanya. Resochin pun kalah pahit. Saya harus minum itu, sepahit apa pun rasanya.

Lalu, ada obat lain. Yang pertama adalah Neuralgin. Obat itu sangat ampuh untuk menghilangkan semua linu pada sendi. Nyaman sekali rasanya setelah minum obat itu. Rasanya pahit juga.

Obat berikutnya bernama Fansidar. Walah, obat itu aneh sekali. Bisa jadi tugasnya adalah memancing agar yang meminumnya bisa muntah. Saya minum itu dan efeknya langsung terasa. Mual dan lantas muntah.

Saya jarang sekali minum obat itu ketika malaria hadir. Kapok. Muntah membuat badan saya lemas.

Setiap malam saya menggigil karena demam. Suhu badan saya tinggi sekali. Biasanya kalau sedang menggigil, insting berkata agar badan meringkuk. Namun, justru itu dilarang. Penderita malaria, menurut Pak Dokter, ketika sedang menggigil tidak boleh meringkuk saat tidur. Dikhawatirkan badan akan kram dan bakal repot urusannya. Karena itu, saya harus tidur telentang.

Satu lagi, ketika pagi menjelang hingga siang menjelang sore, badan saya terasa lebih enak. Saya bisa bangkit dari tempat tidur. Pusing tak terasa. Badan pun tak menggigil. Saya bisa tertawa-tawa. Akan tetapi, jangan tanya ketika malam tiba. Saya kembali demam hebat.

Bertahun kemudian, saya baca penderita malaria menggigil pada malam hari disebabkan Plasmodium membelah diri pada malam hari. Kok iseng banget. Bikin susah orang saja.

Malaria terus mendampingi saya jauh setelah saya meninggalkan Jayapura. SMA, kuliah. Malaria rajin datang. Apalagi pada masa-masa itu, pola makan saya kacau. Pas SMA, saya berusaha untuk menurunkan berat badan, tapi caranya ngawur. Saya menjarangkan diri untuk makan. Kebiasaan untuk tidak sarapan saya mulai di SMA dan terus menjadi kebiasaan hingga saat ini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Healthy Selengkapnya
Lihat Healthy Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun