Irmina Gultom
Irmina Gultom Apoteker

A Pharmacist who love reading, traveling, photography, movies and share them into a write | Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta | IG: https://www.instagram.com/irmina_gultom/ | https://marvelousthings250552759.wordpress.com/

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Artikel Utama

Alami Efek Samping Obat yang Tak Dikenali? Laporkan!

10 Oktober 2018   13:57 Diperbarui: 10 Oktober 2018   16:18 2842 8 3
Alami Efek Samping Obat yang Tak Dikenali? Laporkan!
Ilustrasi: yourgenome.org

Obat sejatinya adalah senyawa kimia yang memiliki dua sisi ibarat koin yakni bisa bermanfaat atau justru malah merugikan. Bermanfaat dalam arti memberikan efek yang diinginkan jika digunakan sesuai petunjuk, namun ketika digunakan sembarangan tentunya akan memberi efek yang berlawanan (tidak diinginkan).

Tapi jangan salah, efek yang tak diinginkan pun bisa muncul meski sudah menggunakan obat sesuai dengan petunjuk. Hal ini dikenal dengan Efek Samping Obat (ESO) atau Kejadian yang Tidak Diinginkan (KTD). KTD yang muncul bisa berupa gejala yang dapat diprediksi maupun tidak terprediksi dan bisa berupa KTD non-serius dan serius. 

Menurut Peraturan Kepala BPOM tahun 2011, disebut KTD serius apabila menyebabkan keadaan yang mengancam jiwa hingga kematian, pasien memerlukan perawatan di RS, perpanjangan waktu perawatan di RS, cacat tetap, kelainan kongenital (cacat bawaan) dan kejadian medis penting lainnya.

Ketika Anda membeli suatu produk obat, coba sesekali perhatikan brosur atau leaflet yang terdapat dalam dus obat tersebut. Idealnya dalam leaflet suatu produk obat baik yang berasal dari sintesis senyawa kimia maupun yang berasal dari ekstrak bagian tertentu tanaman obat, terdapat paling tidak empat poin yang berkaitan dengan informasi keamanan obat yakni:

Efek Samping (Adverse Effects/Adverse Reactions)
Merupakan suatu respon atau reaksi terhadap obat yang merugikan dan tidak diharapkan, dan terjadi pada dosis yang normal yang digunakan pada manusia untuk pencegahan, diagnosa, atau terapi; atau untuk mengubah fungsi fisiologis (WHO). Misalnya sakit kepala, pusing, mual, muntah, ruam, mengantuk, sembelit dan sebagainya.

Namun seperti yang sudah saya singgung tadi, KTD bisa berupa gejala atau reaksi yang sudah diprediksi maupun yang tidak terprediksi. Tentunya informasi KTD yang terprediksi akan tercantum dalam leaflet obat tersebut, dan sebaliknya.

Umumnya ESO sifatnya merugikan, tapi pada kondisi tertentu kadang ESO justru bersifat menguntungkan. Misalnya, obat batuk yang mengandung Chlorpeniramine Maleate (CTM) atau Dimenhydrinate dapat menyebabkan kantuk sehingga akan merugikan jika digunakan pada siang hari, namun membantu tertidur di malam hari.

Ilustrasi: pharmasastra.blogspot.com
Ilustrasi: pharmasastra.blogspot.com
Kontraindikasi (Contraindications)
Kebalikan dari Indikasi (fungsi obat), Kontraindikasi merupakan informasi yang berkaitan dengan situasi atau kondisi pasien yang tidak diperbolehkan mengkonsumsi obat tersebut. Misalnya obat yang mengandung bahan pemanis Aspartame tidak boleh dikonsumsi pasien yang menderita Fenilketonuria. Atau obat tersebut tidak boleh digunakan oleh pasien yang memiliki reaksi hipersensitivitas terhadap zat obat tersebut. Atau obat-obat golongan Antiinflamasi Non-Steroid (misalnya Sodium Diklofenak) yang memiliki efek samping iritasi lambung, tidak boleh diberikan pada pasien dengan riwayat tukak lambung.

Peringatan dan Perhatian (Warnings and Precautions)
Merupakan informasi berupa resiko-resiko yang mungkin muncul jika digunakan pada pasien dengan kondisi tertentu, misalnya pasien yang memiliki sakit jantung, disfungsi hati dan atau ginjal, ibu hamil dan menyusui, pasien lanjut usia (geriatri), bayi dan lainnya.

Interaksi Obat (Drug Interactions)
Merupakan informasi berupa "pantangan" makanan, minuman maupun obat lain yang tidak boleh digunakan bersamaan dengan obat tersebut. Misalnya konsumsi Bisacodyl (obat pencahar) tidak boleh dikonsumsi bersamaan dengan susu karena dapat mengurangi atau menghilangkan efek Bisacodyl. Konsumsi bersamaan obat kimia dengan obat tradisional juga sangat beresiko meningkatkan toksisitas (keracunan) dalam tubuh.

Lalu bagaimana jika seorang pasien mengalami KTD atau ESO yang tidak biasa atau bahkan tidak terprediksi (tidak tercantum dalam leaflet obat)?

Tentunya langkah pertama yang harus dilakukan pasien adalah melaporkan kejadian tersebut kepada dokter yang menangani pasien. Pun bila misalnya pasien mengkonsumsi obat yang diperoleh tanpa resep dokter, pasien hendaknya menghubungi dokter terdekat untuk mendapatkan penanganan pertama.

Sebagai langkah pertama investigasi, pasien biasanya akan ditanya tentang nama obat yang diduga menyebabkan reaksi KTD atau ESO, no bets produk tersebut, hingga obat atau makanan lain yang dikonsumsi sebelum atau pada saat bersamaan dengan konsumsi obat yang terduga.

Setelah pasien memperoleh penanganan pertama, dokter akan melaporkan KTD tersebut kepada pabrik yang memproduksi obat tersebut atau badan otoritas terkait (BPOM).

Pasien juga sebenarnya bisa saja menghubungi pabrik obat atau BPOM melalui kontak layanan publik (customer service). Tapi biasanya ini jarang terjadi karena tentunya pasien lebih mengutamakan penanganan pertama lebih dulu sehingga pihak pertama yang akan dihubungi biasanya adalah dokter. Apalagi jika KTD yang muncul sifatnya serius. Sistem pelaporan ini disebut juga dengan Pelaporan Spontan (Spontaneous Adverse Events Reporting).

Satu hal yang perlu digarisbawahi disini adalah, ketika suatu KTD muncul akibat suatu produk obat meskipun sudah digunakan sesuai petunjuk, bukan berarti serta merta kualitas obat tersebut buruk. 

Saya merasa perlu menekankan ini karena di zaman teknologi yang serba canggih saat ini, seseorang mudah sekali menyebarkan informasi yang belum tentu akurat (terutama jika diperoleh berdasarkan pengalaman pribadi) sehingga berpotensi membuat bingung masyarakat.

Munculnya suatu KTD bisa dipengaruhi beberapa faktor misalnya:

Interaksi dengan makanan, minuman maupun obat
Sama seperti yang sudah saya singgung di atas, suatu obat dapat berinteraksi dengan obat lain, makanan maupun minuman jika dikonsumsi bersamaan. 

Jika pasien memperoleh memperoleh obat dari dokter atau apoteker, seharusnya mereka diberitahu apa-apa saja yang tidak boleh dikonsumsi bersamaan dengan obat. Tapi kadang pasien yang membeli obat bebas (tanpa resep dokter), juga malas membaca leaflet obat. Tidak menutup kemungkinan ada dari mereka yang minum obat bersamaan dengan teh atau kopi, bahkan minuman beralkohol.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2