Mohon tunggu...
Irfan Suparman
Irfan Suparman Mohon Tunggu... Mahasiswa #Filsafat #Seni #Sastra #hukum #politik

Kebebasan manusia ada pada pikirannya.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Mendesak Pemerintah Agar Lebih Peduli terhadap Kaum Marjinal Akibat Covid-19

19 Maret 2020   12:05 Diperbarui: 19 Maret 2020   12:58 203 1 0 Mohon Tunggu...

Sebuah virus spanyol bisa bepergian ke Kongo atau Tahiti dalam waktu kurang dari 24 jam. Karena itu, kita seharusnya sudah hidup dalam sebuah neraka epidemiologis dengan satu demi satu wabah mematikan. Seperti itulah kutipan buku Homo Deus : Masa Depan Umat Manusia yang ditulis oleh Yuval Noah Harari, seorang dosen di Jurusan Sejarah, Universitas Ibrani Yerusalem.

Virus atau bakteri adalah sebuah mikroorganisme yang dapat dilihat oleh alat bantu, dalam bukunya Yuval Noah mengajak kita untuk percaya mikroorganisme dalam hal ini virus dan bakteri disebarkan lewat armada-armada seperti tikus, kutu sampai sentuhan tangan manusia dan mereka terus menerus bermutasi menjadi spesimen baru ketimbang mempercayai bahwa wabah penyakit adalah kutukan dari Tuhan.

Keadaan dunia saat ini sedang kecau akibat wabah dari Virus Corona atau Covid-19. WHO pun menyatakan bahwa Covid-19 merupakan pandemi. Sejumlah kebijakan pun dikeluarkan oleh setiap para petinggi diberbagai sektor, seperti kampus meliburkan kelas dan aktifitas kampus lewat surat edaran, kemudian diikuti sekolah-sekolah melalui instruksi dari pemerintah daerah setempat. Akan tetapi hal itu saja belum cukup, campign "Social distancing" pun dilakukan oleh Presiden Republik Indonesia. Beliau meminta agar warganya belajar, bekerja, dan berkegiatan dirumah saja.

Akan tetapi pemerintah dalam hal ini pemerintah pusat belum memberikan bantuan kepada mereka under class society, berupa masker dan hand sanitizer, juga kebutuhan gizi mereka. Sementara harga-harga untuk kebutuhan higenisitas terus melonjak naik. Yang dirugikan adalah mereka yang tidak mampu membeli kebutuhan tersebut.

Peliburan sekolah juga memberikan dampak buruk bagi pedagang kantin karena mereka kebanyakan mencari pencaharian dari berdagang di kantin sekolah atau kampus. Hingga pada saat ini mereka masih belum tau akan memenuhi kebutuhannya dengan cara apa selain dengan uang sisa hasil dagang dihari sebelumnya. Karena mereka bukanlah budak korporat yang mendapatkan hak dan jaminan sosialnya, dalam hal ini mereka boleh saja apatisme dengan Omnibus Law akan tetapi tidak ada yang memperhatikan nasib mereka selain mereka sendiri.

Kekhawatiran mereka dan bayang-bayang kealaparan akan menjadi masalah baru bagi negara ini.

Semua orang berhak mengutarakan keresahannya dan tulisan ini mewakili pedagang kantin yang merasakan hari libur karena virus corona untuk mendapatkan privilege dari pemerintah.

Karena melihat jumlah mereka yang tidak sedikit.

Sementara pemerintah Indonesia membuat berbagai macam pencegahan Pandemi Virus Corona, dan kampanye stay at home digaungkan, mari sejenak kita melihat bahwa dikota-kota besar yang terdampak pandemi ini tingkat kesenjangan sosialnya begitu tinggi. Kaum marjinal pun banyak seperti yang marjinal nyanyikan, buruh rakyat miskin kota, harus bersatu padu rebut perhatian pemerintah terkait pandemi Covid-19.

Dalam hal penyebaran virus, sejatinya alat kesehatan sudah canggih dan manusia mampu mendeteksinya lebih cepat dari penyebaran virus itu sendiri. Pandemi bukanlah kutukan yang harus dihilangkan dengan ritual atau lantunan doa-doa seorang religius. Covid-19 adalah bentuk mutasi dari mikroorganisme yang kuat.

Ketika manusia kewalahan menghadapi wabah ini bukanlah kutukan dari Tuhan melainkan kegagalan umat manusia dalam menangani penyebaran virus. Virus disebarkan dengan amat cepat karena kemajuan transportasi. Seperti yang disebut diawal lebih jelasnya virus mudah tersebar dengan menempel pada tubuh manusia dan manusia berpergian sesuka hatinya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN