Mohon tunggu...
Irene Maria Nisiho
Irene Maria Nisiho Mohon Tunggu... Administrasi - Ibu rumah tangga

Nenek 6 cucu, hobby berkebun, membaca, menulis dan bercerita.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Jangan Membiasakan Anak Duduk di Belakang Kemudi

13 Juni 2017   18:06 Diperbarui: 13 Juni 2017   19:14 552
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Tadi pagi di kompleks perumahan, saya melihat teman saya menyetir mobil sambil memangku cucunya yang ikut memegang setir. Saya jadi teringat kebiasaan suami saya yang suka mengajak anak menyetir.

Ini kisah puluhan tahun silam, ketika itu usia kami masih dua puluhan. Suami saya sangat menyukai bermain dengan anak kecil dan anak-anak pun sangat lengket kepadanya. Saking sayangnya kepada anak-anak, dia pun belajar bermain sulap. Membakar kertas yang kemudian menjadi permen, itu yang paling dinantikan. Maklum waktu itu permen yang enak masih sangat langka.

Bila kami bertamu ke rumah kakak, putranya yang bernama Wahjudi pasti menangis ketika kami pamit pulang. Waktu itu usianya masih sekitar tiga tahun. Mau tahu kenapa?

Keponakan kami itu menangis karena mau ikutan nyetir mobil. Inilah kebiasaan  suami saya, yang saya nilai kurang baik. Anak-anak kami dan keponakan-keponakan umurnya sebaya. Bergantian mereka dipangku sambil menyetir keliling kota. Maklum kota Makassar waktu itu lalu lintasnya masih sepi, belum seramai sekarang.

Suatu hari ketika Wahjudi sudah lebih besar, mungkin di usia sekitar lima tahun, dia mencoba menyetir mobilnya sendiri. Pak sopir, Daeng Bakka, tidak menyangka. Mobilnya sempat berjalan sekitar tiga meter dan berhenti setelah menabrak sepeda pedagang keliling yang disandarkan di pagar rumah orang. Untung tidak terjadi musibah.

ray-593fbcb2c3b89c492e716d72.jpg
ray-593fbcb2c3b89c492e716d72.jpg
Puluhan tahun kemudian ketika kami mendapat seorang cucu, suami saya mendapat "mainan baru". Cucunya sangat dimanjakannya. Kebiasaan lama kambuh. Ketika cucu masih berusia lima bulan sudah dilatih menyetir oleh opa. Cucunya ini sangat gaya dan pandai acting. Perhatikan gayanya di foto di atas.

Suami saya sudah lupa peristiwa Wahjudi. Diingatkan pun tidak mau tahu.

Oh iya, cucu kami itu bernama Ray. Sejujurnya melihat gaya opa dan Ray, memang menyenangkan. Opa menikmati, cucu juga happy. Sebenarnya saya selalu melarang tapi tidak pernah digubris.

Kebiasaan ini baru berhenti karena Ray dan orangtuanya pindah rumah. Jauh deh dengan Opa. Namun, jika bertemu Opa, begitu ada kesempatan pasti nyetir.

Nah, ketika Ray berusia tiga tahun, musibah itu terjadi. Nyaris fatal.

Hari itu kami di RSPP Jakarta menunggui kakak yang sakit. Ray datang ke rumah kami berdua ibunya, karena ibunya mau menengok tantenya. Setelah memarkir mobil, ibu Ray meninggalkan Ray di mobil dan berjalan ke pagar untuk menggembok pagar. Ketika berbalik berjalan ke arah mobil untuk mengambil Ray, dia melihat mobil mundur dengan kecepatan lumayan. Ray nangis. Ibunya berteriak histeris, tidak bisa berbuat apa-apa. Rupanya Ray melepas rem tangan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun