ira guslina
ira guslina ibu rumah tangga

Ami dari Bintang, Zizi dan Arsyad. Ibu rumah tangga penuh waktu. Senang memasak dan menulis di www.duniabiza.com Temukan saya di Twitter : @DuniaBiza Ig : www.instagram.com/duniabiza Email: duniabiza@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup

KRL Jabodetabek, Dulu Dibenci Kini Dicari

6 Desember 2015   23:10 Diperbarui: 7 Desember 2015   00:07 679 0 0

Setengah berlari, saya menggesa langkah menuruni terowongan bawah tanah di Stasiun Depok Baru, Ahad, akhir November lalu. Berdasarkan informasi dari pengeras suara, kereta tujuan Bogor yang akan kami tumpangi segera tiba. Hari itu saya pergi bersama suami dan dua anak kami, Bintang dan Zizi.

"Hati-hati di jalur selatan  akan segera masuk kereta api tujuan Bogor, bagi penumpang,...," ujar petugas dari pengeras suara. 

Hup...hup...hup. Satu dua tiga, satu dua tiga. Kami pun memacu langkah lebih kencang. Begitu sampai di Peron kereta pun tiba. Informasi yang akurat dari petugas stasiun telah membantu kami sehingga tak ketinggalan kereta.

Rupanya kereta yang kami naiki penuh dari Jakarta. Meski begitu saya yang menggendong si bungsu Zizi yang baru berusia 6 bulan tetap kebagian tempat duduk. Saat memasuki gerbong yang penuh, seorang pemuda spontan berdiri dan memberi kami kursi.

"Silakan Bu," ujar dia. Padahal saat itu tak ada petugas yang berjaga. Tak hanya saya, suami yang menggendong si sulung Bintang (2 tahun) juga mendapat tempat duduk dari penumpang lain.

Inilah yang membuat saya betah naik Kereta Commuter Jabodetabek (KCJ). Dari waktu ke waktu kepedulian penumpang dengan penumpang lain terus bertambah. Saya yakin salah satunya karena petugas di kereta selalu "nyinyir" mengingatkan penumpang untuk memberikan bangku prioritas pada penumpang prioritas seperti saya. :-)

Selain lewat pengeras suara, beberapa petugas keamanan juga sering berkeliling dari gerbong ke gerbong untuk memastikan kenyamanan dan keamanan perjalanan. Dalam beberapa perjalanan saya sering melihat petugas menegur penumpang yang duduk lesehan di lantai, atau petugas yang memastikan penumpang prioritas seperti lansia dan ibu hamil mendapatkan kursi.

Tak hanya nyaman di hati, naik KCJ kini juga nyaman di mata. Sekarang nyaris seluruh gerbong dihiasi aneka warna dari iklan yang tertempel di berbagai tempat. Bahkan hari itu saya menemukan gerbong yang full colour dari lantai hingga langit-langitnya. Hmmm, bila semua gerbong berwarna seperti itu pasti lebih seru.

Bila harus mengkategori penumpang sesuai tingkat kesukaan, saya dengan bangga akan berdiri di barisan kelompok Cinta KRL. Alasannya sederhana, karena saya memang cinta, pengguna setia, dan menikmati setiap inovasi yang dilakukan manajemen KCJ. Bukti rasa bangga itu, setiap kali ada saudara dari kampung berkunjung, salah satu agenda yang tak akan saya lupa adalah membawa mereka keliling Jakarta naik KRL. Tutt..tutt..tutttt.

Berkeliling naik kereta, tentu saja bisa saya pamerkan setelah segala perubahan dan kenyamanan yang disediakan KRL. Akan lain halnya dengan tujuh tahun lalu. Saat itu saya yakin tak ada yang cinta KRL, termasuk juga saya. KRL belum menjadi transportasi primadona seperti sekarang. Bahkan KRL hanya dijadikan moda transportasi alternatif terakhir. Dulu dibenci sekarang dicari.

Ya. Bila dibandingkan beberapa tahun lalu, KCJ sekarang memang telah jauh berubah. Hebatnya perubahan itu terjadi hanya dalam waktu kurang dari sepuluh tahun. Sejak dibentuk pada 12 Agustus 2008, hingga kini sudah banyak inovasi.

Saya ingat pertama kali datang ke Jakarta dan menggunakan KRL pada 2007, kondisi layanan transportasi kereta api masih jauh dari sempurna.

1. Kereta Serba Ada

Ya. Dulu KRL Jabodetabek kelas ekonomi itu seperti kereta serba ada. Seperti pasar, banyak barang yang dijual. Makanan, minuman, kain, kacamata, benang jahit, kanebo, senter, dan aneka kebutuhan harian lain. Mau hiburan juga ada. Tak hanya hiburan dengan satu alat musik saja, satu band pun bisa mejeng di atas kereta.

Ada lagi. Kereta ekonomi Jabodetabek juga terkenal dengan pencopetnya. Iya, di kereta mereka ada. Makanya jangan heran kalo dulu sering terdengar penumpang yang kecopetan, tas disilet, bahkan dihipnotis.

2. Kereta Uji Nyali

Selain serba ada, dulu KRL juga dijadikan tempat uji nyali. Caranya dengan memanjat dan duduk di atap kereta. Dulu jejeran penumpang di atap kereta atau biasa disebut atapers menjadi pemandangan yang biasa.

Sebenarnya upaya menghilangkan atapers sudah lama dilakukan. Namun baru pada 2011 secara masif dilakukan. Mulai dari cara lunak dengan meminta kerjasama ustad hingga cara ekstrim seperti semprot cat dan air, memasang bola-bola besi, memolesi atap dengan oli, sampai membuat plank penampar.

Upaya penertiban ini jelas tak mudah. Pernahkan ada berita tentang aksi anarkisme dari atapers di stasiun Manggarai. Di beberapa stasiun lain juga terjadi perlawanan. Urusan memusnahkan komunitas uji nyali baru berakhir pertengahan 2013 ketika KAI menghapus kereta ekonomi.

 

3. Kereta Satu Harga Satu Rasa

25 Juli 2013, KRL ekonomi resmi dihapus. Seluruh kereta diubah menjadi KRL AC. Penghapusan ini menjadi babak baru dalam perkembangan KRL. Ketika baru diterapkan banyak yang syok, perubahan besar sedang terjadi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2