Mohon tunggu...
Sri Ken
Sri Ken Mohon Tunggu... Swasta

Suka masak sambal

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Nilai Adat Sarana Lawan Radikalisme

17 Juli 2019   08:10 Diperbarui: 17 Juli 2019   09:08 0 1 0 Mohon Tunggu...
Nilai Adat Sarana Lawan Radikalisme
balitoursclubnet

Pernah ke Bali dan kehabisan uang ? Jangan kuatir meski tak banyak sanak saudara atau mungkin juga tak banyak teman dikenal di pulau seribu pura itu. Karena Anda pasti tak akan kelaparan di sana karena banyak orang yang meski tak kenalpun akan menolong Anda. Memberi makan atau tumpangan ketika harus istirahat selama beberapa waktu.

Hal itu bisa terjadi karena beberapa konsep lokal yang menyebabkan penduduk lokal selalu merasa berempati terhadap penderitaan orang lain. Konsep ini disebut dengan menyamabraya yang mengandung makna persamaan dan persaudaraan serta pengakuan sosial bahwa sejatinya mahluk hidup itu bersaudara.

Konsep menyamabraya ini terlihat jelas ketika Gunung Agung meletus. Banyak orang yang harus mengungsi, jauh dari rumahnya. Beberapa diantaranya tidak mendapat tempat berteduh di penampungan sehingga mereka harus ditampung di rumah-rumah penduduk. Sebagian pengungsi memang memilih mengungsi di rumah sanak saudaranya. 

Masyarakat Bali yang jauh dari Gunung Agung dan tidak dalam area terdampak, membuka pintu rumahnya untuk membantu masyakarat di area terdampak. Mereka membagikan kebutuhan-kebutuhan dasar bagi pengungsi dan memberi pekerjaan sementara.

Konsep menyamabraya sebenarnya sama dengan konsep tolong menolong tetapi lebih erat. Menyamabraya tidak memandang apakah dia Hindu atau tidak, orang Bali atau Lombok, tetapi jika ada sesuatu mendesak dan membahayakan seperti ancaman Gunung Agung tersebut, maka mereka akan menyamabraya dengan maksimal.

Ini yang mempererat orang Bali dengan orang lain, termasuk di luar suku Bali sampai ke wisatawan yang mereka sebut tamu. Mereka akan menyambutnya dengan gembira dan tulus.

Selain konsep menyamabraya, ada juga konsep karmapala. Konsep ini adalah konsep dimana karma (perbuatan) dan pala (hasil), saling mempengaruhi dimana jika kita berbuat baik maka nanti / kelak kita akan mendapat hasil dari perbuatan baik kita. Sebaliknya jika di masa muda kita banyak berbuat jahat atau negatif, maka kelak yang ada adalah perlakukan negatif orang kepada kita.

Jadi konsep karmapala nyaris sama dengan konsep tabur tuai di kalangan orang awam. Diyakini bahwa siapa yang akan menanam kebaikan nantinya dia akan mendapat kebaikan, tapi jika tidak banyak berbuat baik maka yang terjadi adalah kebalikan dari kebaikan itu.

Konsep menyamabraya dan karmapala sangat melekat pada masyakat Bali sehingga mereka cenderung memperlakukan orang lain dengan baik dan tulus. Dua konsep ini juga berlaku saat terorisme menyerang wilayah Bali dengan beberapa bom selama beberapa tahun (kasus Bom Bali 1 dan Bom Bali 2).

Dengan berpegang dua konsep ini, masyarakat Bali dapat segera pulih dari luka-luka batin dan memaafkan orang yang memberikan duka kepada mereka (yang semuanya orang di luar Bali). 

Mereka juga tidak membalas perlakuan kepada mereka itu. Konsep itu adalah benteng paling tangguh bagi masyarakat Bali untuk memfilter pengaruh baik dan negatif. Pengalaman dua bom dan dua konsep ini juga menjadi alat untuk mendeteksi  bagi orang Bali untuk menolak faham-faham radikal untuk masuk ke pulau itu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2