Mohon tunggu...
M. Iqbal
M. Iqbal Mohon Tunggu... Part Time Writer and Blogger

Pengamat dan pelempar opini dalam sudut pandang berbeda. Bisa ditemui di http://www.lupadaratan.com/ segala kritik dan saran bisa disampaikan di m.iqball@outlook.com. Terima kasih atas kunjungannya.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Prahara Seorang Penulis

13 November 2017   18:11 Diperbarui: 13 November 2017   18:59 999 3 0 Mohon Tunggu...
Prahara Seorang Penulis
144849-ote5vy-299-5a097db5a4b068616834ba43.jpg

Menjadi penulis hebat tak perlu banyak teori, ia hanya butuh menulis dan mengapresiasikan idenya dalam bentuk tulisan. Berlatih dengan keras seakan tak pernah asing dengan rangkai kata menjadi sebuah alur cerita menarik.

Itu semua tak hanya sekedar tahu cara menulis, bukan cukup mengetahui sistematika penulisan dan bukan cara mengungkapkan pemikiran lewat tulisan saja. Ada sebuah hal istimewa yang lahir dari pribadi sang penulis, sesuatu yang istimewa ialah pribadi si penulis.

Buah kesabaran, keteguhan, dan rasa ikhlas modal berharga sang penulis dalam melahirkan buah pikirannya melalui secercah kertas kosong. Setiap kata yang tertulis menggambarkan setiap pikiran sang penulis sendiri, pembaca dapat menilai kepribadian penulis dari kualitas tulisannya. Semua bak proses panjang hingga menghasilkan karya yang fenomenal.

Otaknya ibarat perpustakaan besar yang telah menampung segenap ide, dipupuk dengan berbagai bacaan dan referensi hingga menghasilkan karya menakjubkan. Menulis butuh keheningan, jauh dari keramaian atau saat orang lain tertidur lelap, saat itulah ia merangkai setiap kata.

Namun semua menyisakan prahara tak mengenakkan, menulis akrab dengan rasa malas bergerak, mementingkan diri sendiri hingga seakan menarik diri dari lingkungan sekitar. Lakonnya yang selalu menuliskan apa saja yang ada di hatinya, terlintas di pikirannya, dan semua yang tak luput dari penglihatannya.

Keluarga dan lingkungan adalah orang terang-terangan tidak menyukai pekerjaanmu sebagai penulis. Mereka mungkin acapakali menyuruhmu untuk beralih dengan sesuatu yang pasti-pasti saja karena menulis tidak menjamin masa depan. Profesi penulis hanya pekerja khayalan yang tidak pasti arah tujuannya ke depan.

Ada gejolak batin yang selalu berkecamuk di dalam jiwa, mempertahankan idealisme terus menulis atau sadar akan tuntutan di dunia nyata yang semakin menggila. Apalagi menulis erat dengan khayalan yang hingga kini masih menjadi stigma negatif bagi masyarakat.

Proses meyakinkan keluarga sangat sulit ditambah dengan menjadi penulis besar tak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh proses panjang dan berliku hingga ia punya nama dan dikenal dengan orang lain. Pertaruhan nama dan waktu ialah prahara yang harus ia hadapi, menjadi pemenang bukan seorang pecundang.

Proses yang panjang sering kali dianggap buang-buang waktu semata, saat orang lain sibuk dengan dunia yang lebih menjanjikan. Penulis sibuk dengan tulisannya yang belum tentu disukai oleh pembaca,  ia harus menerima kata-kata kurang sedap dari keluarga dan lingkungan terdekat.

Hidup memang tidak bisa menampikkan akan materi, namun rasa nyaman akan menulis seakan mengaburkan materi bukan segalanya. Akan terlihat begitu munafik saat menulis hanya berlatarkan hobi saja, materi dan apresiasi ibarat sebuah motivasi dalam peran aktif menelurkan karya.

Bagi penulis setiap kata yang berhasil ia rangkai seakan sebuah kebahagiaan tersendiri. Ia merasa proses mengamati, menganalisa, dan menuliskan telah berhasil dilalui. Kadang kala ide terlintas sejenak di dalam pikiran, lalu hilang tak tahu ke mana arahnya. Peristiwa itu tak mengenal waktu, penulis harus segera mengabadikan dalam bentuk tulisan sebelum hilang tak terekam.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN