Mohon tunggu...
Muhammad IqbalKurniawan
Muhammad IqbalKurniawan Mohon Tunggu... Pengisi waktu senggang

Pemuda yang punya prinsip bahwa berkarya adalah hal yang paling utama. Kita Muda bukan berarti Kita Lemah. Justru kitalah yang KUAT. Disela-sela kesibukan, menulis menjadi pelampiasan lelah dan resah.

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Oposan Kuat, Negara Hebat

25 Juni 2019   21:22 Diperbarui: 25 Juni 2019   21:28 86 1 0 Mohon Tunggu...

Oposisi. Di negeri ini, apabila kita berbicara tentang oposisi, maka yang terlintas adalah sekumpulan orang atau partai politik yang bertolak belakang dengan pemerintah. Oposisi, di mata masyarakat negeri ini kebanyakan, adalah sebuah koalisi yang bertentangan paham dengan pemerintah, tidak akan pernah sepaham dengan pemerintah, dan/atau  selalu 'menjatuhkan' pemerintahan yang sedang berkuasa atau bahkan mengkritik segala bentuk kebijakan pemerintah. 

Segala bentuk kebijakan pemerintah. Ini berarti baik kebijakan pemerintah yang berhasil ataupun gagal. Lalu, apa sebenarnya oposisi dalam pemerintahan itu? Dan apakah di negeri nan ramah ini oposisi itu berjalan dengan baik?

Oposisi (dalam dunia politik) adalah sekumpulan partai penentang pemerintah di parlemen. Kehadiran oposisi adalah buah dari konstelasi politik di suatu negara. Koalisi partai yang memenangi pemilihan umum akan duduk berkuasa selama masa jabatan. Sedangkan, yang kalah akan berbaris rapat mendeklarasikan  diri sebagai oposisi.

Penulis akan membawa pembaca untuk sedikit 'bertamasya' ke daerah kampung halaman penulis, tepatnya di Amerika Serikat. Di Amerika, hanya ada dua partai politik besar yang menjajaki parlemen. Republik dan Demokrat. Kedua partai ini bergantian memenangi pemilu di Amerika sejak dasawarsa 1790-an. Apabila Republik yang memenangi pemilu, maka Demokrat lah yang menjadi oposisi. Sebaliknya, apabila Demokrat yang memenangi pemilu, maka Republik lah yang merapatkan barisan menjadi oposan. 

Di sini, oposisi seolah benar-benar tidak suka dan akan terus berbeda pandangan dengan pemerintah. Kita ambil contoh ketika pemerintahan Amerika shutdown beberapa waktu silam. Demokrat selaku oposisi mengkritik habis sikap Republik dan pemerintahan Trump terkait imigran di Amerika. 

Selain itu, Demokrat juga sering mengkritisi sikap politik luar negeri Trump yang terkesan 'lo-lo-gua-gua' dengan pandangan 'Amerika pertama, tidak peduli orang lain'. Penjabaran yang sedikit ini sudah cukup untuk menunjukkan bahwa Demokrat konsisten menjadi oposan. Selain itu, ini juga menunjukkan sikap tegas Demokrat dalam mengkritisi pemerintahan Republik.

Indonesia memang tidak bisa disandingkan dengan Amerika. Sistem parlemen kita berbeda dengan disana. Indonesia menganut sistem multipartai. Yang mana setiap partai berbaur menjadi satu di parlemen. Tidak akan ada sekat yang jelas antara oposisi dan pemerintah. Kedua kubu duduk sejajar di ruangan yang sama.

Lalu, apa poin yang ingin disampaikan penulis sampai jauh-jauh membawa para pembaca sekalian unuk 'bertamasya' ke kampung halamannya? Poin yang ingin disampaikan penulis adalah di Amerika, setidaknya oposisi berjalan dengan baik. Oposan benar-benar mengkritik kebijakan pemerintahan Trump. Ini sungguh merupakan sebuah bentuk keseriusan menjadi oposisi. 

Sehingga, check and balances system di negeri Paman Sam ini berjalan dengan baik. Memang disana-sini mungkin terdapat kekurangan. Oposan di Amerika terkesan tidak peduli hasil dari kebijakan tersebut, yang penting dikritik saja terlebih dahulu.  Ini tentu tidak patut ditiru sepenuhnya. Tetapi, setidaknya sikap oposisi di Amerika yang loyal dan sungguh-sungguh menjadi oposan layak kita tiru.

Sedangkan, oposisi di Indonesia, menurut pandangan penulis hanya formalitas sebagai syarat suatu negera demokratis. Oposan di Indonesia belum memberikan pengaruh yang begitu besar terhadap pemerintahan. 

Memang, kita bisa mengambil contoh keloyalan PDI-Perjuangan dan koalisinya menjadi oposisi selama 10 tahun Pak SBY memimpin, serta Gerindra dan PKS yang bergandengan kuat menjadi oposan selama pemerintahan Presiden Jokowi. Namun, kita bisa menyadari, oposisi belum terlalu bisa memberikan sumbangsih yang sifatnya konstruktif dan solutif kepada negeri ini. Oposan di Indonesia terkesan hanya suka nyinyir dan julit.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN