Mohon tunggu...
Iqbal Bachtiar
Iqbal Bachtiar Mohon Tunggu... Relawan - Mahasiswa

Humanity Above Religion

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud & Agama Pilihan

Bagaimana Cara Menjadi Seorang Kritikus Sastra yang Baik?

8 Desember 2021   23:08 Diperbarui: 8 Desember 2021   23:43 164 5 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
www.pexels.com/rizky-sabriansyah

Untuk menjadi seorang kritikus sastra yang baik, tentu sebaiknya terlebih dahulu memahami pengertian dasar mengenai kritik dan sastra. Kata kritik dalam bahasa Yunani yaitu kritikos yang berati menghakimi, membandingkan, atau menimbang. Kritik merupakan sebuah aktivitas penting yang pekerjaanya hampir serupa seperti peradilan, dimana keduanya memiliki peran untuk membedakan, menanggapi, menganalisis, dan memberikan sebuah penilaian antara yang baik dan buruk.

Sedangkan pengertian sastra dalam dunia kebahasaan merupakan nilai estetika yang mengutamakan imajinatif, yang mana penggunaan bahasa dalam karya sastra bukan bahasa biasa yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Melalui karya sastra seseorang dapat mengutarakan sebab, makna yang bernilai didaktis dan kreatif, yang diutarakan ke dalam media bahasa secara lisan ataupun tulisan.

Dapat disimpulkan secara umum kritik sastra adalah pengkajian terhadap karya sastra yang menganalisis dan menjelaskannya agar bisa dipahami dan dinikmati pembaca dan kemudian menjadi menilainya secara objektif. Kritik sastra adalah kajian yang menganalisis sebuah pemahaman, penafsiran, penghayatan, dan penilaian terhadap karya sastra. Berikut tiga karakteristik yang harus dimiliki oleh seorang kritikus sastra:

1. Berbakat dan Memiliki Perasaan Ketika Mengkritik

Arti berbakat disini yaitu seseorang yang telah mampu dan mengembangkan kemampuan dalam mengkritik. Pada dasarnya sifat kritis adalah kemampuan dasar yang diberikan Tuhan kepada manusia.

Pada masa kecil, anak-anak yang baru belajar membaca pasti akan selalu bertanya kepada orang tua atau lingkungan sekitarnya mengenai segala sesuatu yang belum dipahami. Aktivitas seperti ini sebenarnya merupakan kebiasaan kritis manusia semasa kecil.

Melalui kebiasaan itu, seorang anak-anak akan terus berkembang dan mendalami sesuatu dengan cermat, menemukan kekurangan yang belum dipahami, merasakan keindahan yang tampak dan tersembunyi, membandingkan persamaan, dan menyadari perbedaan yang tidak kita lihat dengan mudah.

Maka dari itu, berkembang atau tidaknya anak-anak dapat berpikir kritis sampai dewasan nanti adalah dukungan dari orang tua dan lingkungan sekitar semasa kecil. Selanjututnya memiliki perasaan ketika mengkritik merupakan hal penting yang tidak boleh dilupakan dan merupakan kemampuan khusus yang membuat seseorang menjadi lebih bijaksana dalam mengkritik.

Ketika kritikus sastra sedang meneliti sebuah karya sastra, maka kemampuan dalam mengkritiknya harus diikuti oleh sebuah perasaan yang mana perasaan itu juga dapat membedakan antara makna pada sebuah karya sastra. Oleh karena itu, perasaan merupakan karakteristik penting dari seorang kritikus sastra dalam melengkapi kemampuannya dalam mengkritik, sehingga dapat menikmati karya sastra dan membantu pembaca untuk mencicipinya dengan benar.

2. Memiliki Wawasan Kebudayaan dan Pengalaman.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud & Agama Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud & Agama Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan