Iwan Permadi
Iwan Permadi karyawan swasta

a freelance tv creative

Selanjutnya

Tutup

Atletik

Jogja Marathon 2019: Sightseeing Race Competition

15 Mei 2019   12:17 Diperbarui: 15 Mei 2019   12:34 30 2 0
Jogja Marathon 2019: Sightseeing Race Competition
dok. Mandiri | diedit kembali oleh penulis

Untuk kesekiankalinya kota Jogjakarta mengadakan lomba lari maraton internasional dengan mengundang banyak pelari internasional dan juga nasional serta diikuti ribuan peserta. Mengapa lomba lari maraton seperti ini begitu memikat sehingga banyak peserta  yang mau berpartisipasi? Dan mengapa sponsor besar tertarik untuk menjadi penyelenggaranya?

Lari itu sehat, mampu menghindarkan diri dari  sejumlah penyakit dan menjadi awet muda, mungkin orang sudah tahu dan mafhum namun bukan itu saja para peserta melihatnya, ibarat orang ke kafe untuk meminum kopi bukan masalah rasa kopinya yang memang sudah dan harus enak (self explanatory) tapi pengalaman dan sensasinya yang membuat orang ingin hadir disana karena bisa bersilaturahmi dengan orang-orang yang diinginkan dan suasananya yang nyaman, homy dan cozy.

Para peserta Jogja Maraton 2019 ini pasti sudah paham juga yang berpartisipasi banyak pelari berkaliber internasional terutama dari Kenya yang baik atlit baik putra dan putrinya selalu menyabet juara pertama, namun ada hal lain yang menjadi alasan mereka ingin berpartisipasi seperti gairah  untuk berlari bersama peserta lain sambil melewati kampung/desa terpencil yang belum tentu mereka punya kesempatan kesana dan ini memberikan dampak ke batin yang lebih dalam.

Jogja yang kita kenal selalu dengan Candi Borobudur dan Prambanan serta lesehan di Malioboro, tapi lewat ajang ini ternyata ikon Jogja bukan itu saja seperti ada Candi Plaosan dan Monumen Taruna dan masih banyak lokasi lain yang patut dikunjungi sambil menikmati pemandangan alam pedesaan yang masih asri sehingga sungguh bisa menyegarkan pikiran yang sudah penat dengan urusan bisnis, politik, rumah tangga  dan keseharian yang kalau sudah sampai peaknya malah membuat mood menjadi jelek.

Sedikit informasi Monumen Taruna yang disebut juga dengan Monumen Plataran yang ada di Sleman, Jogjakarta ini merupakan saksi bisu perjuangan taruna Akademi Militer yang gugur saat melawan Belanda pada tahun 1949. Sementara Candi Plaosan yang ada di sekitar Klaten bisa disebut Candi Kembar yang menggambarkan rasa cinta Rakai Pikatan yang beragama Hindu kepada permaisurinya Pramodyawardani yang beragama Budha sebagai simbol toleransi.

Kembali ke lomba maraton semacam ini , ada semacam studi mengungkapkan para peserta lomba lari  umumnya sangat loyal , artinya dimanapun ada lomba maraton jenis ini, mereka akan mengejarnya karena mereka merasa ada kegiatan dan tempat yang memahami passion dan hobi mereka. Secara tidak langsung juga mereka akan menghargai upaya panitia yang didukung sponsor besar untuk penyelenggaraannya. Kalau dalam penyelenggaraan yang ketiga sekarang Bank Mandiri tetap jadi sponsor tunggal kegiatan ini, pastilah banyak peserta akan mendukung eksisnya Bank Pemerintah yang mendukung hobi mereka.

Orang umumnya melakukan jalan-jalan (sightseeing) dengan menggunakan alat transportasi namun banyak yang akhirnya kurang puas karena hanya bisa melihat dan memandang tanpa bisa mampir , namun kalau lari maraton seperti ini akan jadi ajang saling info tentang tempat dan produk menarik serta jadi bahan sharing informasi via media sosial dan smart phone seperti what's app.

Lantas apa yang menarik dari Jogja Maraton 2019 ini? Saya pikir kearifan lokal sangat pas digandengkan dengan citra Mandiri Jogja Marathon 2019 ini. Bagaimana tidak partisipasi penonton yang ada di sepanjang jalan sangat mendukung semangat pelari untuk berprestasi lebih baik dengan cara tidak hanya memberikan dukungan namun juga menghadirkan aneka kesenian tarian kreasi tradisional serta kuliner yang menggugah selera. Uniknya partisipasi masyarakat ini dilombakan sehingga kompetisinya tidak berhenti hanya pada lomba lari namun juga  menjadi yang terbaik dalam menyambut kegiatan ini. Hadiah yang disediakan juga  sangat lokal seperti hadiah seperti sapi dan kambing serta sejumlah uang.

Terbayang terengah-engah berlari dengan melewati daerah dusun yang masih hijau segar dan dielu-elukan penonton pasti akan jadi memori indah bagi setiap pelari yang berpartisipasi. Rute yang dilewati juga lebih dari 80 persen melewati daerah-daerah remote ini sehingga klop sudah dengan ide lomba lari ini untuk lebih dekat dengan masyarakat.  Dan memang sudah saatnya kegiatan sport tourism tidak diselenggarakan di destinasi wisata yang sudah dikenal tapi juga tempat wisata lainnya yang belum terlalu dikenal dengan pendekatan yang sama dalam arti keterlibatan penonton untuk ikut mendukungnya.

Kegiatan yang dilakukan pada hari Minggu 28 April 2019 ini dimenangkan oleh trio pelari dari Kenya dan juara pertamanya,Stephen Mungatia Mugambi mencatatkan waktunya 2 Jam 25 Menit dan 28 Detik, sementara rekor lari Maraton saat ini juga dipegang rekan senegaranya, Eliud Kipchoge, dengan catatan waktu 2 Jam 1 Menit dan 39 detik di Berlin Marathon pada tanggal 16 September 2018.

Lomba lari Mandiri Jogja Marathon 2019 ini ternyata tidak hanya sekadar lomba namun juga menghargai potensi masyarakat lokal dan menjaga tradisi budaya yang menjadi ciri khas kota Jogjakarta pada khususnya dan Indonesia pada umumnya. Patut ditunggu di tahun berikutnya kegiatan seperti ini dengan peserta yang lebih banyak, hadiah yang lebih besar dan pendekatan yang berbeda.

Pain is temporary but Pride is forever Run (Sakit itu kadang-kadang bisa terjadi  tapi yang abadi dan membanggakan itu untuk terus berlari)

MandiriJogjaMarathon2019