Mohon tunggu...
I Nyoman  Tika
I Nyoman Tika Mohon Tunggu... Dosen

menulis sebagai pelayanan. Jurusan Kimia Undiksha, www.biokimiaedu.com, email: nyomanntika@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Guruku Telah Kembali...

2 Mei 2021   19:05 Diperbarui: 2 Mei 2021   19:08 45 3 0 Mohon Tunggu...

Setiap merayakan hari pendidikan Nasional, saya selalu teringat dengan sosok "guru'-guru saya, kali ini saya ceritakan salah satu guru yang selalu akrab membimbing dan mendidik saya ketika SD dahulu.

Guru yang sederhana itu, ke sekolah kerap membawa sepeda kumbang, kemudian ada peningkatan dari pemerintah tahun 1970 an, kemudahan memiliki sepeda motor, yang waktu itu memang sangat membantu bagi guru. Walaupun begitu semangatnya tak pernah pudar menjadikan anak-anak didiknya berhasil. Kami memang beberapa kali dibonceng dengan motor itu, menarik memang.

Di rumahnya, terbuka bagi siapa saja, disana ada berbagai buku sumber belajar. Saya selalu diizinkan  meminjam majalah si kuncung, yang berisi beragam cerita, untuk meningkatkan literasi dan wawasan anak-anak didiknya.

Saya selalu menangkap, beliau memiliki satu  keyakinan, bahwa seorang guru dimana pun berada akan selalu  akan membuat pengaruh yang bersifat abadi, dia tidak pernah tahu di mana pengaruhnya berhenti." Seorang guru hanyalah sang pembuka gerbang, dan berganti  dimana dia yang melakukan bagiannya. 

Di titik itu, nampaknya beliau yakin, bahwa  Siswa tidak membutuhkan guru yang sempurna. Siswa membutuhkan seorang guru yang bahagia. Siapa yang akan membuat mereka bersemangat untuk datang ke sekolah dan menumbuhkan kecintaan untuk belajar. Itulah sosok guru. Saya merasakan , selalu ingin datang ke sekolah, dan tidak mau absen sama sekali. Sampai di sana guru telah berhasil mendidik anak didiknya.

Suatu ketika, Udara sore hari berhembus dari selatan, di atas sungai dengan tebing terjal dan tinggi. Air mengalir jernih, percampuran beberapa anak sungai, yang berjuluk tukad telaga waja, dan bersatu menjadi tukad Unda, karena sungai itu menjadi penampungan anak-anak sungai, beragam di hulu  di kaki Gunung Agung  pada sisi selatan.

Guru saya yang tegap itu berwibawa, memanggil saya dan diambilkan seekor kepiting (yuyu) dan diminta menghitung jumlah kakinya, lalu saya menyebutnya 10, dan dia menjelaskan bahwa kepiting itu termasuk Dekapoda. Lalu sambil mengambil batu datar kemudian mencucinya lalu di taruh diatas batu yang besar bersih dan menunggu kering. Saya juga di carikan batu yang lebih kecil, dan dicuci dan , untuk dibawa pulang.

Itulah Guru saya, Ida Anak Agung Nyoman Rai, ketika SD mengajarkan dengan sangat baik, Beliau juga penggelut seni Drama, mantan patih agung dari puri satria kanginan, namun tak setenar Patih Anom "Ida Anak Agung Rai Kalam (puri satria Kawan) ketika mengajar selalu 'nyeletuk tentang aksinya sebagai patih.

Beliau pernah membuka cakrawala dari sekeping alam dimasukkan dalam kelas. dan memasukkannya dalam pembelajaran.....nah cari itu, pada pengetahuan modern menyebutnya ' CTL" Contextual teaching and learning.

Membawa batu, mencari pengetahuan di alam dengan inquiry terbimbing, adalah kekhasan nya, pendekatan itu, dahulu sudah diterapkan oleh guru-guru masa lalu, guru yang dididik pada zaman Belanda dan awal kemerdekaan dan penuh dengan dedikasi yang tinggi.

Beliau juga menyarankan membawa batu setiap hari, dari sungai. Karena zaman itu kami  di desa mandi ke sungai. PAM belum masuk ke rumah kami. Batu dikumpulkan di rumah, nanti setelah banyak bisa dipakai dasar bangunan rumah tembok dan lain-lain, cara belajar ini adalah sangat bermanfaat, sebab ketika itu, membangun memang tidak membeli batu, benar-benar konsepsi berdikari atau seperti  swadesi nya mahatma Gandhi yang diajarkan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x