Mohon tunggu...
Insan kamil
Insan kamil Mohon Tunggu... Pelajar

Penulis muda

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Lara Tak Berkesudahan

18 September 2019   23:08 Diperbarui: 19 September 2019   15:48 0 7 0 Mohon Tunggu...

Seperti halnya rutinitas setiap tahun kaka kelas dua belas melaksanakan ujian sekolah dan ujian nasional dan pasti adik kelasnya kelas sepuluh dan kelas sebelas libur atau makna konotasinya belajar dirumah.

pada saat itu aku baru saja menginjak dibangku kelas sepuluh alangkah bahagianya aku ketika mendapat surat edaran pelaksanaan UASBN(ujian akhir sekolah berstandar Nasional) dan UNBK (ujian nasional berbasis komputer) untuk kelas dua belas oleh karena itu kami kelas sepuluh dan kelas sebelas diliburkan.

Saat liburan seperti ini biasanya aku hanya diam dirumah dengan kegabutan(kondisi dimana sudah merasa bosan) tetapi liburan kali ini beda.Pada hari kedua liburan, alangkah senangnya diriku karena aku menjemput tanteku disebuah bandara yang sangat terkenal di kota kembang, tanteku datang dari kota yang jauh yaitu kota yang berjuluk kota seribu deli kota yang sangat terkenal di sumatera utara.saat pengumuman kedatangan pesawat yang datang dari bandara terbesar ke dua di indonesia, alangkah bahagianya keluarga kami karena dapat bertemu sosok kakak dari ibuku yang sudah sepuluh tahun tidak bertemu, kami semua disitu berbahagia dan terharu.

Setelah menjemput tanteku dari bandara kami langsung bergegas ke sebuah rumah makan untuk menyantap makanan sembari kami bergegas kerumah nenekku hingga akhirnya kami sampai di rumah nenek pada sore hari.


Alangkah senangnya nenekku bertemu dengan anaknya tercinta setelah sekian lama terpisahkan antar pulau,dengan keadaan nenekku yang sedang sakit sepintas nenekku seperti orang yang sehat karena sangat senang .Matahari sudah terbenam aku dan ibuku pulang ke rumah karena kami tidak membawa perbekalan.

Keeseokan harinya kami pergi ke kota kembang untuk mengajak tanteku berkeliling kota kembang alangkah senangnya diriku karena liburan ku benar benar liburan,setelah dari kota kembang kami bergegas untuk kembali kerumah nenekku sembari ke rumah ku dulu untuk membawa bekal untuk menginap dirumah nenekku.

Saat menginap dirumah nenek aku sangat bahagia karena bisa menikmati udara yang bersih,indahnya sawah dan gunung, disini juga aku dapat bermain dengan sepupu sepupuku dengan bermain permainan tradisional seperti jaman aku saat masih kecil.

Kemudian esok lusa kami merencanakan untuk liburan ke sebuah bukit yang sangat indah terdapat batu batu yang berjejer, dan mendengar berita itu dari ibuku aku sangat senang karena liburanku benar benar berkesan.

Saat esoknya akan berangkat aku bersiap siap tidur dikamar depan rumah nenek aku tidur dengan sepupuku pada pukul 21.00 dengan penuh harapan aku akan pergi kesana namun takdir berkata lain, pada saat aku tertidur pulas aku merasakan mimpi aneh mendengar suara tangisan,ternyata oh ternyata aku dibangunkan oleh ibuku pada pukul 1.00 dini hari,ibuku berkata dengan suara serak karena menangis
"A (pangillan ibuku kepada ku) bangun nenek sudah pulang".
Lalu mendengar ibuku berkata kepada ku sepupuku pun ikut terbangun.
Alangkah terkejutnya diriku ketika melihat sesosok nenekku sudah terbujur kaku di ruang tengah rumah nenekku.

Aku kemudian berbicara kepada sepupuku ;
"Wahai adikku apakah aku sedang bermipi?"
Lalu sepupuku menjawab
"Tidak kakak nenek memang sudah pulang."
"Aww kataku karena aku sakit dicubit oleh sepupuku."
"Tuh kan aku tidak berbohong(kata sepupuku)."

Disitu aku hanya bisa diam dan berdoa karena aku tidak percaya dengan ini,semua saudara berkumpul dengan kesedihan yang begitu dalam. kemudian aku dan sepupuku di suruh oleh ibuku untuk melantukan ayat suci al-qur'an disamping sosok nenekku yang sudah terbujur kaku, tetapi aku hanya bisa melantunkan ayat sedikit karena aku tidak kuat dengan perasaan ku yang sedang campur aduk,lalu aku bergegas ke kamar aku hanya bisa menangis diatas kasur karena kepergian sosok nenek yang aku cintai.

Keesokan harinya kakak ku dan ayah ku datang,mereka datang dengan ekpresi wajah yang sedih akupun yang melihatnya tambah sedih.setelah itu kami menyolatkan sang nenek dimasjid dekat pemakan pada saat menyolatkan kami pun tak kuasa untuk menahan tetesan air mata.lalu kami pergi ke pemakaman untuk menguburkan sang nenek tercinta saat nenekku akan dimasukan ke liang lahat aku tambah sedih dan masih tidak percaya dengan ini semua, setelah itu kami pulang dengan kehampaan tanpa hadirnya sosok nenek kami tercinta.

Satu hari setelah kematian sang nenek, kami mengadakan tahlilan (yaitu tradisi pengajian yang dilakukan ketika orang sudah meninggal) kami mengadakan tahlilan nenek hingga hari ke tujuh.

Hari keempat setelah nenekku meninggal ayahku menelfon ibuku tak ku sangka bagaikan "ketiban durian runtuh" ternyata ayahku mengabari bahwa pamanku (kakak dari ayahku) juga berpulang ke yang Maha Kuasa disitu dengan keadaan sedih yang ditambah kabar sedih aku pun sangat terpukul hingga aku berbicara sendiri ;
"Ya Tuhan ku kenapa ini semua bisa terjadi?"

"Apakah aku masih bermimpi?"

"Apa yang harus aku lakukan?"

Sontak pada malam itu kami langsung bergegas ke rumah paman dengan keadaan yang campur aduk untuk melayat dan aku tidak kuasa sampai sampai aku tidak bisa menangis lagi untuk menahan kesedihan melihat kakak sepupuku yang sedang sakit kemudian pingsan ketika melihat sosok ayahnya terbujur kaku,dan akupun hanya bisa melihat karena aku kaget dengan semua kejadian ini.

Keesokan harinya aku pergi ke pemakaman untuk yang kedua kalinya dan yang ini pun sama sedihnya seperti kemarin semua keluarga ku sangat bersedih.aku mendengar suara sirine ambulans yang begitu keras hingga menggetarkan telinga ku. sesosok pamanku di turunkan dari ambulans dan akan dimasukkan kedalam liang lahat.

sedihnya anak pertama dari pamanku tidak bisa ikut ke pemakaman karena kondisinya yang sangat lemah sehingga ia tak bisa ikut ke pemakaman.


Hingga beberapa hari setelah kejadian ini tanteku pulang ke tempat tinggalnya, sayangnya aku tidak bisa ikut mengantar ke bandara karena aku sudah mulai masuk sekolah, ketika aku disekolah aku merasa kehampaan seperti sendiri dalam kelas dan begitu pun ketika sudah pulang sampai rumah, karena kehilangan dua sosok keluarga yang aku sayangi dan pada saat aku sampai dirumah ibuku pun menangis karena merasa hampa ditinggal sosok ibunya sendiri yang sudah pulang ke yang Maha Kuasa dan juga tanteku yang pulang ke Medan.

Satu minggu kemudian aku bisa bangkit dari kesedihan semua ini karena aku sadar semua yang bernyawa past akan mati seiring waktu aku bisa menerima bahwa nenek dan paman sudah tiada untuk pergi selamanya.

Dari kisah ini saya dapat mendapatkan hikmah yang dilantunkan oleh pa ustad pada saat ketika prosea pemakaman" bahwa setiap yang bernyawa akan mati." Kutipan tersebut terdapat dalam firman Allah Q.S Al-i-Imran ayat 185.Jadi saya pun semakin mawas diri untuk selalu berusaha beramal baik karena kematian itu memang pasti dan kita pun tidak tahu kapan waktu kita dipanggil entah besok,lusa,minggu depan,atau bahkan hari ini dan juga saya bisa terima takdir ini semua sehingga saya bisa bangkit dari kesedihan kisah ini.

KONTEN MENARIK LAINNYA
x