Mohon tunggu...
Inna Riana
Inna Riana Mohon Tunggu...

Ibu dari 3 anak laki-laki. Tinggal di Bogor. Blog lain: www.emakriweuh.blogspot.com, www.innariana.com, www.dapurngebut.com, www.inas-craft.blogspot.com

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Janji Si Gadis Kecil

16 Juli 2014   21:16 Diperbarui: 18 Juni 2015   06:08 0 1 1 Mohon Tunggu...

Kursi tempatku berbaring tiba-tiba bergoyang. Ada yang tahu tempat pesembunyianku rupanya. Aku memicingkan sebelah mata, melihat siapa yang datang. Sesosok tubuh menyeruak masuk ke kolong meja, lalu naik ke atas kursi. Meringkuk di sebelahku. Oh, gadis kecil itu lagi. Dia memang selalu mengganggu tidur siangku. Dalam tempat sempit bernama kolong meja makan, kami bertatapan. Tubuh kami sama-sama berbaring membentuk lingkaran. Aku memejamkan mata. Mencoba tidur lagi. Nampaknya, dia sedang menatapku. Ah, biar saja. Biasanya dia ikut tidur bersamaku. Jika tidak tidur, dia akan berbicara sendiri, atau menangis sesenggukan. Sebenarnya, aku menyukai gadis kecil ini. Dia baik. Dia juga menyayangi aku dan anak-anakku yang jumlahnya sudah tidak bisa kuhitung lagi. Anak-anakku juga suka kepadanya. Dia tidak pelit membagi makanan dan selalu mengajak mereka bermain. Kadang suka kelewatan juga, sih. Anak-anakku entah dibawa pergi ke mana. Aku jadi gelisah mencari mereka untuk menyusu. Melihatku cemas, dia segera mengembalikan mereka semua kepadaku. Si gadis kecil berbicara perlahan sambil membelai kepalaku, "Kamu pasti jadi ibu yang baik." Oh, tentu saja! Anakku kan, sudah banyak. Bahkan yang paling besar sudah menjadi penguasa di gang sebelah. Anakku itu ditakuti banyak pejantan muda serta digandrungi para betina. Ya ya yaa..  aahhh... aku suka jika kau mengelus bawah daguku.. hmmm... "Aku sayang kamu," katanya sambil membelai perutku. Hei, hati-hati! Aku tidak mau kau menekan perutku terlalu keras! Kamu mau apa? Mau meraba di mana letak jabang bayiku? Jangan! Sakit tahu! Aku memberontak. "Sakit, ya? Maaf, sayang. Aku cuma pengen pegang anak-anakmu," tangannya tetap membelai, tapi tidak menekan seperti sebelumnya. Sambil terus menggerakkan tangannya disela-sela buluku, isakan mulai terdengar dari mulutnya. "Aku sedih. Mami marah lagi. Aku nggak tahu kenapa aku selalu salah. Aku bukan anak yang baik. Aku anak yang nakal," gumamnya sambil berlinang air mata. Duh, dia nangis lagi! Malas aku mendengarnya! Paling-paling, dia dimarahi lagi oleh perempuan bertubuh gemuk yang dipanggilnya 'mami' itu. Memang, Mami suka kelihatan menakutkan jika sedang marah. Aku saja bisa lari terbirit-birit jika mendengar bentakannya. "Mami mukul aku lagi, " air mata semakin deras mengalir di pipinya. Dipukul lagi? Setahuku, Mami memang tidak pernah memukul langsung menggunakan tangannya. Mami selalu memukul menggunakan sapu lidi. Aku paling takut dengan sapu lidi yang ada di kamar depan itu. Sapu lidi itu fungsinya bukan hanya untuk merapikan tempat tidur. Jika merasa terganggu, Mami menggunakan sapu lidi itu untuk mengusirku dan anak-anaku. Fungsi lainnya untuk memukuli gadis kecil itu di kamar depan. Kenapa harus dipukuli di kamar depan? Kamar itu tidak banyak perabot dan cukup lapang untuk dijadikan tempat memukuli anak. Kadang, suara hempasan sapu lidi itu kerap terdengar dan membuat aku dan anak-anakku bergidik. Jika sudah terdengar suara sapu lidi memukul udara, itu artinya kami semua harus keluar dari rumah kalau tidak ingin kena sabetannya. Tapi jika suara sapu lidi terdengar mengenai sesuatu secara berulang-ulang, artinya gadis kecil itu sedang dipukuli. Dia tidak pernah menangis jika sedang dipukuli oleh Mami. Gadis kecil itu diam saja. Aku pernah melihatnya saat aku bersembunyi di balik kardus di kamar depan. Kukira aku yang hendak dipukul. Karena takut, aku hanya bersembunyi dan tidak sempat lari. Aku memandang dengan ngeri saat gadis kecil itu dipukuli. Suara sabetan sapu lidi menggema di udara bersamaan dengan omelan dan cacian dari mulut Mami. Gadis kecil tidak berani minta ampun, dia hanya membisu. Mungkin, dia juga tidak berbicara karena takut disangka membangkang dan pukulan yang diterimanya akan semakin keras dan lama. Dia terlihat pasrah. Anehnya, yang menangis justru Mami, orang yang memukuli si gadis kecil. Mami menangis karena kesal punya anak seperti si gadis kecil. Kasihan. Menurutku, mungkin lebih baik dia tidak usah dilahirkan saja daripada dibesarkan dengan cacian, makian, dan pukulan. Aku juga seorang ibu. Aku sayang pada semua anak-anakku meskipun mereka suka nakal. Aku selalu menjilati mereka dengan penuh kasih sayang. Sedangkan si gadis kecil? Nampaknya Mami jarang sekali kulihat menyentuhnya. Dia tidak mendapatkan sentuhan kasih sayang dari seorang ibu. Kasihan dia.

Gadis kecil itu bercerita tentang kesalahannya hari ini hingga membuat Mami marah dan memukulnya lagi. Aku tidak menyimak apa yang dia ucapkan. Aku terlanjur larut dalam belaiannya yang melenakan. Hmmm...aduuh..enak sekali elusannya...

"Jika aku menjadi ibu nanti, aku janji, aku tidak akan memukul anak-anakku nanti," dia berkata dengan sungguh-sungguh sambil mengusap air matanya. Lalu sepertinya dia tengah mengkhayal, membayangkan akan seperti apa anak-anaknya kelak. Aku tidak begitu mengerti, dunia kami berbeda. Mungkin, dia ingin punya anak-anak yang mencintai ibunya? Tidak seperti anak-anak Mami yang kurang perhatian? Sepertinya sih begitu. "Kamu ibu yang baik. Aku juga mau jadi ibu yang baik, " dia memindahkan tanganya untuk membelai kepalaku. Aku terbuai dengan nikmat. "Pus, aku janji, Pus... aku janji.." tiba-tiba gadis kecil itu mendekapku. Dia menangis lagi. Lebih keras dari sebelumnya.

KONTEN MENARIK LAINNYA
x