Mohon tunggu...
Syaiful W. HARAHAP
Syaiful W. HARAHAP Mohon Tunggu... Blogger - Peminat masalah sosial kemasyarakatan dan pemerhati berita HIV/AIDS

Aktivis LSM (media watch), peminat masalah sosial kemasyarakatan, dan pemerhati (berita) HIV/AIDS

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Mengapa Kasus HIV/AIDS di Jawa Barat Paling Banyak di Bekasi dan Bandung?

4 Oktober 2023   13:32 Diperbarui: 4 Oktober 2023   13:53 187
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi (Sumber: bundesgesundheitsministerium.de)

"Kasus HIV di Jabar Meningkat, Paling Banyak di Bandung dan Bekasi" Ini judul berita di news.republika.co.id (24/9-2023).

Ada beberapa hal yang tidak terjawab dari judul berita ini, antara lain:

(a) Kasus HIV yang dimaksud sejatinya bukan merupakan jumlah warga Jawa Barat (Jabar) yang terinfeksi HIV, tapi warga Jabar dan warga luar Jabar yang menjalani tes HIV di Jabar,

(b) Maka, jumlah kasus yang disebut Dinas Kesehatan Jabar yang tercatat di 27 kabupaten dan Kota di Jabar sebanyak 6.379 pada periode Januari -- Agustus 2023 adalah kasus yang ditemukan berdasarkan hasil tes HIV-positif,

(c) Sedangkan jumlah warga Jabar, terutama kalangan remaja dan dewasa, yang mengidap HIV/AIDS jelas tidak bisa diketahui jumlahnya karena tidak dilakukan tes HIV sesuai dengan standar prosedur tes HIV yang baku terhadap semua warga, dan

(d) Jumlah kasus yang dilaporkan yaitu yang diperoleh berdasarkan hasil tes HIV (6.379) hanyalah sebagian kecil dari warga Jabar yang mengidap HIV/AIDS karena perlu diingat bahwa jumlah kasus yang dilaporkan tidak menggambarkan kasus AIDS yang sebenarnya di masyarakat karena epidemi HIV/AIDS erat kaitannya dengan fenomena gunung es.

Kasus HIV/AIDS yang dilaporkan atau terdeteksi digambarkan sebagai puncak gunung es yang muncul ke atas permukaan air laut, sedangkan kasus HIV/AIDS yang tidak terdeteksi di masyarakat digambarkan sebagai bongkahan gunung es di bawah permukaan air laut (Lihat matriks).

Matriks: Fenomena Gunung Es pada epidemi HV/AIDS. (Foto: Dok Pribadi/AIDS Watch Indonesia/Syaiful W. Harahap)
Matriks: Fenomena Gunung Es pada epidemi HV/AIDS. (Foto: Dok Pribadi/AIDS Watch Indonesia/Syaiful W. Harahap)

Yang bikin celaka warga pengidap HIV/AIDS yang tidak terdeteksi jadi mata rantai penyebaran HIV/AIDS di masyarakat, terutama melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.

Penyebaran HIV/AIDS terjadi secara diam-diam bak 'silent disaster' (bencana tersembunyi) karena warga pengidap HIV/AIDS yang tidak terdeteksi tidak menyadari dirinya mengidap HIV/AIDS, antara lain karena tidak ada tanda-tanda, ciri-ciri dan gejala-gejala yang khas AIDS pada fisik dan keluhan kesehatan sebelum masa AIDS (secara statistik antara 5-15 tahun setelah tertular HIV jika tidak menjalani pengobatan dengan obat antiretroviral/ART).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun