Syaiful W. HARAHAP
Syaiful W. HARAHAP Blogger

Aktivis LSM (media watch), peminat masalah sosial kemasyarakatan, dan pemerhati (berita) HIV/AIDS

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Sumbar "Memberantas" LGBT, Mengabaikan Laki-laki Heteroseksual sebagai Penyebar HIV/AIDS

13 Januari 2018   07:47 Diperbarui: 13 Januari 2018   09:21 1188 2 0
Sumbar "Memberantas" LGBT, Mengabaikan Laki-laki Heteroseksual sebagai Penyebar HIV/AIDS
Ilustrasi (diolah dari: youthjamaica.com)

"Gay di Sumatra Barat: 'Memberantas' LGBT untuk mencegah HIV/AIDS." Ini judul berita di "BBC Indonesia" (11/1-2018). Laporan Ditjen P2P, Kemenkes RI, tanggal 24 Mei 2017 menyebutkan kasus kumulatif HIV/AIDS di Sumbar adalah 3.306 yang terdiri atas 1.935 HIV dan 1.371 AIDS.

Ada beberapa hal yang tidak masuk akal di judul berita ini, yaitu:

Pertama, kasus penyebaran HIV yang paling potensial dilakukan oleh laki-laki biseksual (secara seksual tertarik pada lawan jenis dan sejenis) disusul laki-laki heteroseksual (secara seksual tertarik dengan lawan jenis) karena mereka mempunyai pasangan seksual yaitu istri.

Alam Pikiran

Kedua, lesbian tidak bisa dikenal secara fisik dan dalam epidemi HIV/AIDS, penulsan HIV melalui perilaku seksual di kalangan ini merupakan risiko yang sangat rendah bahkan nol persen karena tidak ada ada seks penetrasi.

Ketiga, gay tidak bisa dikenali secara fisik dan HIV/AIDS pada gay ada di terminal terakhir karena mereka tidak mempunyai perempuan sebagai pasangan tetap.

Keempat, transgender akan jadi sasaran empuk karena bisa dikenal secara fisik yaitu waria. Padahal, tidak semua waria melalukan perilaku yang berisiko tertular dan menularkan HIV/ADS.

Kelima, LGBT (lesbian, gay, biseksual dan transgender) sebagai orientasi seksual ada di alam pikiran sehingga mustahil diberantas (Baca juga: Orientasi Seksual Ada di Alam Pikiran).

Keenam, kasihan amat saudara-saudara kita yang terlahir sebagai transgender (waria) yang akan jadi sasaran Pemprov Sumbar dalam pemberantasan LGBT karena mereka tidak bisa menyembunyikan identitas LGBT-nya.

Ketujuh, bagaimana cara Pemprov Sumbar mengetahui identitas LGBT, khususnya lesbian, gay dan biseksual? Pakai 'intel'? Atau Dinas Kesehatan Sumbar punya alat tes LGBT?

Di lead berita disebutkan: Wakil Gubernur Sumatera Barat, Nasrul Abit, mengatakan pihaknya tengah menyiapkan upaya "memberantas" yang disebutnya "seks menyimpang" di kalangan kelompok gay guna mencegah HIV/AIDS.

Kalau yang dimaksud oleh wakil gubernur sebagai 'seks menyimpang' adalah seks anal, maka pertanyaan yang sangat mendasar untuk Wagub Sumbar, Nasrul Abit: Apakah seks oral dan seks anal yang dilakukan suami, bahkan ada dengan cara-cara paksaan dan kekerasan, terhadap istri dalam ikatan pernikahan yang sah secara agama dan hukum tidak termasuk 'seks menyimpang'?

Seks anal yang dilakukan suami terhadap istri merupakan aktivitas yang sangat berisiko sebagai media penularan IMS (infeksi menular seksual, seperti kencing nanah/GO, raja singa/sifilis, virus hepatitis B, klamidia, jengger ayam, virus kanker serviks, dll.) dan HIV atau kedua-duanya sekaligus karena ada suami yang jadi pelanggan waria.

Dok.pribadi
Dok.pribadi
Studi di Surabaya, Jatim, menunjukkan pelanggan waria adalah laki-laki heteroseksual yang mempunyai istri. Celakanya, laki-laki heteroseks justru dianal oleh waria (istilah di komunitas waria ditempong dan waria menganal atau menempong).

Kalaupun ada risiko penularan HIV melalui seks oral dan seks anal pada gay epidemi HIV berputar di komunitas mereka. Sedangkan laki-laki heteroseksual jadi mata rantai penyebaran IMS dan HIV di masyarakat secara horizontal, terutama kepada istri bagi laki-laki yang beristri atau perempuan pasangan lain.

Dikatakan pula: Data jumlah LGBT yang tercatat di provinsi ini "ribuan" namun belum ada angka yang valid, kata Nasrul, yang menambahkan bahwa jumlah LGBT (lesbian, gay, biseksual dan transgender) "makin hari makin banyak," dan dapat meningkatkan jumlah kasus HIV.

Laki-laki Heteroseksual

Pertambahan jumlah LGBT jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan frekuensi laki-laki heteroseksual yang melakukan perilaku seksual yang berisiko tertular HIV, seperti:

(1). Sering melakukan hubungan seksual tanpa kondom, di dalam dan di luar nikah, dengan perempuan yang berganti-ganti di Sumbar, di luar Sumbar dan di luar negeri, dan

(2) Sering melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan perempuan yang sering berganti-ganti pasangan, seperti pekerja seks komersial (PSK). Dalam prakteknya PSK dikenal ada dua tipe, yaitu:

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3