Mohon tunggu...
Syaiful W. HARAHAP
Syaiful W. HARAHAP Mohon Tunggu... Administrasi - Peminat masalah sosial kemasyarakatan dan pemerhati berita HIV/AIDS

Aktivis LSM (media watch), peminat masalah sosial kemasyarakatan, dan pemerhati (berita) HIV/AIDS

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Paslon Nomor 1 Pilgub DKI Jakarta 2017 Korban Hiperrealitas

5 Maret 2017   19:56 Diperbarui: 5 Maret 2017   20:19 238 0 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Paslon Nomor 1 Pilgub DKI Jakarta 2017 Korban Hiperrealitas
Ilustrasi (Sumber: www.realitnikomora.cz)

Setiap kali kampanye orang datang berduyun-duyun, spanduk di mana-mana, sticker dengan jargon-jargon agamis ditempel di banyak tempat. Inilah gambaran nyata ketika Paslon (Pasangan Calon) Gubernur/Wakil Gubernur DKI Jakarta 2017-2022 Nomo1 (Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni). Tapi, ternyata itu bukan realitas, tapi hiperrealitas.

Hiperrealitas adalah sebuah kondisi ketika suatu kejadian tampak seperti kenyataan, tapi hal itu sebenarnya bukan fakta ril karena kondisi diciptakan dengan dukungan media. Akibatnya, banyak orang terkecoh karena tidak bisa membedakan fakta sebagai realitas di social settings dengan kondisi yang diciptakan tsb.

Kondisi hiperrealitas kian meninabobokkan ketika ada hasil survei yang ‘mendukung’ Paslon dimaksud. Lalu, media partisan pun membumbuinya dengan pernyataan-pernyataan yang mendukung, mulai dari warga sampai ‘pakar’.

Sedangkan Paslon Cagub/Cawagub No 2 (Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat) justru selalu dihadang ketika kampanye sehingga yang hadir pun bisa dihitung jari. Ini fakta. Sebaliknya, pendukung paslon ini justru berduyun-duyun ke ‘Rumah Lembang’ tempat relawan dan pendukung berkumpul. Ini realitas sosial. Sementara Paslon No 3 (Anies Baswedan-Sandiaga Uno)  menjadikan agama sebagai ‘kendaraan’ dalam kampanye sehingga kampanye pun menunjukkan kondisi-kondisi yang moralistis dan agamis. Ini fakta. Tapi, tidak ada pembanding seperti Paslon No 2. Hal yang sama juga terjadi pada Paslon No 1 yang juga tidak bisa dilihat kondisi yang realistis seperti Paslon No 2.

Fakta atau kenyataan berbeda dengan realitas karena fakta bisa diatur sedangkan realitas sosial yang ada di social settings merupakan perwujudan kondisi ril di masyarakat yang muncul ke permukaan.

Cara yang dilakukan Paslon No 2 yaitu ‘duduk manis’ di “Rumah Lembang” menjadi bukti terkait dengan dukungan warga. Tidak ada yang menggerakkan secara masif, tapi banyak warga yang datang ke “Rumah Lembang” dengan berbagai tujuan dan kepentingan. Bahkan, pemuka masyarakat, artis, dll. silih berganti memberikan dukungan kepada Paslon No 2 di “Rumah Lembang”.

Hiperrealitas kian manjadi-jadi di tangan media partisan dan media sosial. Tanpa malu-malu media partisan dan media sosial membesar-besarkan kegiatan kamanye Paslon No 1 sehingga membuai banyak orang yang tidak memahami latar belakangan kejadian tsb. Padahal itu hanya realitas semu yang diciptakan sedemikian rupa agar ybs. senang dan pendukung bergembira.

Kalau dilihat dari warga yang hadir pada kampanye langsung Paslon No 1 dan Paslon No 3 jauh lebih banyak daripada Paslon No 2. Seperti yang disebutkan di atas Paslon No 2 malah dihadang ketika kampanye dan hanya ketemu satu dua orang. Sebaliknya, kampanye Paslon No 2 dan Paslon No 3 justru dihadiri oleh ‘lautan manusia’. Maka, tidak mengherankan kalau AHY (Paslon No 1) melakukan diving dari panggung ke kerumunan ‘pendukung’ pada saat kampanye.

Persoalannya kemudian adalah latar belakang warga yang datang ke kampanye: apakah karena sukarela atau karena dikerahkan?

Melihat hasil Pilkada putaran pertama yang menempatkan Paslon No 1 jadi juru kunci jadi bukti bahwa ‘lautan manusia’ yang hadir pada kampanye-kampanye bukan warga yang jadi pemilih. Bisa jadi sebagian dari mereka dikerahkan. Paslon No 1 memperoleh   937.955 suara atau 17.07 persen, Paslon No 2 memperoleh 2.364.577 suara atau 42,99 persen, dan pasangan Anies-Sandiaga memperoleh suara 2.197.333 atau 39,95 persen.

Kondisinya kian runyam kalau kemudian yang beraksi adalah ‘the loser’ yang menjanjikan bisa membawa ‘massa’. Memang, mereka bisa membawa ‘massa’, tapi bukan warg yang potensial sebagai pemilih. *

Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan