Mohon tunggu...
Syaiful W. HARAHAP
Syaiful W. HARAHAP Mohon Tunggu... Peminat masalah sosial kemasyarakatan dan pemerhati berita HIV/AIDS

Aktivis LSM (media watch), peminat masalah sosial kemasyarakatan, dan pemerhati (berita) HIV/AIDS

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Seks Raba-raba, Tapi Takut Kena AIDS

8 April 2012   06:26 Diperbarui: 25 Juni 2015   06:53 0 0 0 Mohon Tunggu...
Seks Raba-raba, Tapi Takut Kena AIDS
13338678011765590774

Tanya-Jawab AIDS No 23/April 2012

Pengantar. Tanya-Jawab ini adalah jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang saya terima melalui surat, telepon, fax, SMS, dan e-mail. Jawaban disebarluaskan tanpa menyebut identitas yang bertanya dimaksudkan agar bisa berbagi informasi yang akurat tentang HIV/AIDS. Beberapa di antara Tanya-Jawab ini sudah pernah dimuat di koran di beberapa kota. Sedangkan yang bertanya lewat SMS dan e-mail pun sudah dibalas secara singkat. Yang ingin menyampaikan pertanyaan, silakan kirim pertanyaan melalui: surat ke PO Box 1244/JAT, Jakarta 13012, e-mail sw_harahap@yahoo.com dan SMS 08129092017.

Tanya: Hari senin malam (12/3-2012) saya ‘jajan’ di hotel. Singkat cerita waktu itu saya masih berpakaian lengkap, masih memakai celana dalam, celana pendek dan baju. Sedangkan ceweknya hanya pakai celana dalam. Kami berpelukan. Saya menciumi tubuh cewek tsb. sampai suatu ketika air mani satya keluar. Tapi, masih dalam kondisi berpakaian seperti yang saya jelaskan. Saya takut sehingga tidak saya teruskan. Ini yang pertama karena selumnya tidak pernah. Saya melakukna hubungan seksual, bahkanpenis saya pun tidak bersentuhan dengan vagina, anus atau bagian lain dari tubuh cewek itu. Jujur saya menyesal dan takut. Sehari kemudian saya tes HIV hasilnya negatif. (1) Apakah saya terinfeksi HIV? (2) Apakah ada obat HIV/AIDS?

Tn ‘Y’, Jakarta (via SMS)

Jawab. (1) Yang pertama adalah kejujuran. Kalau kondisi Anda benar seperti yang Anda jelaskan tentu tidak ada risiko tertular HIV. Lagi pula ‘cewek’ itu pun belum tentu mengidap HIV/AIDS. Juga tidak dijelaskan cewek itu siapa: pekerja seks, cewek panggilan, ‘pacar’, dll.

Tidak semua atau tidak otomatis seorang pekerja seks mengidap HIV atau tertular HIV. Tapi, pekerjaan mereka yaitu melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan laki-laki yang berganti-ganti berisiko tertular HIV. Soalnya, bisa saja salah satu di antara laki-laki yang diladeni seorang pekerja seks mengidap HIV sehingga dia berisiko tertular HIV.

Yang menjadi persoalan besar adalah kita tidak bisa mengenali orang-orang yang sudah mengidap HIV/AIDS dari fisiknya. Tidak ada tanda-tanda (penyakit) yang khas AIDS pada fisik orang-orang yang sudah tertular HIV. Maka, jika melakukan hubungan seksual dengan yang tidak diketahui status HIV-nya hindarilah peregesekan langsung antara penis dan vagina, atau antara penis dan anus.

Nah, sekarang tinggal kejujuran Anda. Kalua memang tidak terjadi seks vaginal tidak perlu pusing tujuh keliling karena tidak ada risiko tertular HIV pada waktu itu.

Mengapa sehari kemudian Anda tes HIV? Ya, bisa saja karena Anda tidak memahami HIV/AIDS dengan benar. Jelas hasilnya tes akan nonreaktif (negatif) karena tidak ada kegiatan yang Anda lakukan dengan cewek itu berisiko tertular HIV.

Tapi, kalau, maaf, Anda melakukan seks vaginal atau seks anal (anus) baik pada malam itu, sebelumnya atau sesudah malam itu maka Anda berisiko tertular HIV.

Anda tidak jelas tes yang Anda lakukan sehari setelah kejadian di hotel itu. Kalau Anda benar tidak melakukan seks vaginal atau seks anal malam itu maka hasil tes itu benar adanya.

Tapi, kalau Anda pernah atau sering melakukan hubungan seksual dengan perempuan yang berganti-ganti atau dengan perempuan yang sering berganti-ganti pasangan, maka hasil tes itu bisa saja negatif palsu. Artinya, HIV sudah ada dalam darah tapi tidak terdeteksi karena tes HIV dengan ELISA hanya mencari antibody HIV yang baru ada di darah minimal tiga bulan setelah tertularHIV.

Sekarang gagang ada di tangan Anda. Kalau Anda tidak pernah melakukan perilaku berisiko, maka tidak perlu khawatir dan tidak perlu tes HIV. Sebaliknya, kalau pernah melakukan perilaku berisiko maka Anda perlu memikirkan tes HIV tiga bulan setelah hubungan seksual tanpa kondom terakhir dengan pasangan yang berganti-ganti atau dengan pekerja seks.

(2) AIDS bukan penyakit sehingga tidak (akan) ada obatnya. Pada masa AIDS (setelah tertular HIV antara 5 – 15 tahun) mulai muncul berbagai penyakit, disebut infeksi oportunistik, seperti diare, ruam, sariawsan, TBC, dll. yang sangat sulit sembuh. Nah, penyakitlah yang bisa diobati. Di puskesmas pun ada obat untuk infeksi oportunistik. Sedangkan HIV adalah virus. Belum ada obat yang bisa membunuh virus di dalam darah. Terkait dengan HIV ada obat antiretroviral (ARV) yang bisa menekan laju perkembangan HIV di dalam darah. ***[Syaiful W. Harahap]***

KONTEN MENARIK LAINNYA
x