Mohon tunggu...
Indria Salim
Indria Salim Mohon Tunggu... Freelance Writer

Freelance Writer, Photography enthusiast Twitter: @IndriaSalim / IG: @myworkingphotos

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Pilihan

[MBA] Makan Bubur Apa?

26 Februari 2016   09:11 Diperbarui: 26 Februari 2016   12:19 0 46 45 Mohon Tunggu...

[caption caption="Bubur kuah semur dan lauk rendang suwir khas Bukittinggi |Foto: Indria Salim"][/caption]Pagi-pagi begini, yang pertama terpikirkan setelah ritual pagi prioritas pertama (doa pagi, meditasi, gosok gigi, mandi pagi, sapa pagi), ya sarapan. Apalagi kalau kita ngantor, rumah jauh dari lokasi kantor atau tempat bekerja, nah bubur ayam bisa menjadi pilihan praktis.

Kita bisa membuat bubur sendiri, menyiapkan lauk seperti abon, opor ayam, krupuk, kacang goreng, sambal pedas, kecap, bawang goreng, perkedel, telur dadar, irisan daun bawang segar, rajangan daun seledri segar, balado telur, sate telur puyuh, apa saja bisa cocok untuk lauk bubur ayam.

[caption caption="Bubur Cirebon | Foto: tribunnews.com"]

[/caption]Masak bubur ayamnya tidak sulit. Kalau mau cepat, bubur dibuat dari nasi yang baru saja masak dari rice cooker, lalu direbus lagi dengan kaldu ayam yang sudah diberi bumbu garam secukupnya, daun salam dua lembar, itu saja. Kaldu ayam asli memberi rasa gurih yang dahsyat dibanding taburan vetsin. Kaldu ayam bisa disiapkan sebelumnya, mungkin malam hari atu siang, karena sesudahnya, kita bisa menyimpannya di kulkas.

Sambal untuk bubur ayam sesuai selera. Ada yang hanya dari cabe rawit dan bawang putih kukus yang ditumbuk halus, ada sambal pedas manis dari bahan yang lebih dulu digoreng, lalu baru ditumbuk, atau cukup sambal botolan.

[caption caption="Bubur kuah semur, tambah lauk sesuai selera | Foto: Indria Salim"]

[/caption]Kuah untuk bubur ayam – kalau itu menyiapkan sendiri bisa sesuai selera. Bisa opor ayam, atau hanya semur kecap yang dibuat agak kental. Semur kecap ini juga sedap dicampur dengan kuah opor ayam. Itu sebabnya kalau kita beli bubur ayam langganan (entah itu bubur ayam Cirebon, atau bubur ayam tanpa nama – abang bubur akan menanyakan apakah kita ingin pakai kuah opor, kuah kecap atau semur kecap, apa keduanya, atau malah tanpa kuah.

Pernah suatu ketika saya makan bubur ayam bersama teman-teman. Sambil sarapan bersama, kami ngobrol ngalor ngidul, dan tentu juga ngobrolin bubur yang sedang kami santap. Ada yang nyeletuk, “Oh, kamu kalau makan bubur diaduk ya?”

[caption caption="Bubur Indramayu polosan, sebelum makanan harus dialas plastik | Foto: Indria Salim"]

[/caption]“Lho, bukannya lebih mantap kalau makan bubur diaduk? Semua rasa akan menyatu, gurih cakwe, klethik-klethik dele goreng, wangi daun bawang, lezatnya sate ampela ati, tambah cabe pedes, wuih itu baru yang namanya penikmat bubur ayam sejati,” jawab teman saya lainnya.

“Ah, geli kalau makan bubur diublek – tampilannya jadi jelek, mending kaya saya satu persatu dinikmati dan dirasakan paduannya pelan-pelan. Kalau aku makan bubur ya gini. Tampilannya apik,seni kuliner itu kan juga nggak soal rasa saja, tapi termasuk tampilannya --- artistik gitu, apalagi kalau buat fotografi, mana asyiknya kalau bubur diaduk .. yuck!”

[caption caption="Bubur pakai perkedel dan telur dadar, kenapa tidak? | Foto: Indria Salim"]

[/caption]Akhirnya acara sarapan bubur bersama pagi itu diwarnai sedikit argumen sana-sini. Penulis sendiri lebih suka kalau bubur itu makannya dari pinggir mangkok, dan mengaduk lauk dan bumbunya setahap demi setahap. Rasa menyatu tanpa harus merusak pemandangan artistiknya. Tapi Penulis memilih menjadi pendengar dalam percakapan itu, dan akhirnya menulis di Kompasiana ini.

Oh ya, Penulis juga suka menikmati bubur dengan variasi lauk yang anti-mainstream. Misalnya nih, kebetulan di rumah ada persediaan rendang suwir asli didatangkan dari Bukittinggi. Kiriman teman! Kebetulan lagi, di meja ada sambal pedas manis dan semur ayam. Nah, buburnya bukan lagi “bubur ayam” tapi “bubur rendang suwir kuah semur dan bumbu sambal pedas manis. Biar lebih mantap, buburnya ditambahi kerupuk belinjo (emping gurih).

[caption caption="Roti gandum kuah rasa wedang bandrek dan coklat cadburry |Foto: Indria Salim"]

[/caption]Lain kali, Penulis malas memasak, malas pergi ke luar beli makanan, malas ngapa-ngapain. Tapi sarapan kan wajib? Di kulkas ada roti tawar wholebread (roti gandum). Memang ini roti favorit Penulis karena kandungan seratnya tinggi, jadi bagus untuk melancarkan pencernaan makanan. Anti sembelit, gitulah. Nah, ada persediaan wedang bandrek sachetan, ada juga bubuk coklat Cadburry – hajar bleh. Maka tersajilah roti gandum kuah wedang bandrek kombinasi coklat cadburry. Rasanya lezat, seperti makan pis roti ala Jawa, dengan cita rasa coklat harum khas cadburry dan manis gurih wedang bandrek. Ini memang resep ngawur, tapi sangat patut dan wajib disyukuri.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x