Mohon tunggu...
H.I.M
H.I.M Mohon Tunggu... Administrasi - Loveable

Hanya orang biasa yang memiliki 1 hati untuk merasakan ketulusan, 1 otak untuk berpikir bijak dan 1 niat ingin bermanfaat bagi orang lain | Headliners 2021 | Best in Specific Interest 2021 Nominee

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Ketika Keluarga Bukan Lagi Tempat Teraman, Apa yang Harus Dilakukan?

23 Juli 2020   23:07 Diperbarui: 24 Juli 2020   06:19 229
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi Pelecehan Seksual Pada Anak. Sumber Teras Sulbar

Kondisi ini semakin diperparah ketika sang ayah tidak dapat menahan hawa nafsunya ketika berada dekat dengan anak gadisnya. Inilah yang memicu ayah tega memperkosa sang anak.

Kasus kedua menjelaskan kepada kita bahwa faktor ekonomi pun bisa menjadi pemicu. Sang ibu menjual anaknya kepada pria hidung belang karena kondisi ekonominya yang terpuruk.

Kasus ini sering terjadi di masyarakat yang tinggal di daerah pemukiman atau pedesaan dengan pendapatan tergolong rendah.

Sebenarnya kasus ini sering terjadi di India atau negara berkembang dimana orang tua menjual anak gadisnya untuk mendapatkan uang. Selain itu juga ada yang menjual anak gadisnya agar beban keluarga berkurang.

Tidak hanya itu masih ada faktor lainnya yang ikut berpengaruh. Seperti dibawah pengaruh obat dan minuman keras. Kondisi ini membuat ayah atau saudara laki-laki tidak dapat mengontrol dirinya dan tega melakukan pelecehan seksual kepada anak/kakak/adik perempuannya. 

Seringnya menonton film dewasa juga bisa memancing tindakan ini. Ketika menonton film dewasa, hasrat bisa ikut terangsang dan niat untuk melampiaskan terasa tinggi. Akhirnya orang terdekat lah yang menjadi korban pelampiasan nafsunya tersebut.

Saya sangat prihatin terhadap perkembangan psikis korban pelecehan yang terjadi di lingkungan keluarga. Umumnya korban masih berusia kecil hingga remaja yang tidak berdaya.

Kasus pertama sang ayah akan tega memukul jika anaknya melawan menunjukkan bahwa anak adalah sosok lemah. Ketika mendapatkan ancaman atau tindakan fisik, mereka memilih menyerah dan diam. Mereka merasa tidak ada yang bisa dilakukan.

Saya teringat pada cerita junior saya yang merupakan konselor. Klien junior saya ini rata-rata adalah para wanita yang mengalami kekerasan rumah tangga dan pelecehan seksual. 

Saya pernah menulis masalah ini dalam artikel tersendiri. Tulisan saya terkait sexual abuse klik disini

Banyak korban pelecehan seksual memilih diam dan menjadikan kisahnya sebagai suatu kenangan buruk. Mereka tidak berani bercerita karena mengganggap ini adalah aib keluarga.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun