Mohon tunggu...
Indra Rahadian
Indra Rahadian Mohon Tunggu... Administrasi - Pegawai Swasta

Pemerhati sosial dari sudut pandang kedai kopi/penikmat sastra/penonton huru hara politik

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen: Malioboro, Romansa dan Kenangan

18 September 2021   11:33 Diperbarui: 18 September 2021   11:45 811 69 15
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Ilustrasi papan nama jalan Malioboro (Foto: Agto Nugroho Via Unsplash)

Yogyakarta, kota seribu luka. Mataku enggan terpejam di ujung malam. Merepih kenangan tertinggal pada kehangatan secangkir wedang. Di angkringan Mas Lik. Nostalgia tumpah-ruah. Meniti masa-masa penuh tawa dan kemesraan. Meski memudar, kian samar dalam ingatan. 

Harum nafasnya masih membekas. Di sepanjang jalan yang pernah kami lalui berdua. Malioboro dan keramaian. Dua hati memulai petualangan. Meskipun tak pernah tiba di titik akhir. Dan terkulai lemas dihempas takdir. 

Banyak orang datang untuk merayakan romantisme di kota ini. Dan tak sedikit yang sekadar singgah, meratapi kegagalan dan patah hati. Di tiap sudut kota, yang sesak cerita cinta. Tersenyum atau menitikkan air mata.

"Aku ingin selalu bersamamu, Han."

"Tentu saja, itu juga keinginanku, Widya." 

Harapan yang sama, tak menjamin masa depan dapat kami lalui bersama. Kata-kata mesra tertinggal dalam rangkaian cerita lama. Layaknya mimpi di malam hari. Hilang sirna, saat terbangun di pagi hari.

Pukul dua dini hari. Kumenyusuri jalan sepi. Menghembuskan asap dan harapan kosong. Tak seperti dahulu. Malioboro ramai dan hidup. Dimana alunan musik, sajak dan puisi, mengisi malam menjelang pagi.  

"Sangkan paraning dumadi." Dan sebuah janji, membawaku kembali ke kota ini. Meski telah tertunda, dua puluh tahun lamanya. Di Malioboro, haruskah aku memasrahkan kisah lalu. Atau meraihmu kembali dalam pelukan?

Kuhempaskan angan-angan dan ekpektasi ke dalam keranjang sampah. Menyandarkan keinginan hanya sebatas do'a. "Widya, aku masih tergila-gila. Ingatan tentangmu masih tersisa. Dan perasaan ini tak mau berbeda."

Dua puluh tahun lalu, waktu seakan enggan berputar. Hari-hari penuh kebahagiaan tak bertepi. Mereguk secawan kemesraan dan cinta. Mabuk dan tenggelam dalam romantisme Yogyakarta

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan