Fesyen Pilihan

Kisah di Balik Jatuh Bangun Kate Spade

8 Juni 2018   12:27 Diperbarui: 8 Juni 2018   13:05 1138 1 0
Kisah di Balik Jatuh Bangun Kate Spade
Sumber: https://www.independent.co.uk

Awal bulan Juni ini menuai duka untuk para pecinta mode, khususnya fans label Kate Spade. Desainer ternama tersebut meninggal dunia di usianya 55 tahun karena bunuh diri. Ia ditemukan di aparterment nya pada hari Selasa, 5 Juni 2019 di New York.

Label tersebut beridiri pada tahun 1993 dan popular di era 90-an karena rancangannya yang unik berupa warna-warna yang mencolok. Di awal mulanya, Kate Spade memunculkan unsur ceria dan menyenangkan ala Midwestern, New York sehingga mencapai prestasi yang tidak didapat label fashion lain. Namun, kesuksesan tersebut telah di lepas oleh Kate, perancang label Kate Spade.

Dilansir dari CNNIndonesia, nama Kate Spade disepakati sebelum Katie Brosnahan menikah dengan Andy Spade. Dikutip dari Town and Country Magazine, Label Kate Spade ada sebelum Katie belum mengubah nama belakangnya karena belum menikah dengan Andy.

Kisah Kate dan Andy bermula saat mereka sama-sama masih menjadi seorang mahasiswa di Arizona State University. Kate berasal dari Kansas, merupakan mahasiswa jurnalistik yang pernah bekerja di bar sepeda motor dan toko pakaian.

Saat itu Kate bertemu Andy di toko pakaiannya. Kate pernah menceritakannya pada Guy Raz di episode NPR How I built This kalau dia berada di rak perempuan. Sedangkan, Andy berada di rak pria. Mobil Andy mogok, sehingga dia meminta Kate untuk pulang bersama. "Dan kami benar-benar memulai sebagai teman yang benar-benar hebat," papar Kate. Dari sanalah awal mula ia bertemu Andy yang kemudian menjadi suaminya.

Kate pergi ke Eropa setelah lulus pada tahun 1985 dan bekerja di bagian aksesori di majalah Mademoiselle. Tapi saat itu ia berniat kembali ke Arizona untuk bersama dengan Andy. Kate berinisiatif untuk menetap selama 6 bulan saja dan kembali ke Arizona. "Dan akhirnya saya berkata, 'Saya harus jujur, saya agak menyukai pekerjaan saya. Saya suka, langkah cepat New York. Dan tiba-tiba saja - saya menyukainya," papar Kate.

Setelah Kate berada di New York, Andy menyusulnya. Mereka berdua tinggal di aparterment kecil. Saat itu Andy Spade bekerja di periklanan, dan Ibu Kate tidak suka akan hal itu. Beberapa tahun kemudian, Kate berhenti bekerja di Mademoiselle. Ia mencoba membuat desain tas atas saran Andy. Bisnis ini dibiayai oleh gaji Andy dan tabungannya. "Pada saat itu, tas terlalu rumit. Dan saya benar-benar menyukai bentuk desain tas yang sangat sederhana," ujar Kate.

Tentunya, ada jatuh bangun dalam mendirikan bisnis tersebut. Sukses bukanlah sebuah hal yang instan. "Saya tak tertarik kehilangan uang," ujar Kate pada Raz.

Pada awalnya Kate menangis karena rancangannya tak terjual banyak saat pameran, sehingga ia tidak bisa menutupi biaya sewa booth. Dengan positifnya, Andy menyemangati Kate. Andy menguatkannya, dan berkata: Katie, kamu punya dua toko terbaik di Amerika. Kenapa kamu menangis? Jangan berhenti. Pada saat itu ada dua department store, yaitu Barney dan Fred Segal yang telah memesan tas mereka.

Nama Kate Spade muncul dari gagasan Andy. Ia terus bilang kalau Ia dan Kate adalah 50-50 mitra. Kemudian, Kate menyetujuinya, dan orang-orangpun menyukai nama label tersebut. "Saya menyukainya, Kate Spade New York."

Nama baru untuk label mereka juga memicu sebuah hambatan. Ibu Kate, menilai nama itu tidak patut seperti yang dipaparkan di awal tulisan ini. Nama tersebut tidak patut dipakai karena Kate dan Andy belum menikah, dan Ibu Kate selalu mempertanyakan alasan dibalik nama tersebut. Kate beralasan, label itu beranjak dari nama pertamanya, dan nama belakang Andy, seperti halnya Dolce & Gabbana. Pada tahun 1994, Kate dan Andy kemudian menikah dan memiliki seorang anak pada tahun 2005 bernama Frances Beatrix Spade.

Suksesnya Kate Spade berlangsung cukup lama. Pada tahun 1999 Spades menjual 56% dari merk ke clinet terbesar mereka, Neiman Marcus. Kate Spade awalnya terjual 56 persen saham sebesar US$33,6 juta (Rp466 miliar) pada Neiman Marcus. Liz Claiborne kemudian membelinya pada 2006 senilai US$124 juta (Rp1,7 triliun). Lalu, pada 2017, label itu kemudian terjual ke Coach (sekarang Tapestry) senilai US$2,4 miliar (Rp33 triliun).

Kate melepas bisnisnya karena memiliki seorang anak, yaitu Frances. "Saya ingin pergi dengan kondisi baik," kata Kate tentang keputusan itu. Kate sendiri pernah berkata ia perlu istirahat dan ia ingin membesarkan putrinya.

Rest in Peace, Kate Spade.