Mohon tunggu...
IMAY MAULIDA
IMAY MAULIDA Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa

Saya saat ini sedang menempuh pendidikan sebagai seorang mahasiswa di Universitas Jenderal Soedirman

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Alam & Teknologi

Pandemi Paksa Modernisasi Pendidikan Pedesaan

23 September 2021   10:38 Diperbarui: 23 September 2021   10:47 109 2 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Pandemi Paksa Modernisasi Pendidikan Pedesaan
Ilmu Alam dan Teknologi. Sumber ilustrasi: PEXELS/Anthony

Sudah lebih dari satu tahun warga dunia mengalami situasi pandemi. Sejak covid-19 pertama kali dilaporkan di Wuhan pada akhir 2019 dan pada pertengahan September ini, sudah lebih dari 200 juta kasus yang dikonfirmasi. Kondisi pandemi ini benar-benar mengubah cara hidup manusia di seluruh dunia tanpa terkecuali, menyebabkan manusia dipaksa untuk bisa hidup berdampingan dengan situasi sekarang. Oleh sebab itu banyak terjadi penyesuaian-penyesuaian aturan dalam setiap aktivitas guna bisa bertahan dalam kondisi sekarang.

Di Indonesia sendiri, pemerintah sudah melakukan berbagai upaya dalam menghadapi situasi pandemi sekarang. Mulai dari karantina wilayah, pembatasan sosial berskala besar (PSBB), dan sekarang pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM). Kebijakan-kebijakan tersebut diberlakukan guna memutus mata rantai penyebaran covid-19 di Indonesia.

Dengan berlakunya kebijakan di atas, sudah tentu banyak aspek kehidupan yang dibatasi, salah satunya bidang pendidikan. Sejak April 2019 kegiatan sekolah dilakukan secara online atau daring menyusul diberlakukannya PSBB oleh pemerintah. Berubahnya sistem pembelajaran menjadi daring mungkin tidak terlalu berdampak di masyarakat perkotaan, yang mana sudah hidup dengan teknologi. 

Berbeda dengan masyarakat desa yang pemahaman dan perkembangan akan teknologi yang jauh tertinggal. Berikut beberapa kendala yang dialami masyarakat desa dalam metode belajar secara daring, dan menjadi faktor yang mendorong untuk adanya modernisasi pada bidang pendidikan di desa atau pelosok.

Pemahaman akan teknologi yang rendah

Gagap teknologi merupakan masalah yang umum dialami masyarakat desa. Alasannya tentu tertinggalnya informasi dan pengetahuan akan teknologi digital saat ini. Oleh karena itu, program belajar daring akibat pandemi ini sedikit memberatkan bagi para siswa yang belum mengerti bagaimana cara menggunakan teknologi. Bukan hanya dari para siswa, para guru pun yang sudah tebiasa menggunakan metode pebelajaran tatap muka secara langsung juga menglami kendala. Tidak sedikit guru di sekolah-sekolah pedesaan yang tidak tahu bagaimana cara menggunakan aplikasi untuk pembelajaran daring seperti zoom, google meet, dan google classroom.

Tidak semua siswa memiliki gawai

Di masa sekarang, gawai atau smartphone tidak bisa lepas dari kehidupan semua orang dan menjadi barang wajib guna bisa mengakses segala macam informasi. Gawai juga digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi antar satu sama lain, sebagaimana pada dasarnya manusia sebagai makhluk sosial. Akan tetapi, bagi masyarakat desa gawai cenderung bukan jadi barang wajib untuk dimiliki. 

Banyak faktor pula mengapa masyarakat desa tidak memiliki gawai, mulai dari ketidak mampuan secara ekonomi, bukan menjadi prioritas, dan pandangan orang tua yang takut anaknya mengakses hal buruk jika anaknya memakai gawai. Namun, dengan situasi sekarang mau tidak mau kepemilikan gawai menjadi hal pertama yang harus dipenuhi untuk bisa mengikuti kegiatan belajar.

Akses jaringan internet yang terbatas

Selain gawai, tersedianya jaringan internet juga menjadi hal penting dalam pembelajaran daring. Sudah bukan lagi rahasia umum jika penyebaran jaringan internet di Indonesia belum merata. Tidak seperti di daerah perkotaan dimana internet dapat diakses di semua tempat, di pedesaan cenderung sulit untuk bisa mendapatkan akses internet. Oleh karena itu, kegiatan pembelajaran melalui video call meeting susah untuk dilakukan dan kurang maksimal.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan