Mohon tunggu...
Imam Subkhan
Imam Subkhan Mohon Tunggu... Penulis, public speaker, content creator

Aktif di Perhumas Surakarta, pendiri Akademi Orangtua Indonesia Surakarta, pengelola lembaga pelatihan SDM pendidikan, dan aktif menulis di berbagai media, baik cetak maupun online. Kreativitas dan inovasi dibutuhkan untuk menegakkan kebenaran yang membawa maslahat. Kritik dan saran silakan ke: imamsubkhan77@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Cahaya Gus Dur Tak Pernah Padam

30 Desember 2020   09:49 Diperbarui: 30 Desember 2020   12:32 224 3 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Cahaya Gus Dur Tak Pernah Padam
lokadata.com

Tulisan ini saya buat sepekan setelah meninggalnya Sang Guru Bangsa, Gus Dur. Di penghujung tahun 2020 ini, tulisan ini masih relevan untuk mengenang jejak Gus Dur yang begitu fenomenal. Sungguh saat ini, kita benar-benar kangen kehadiran Gus Dur. Di tengah-tengah keprihatinan bangsa yang akut, kita butuh nasihat dan pemikiran Gus Dur yang simpel, ringan, namun futuristis dan syarat dengan nilai-nilai kemanusiaan yang tinggi. 

Hari ini kita bisa membuktikan kebenaran kata-kata Gus Dur di setiap kejadian yang dialami bangsa ini. Cuplikan video-video Gus Dur kini dicari dan viral. Dan kita bisa saksikan, sampai detik ini makam Gus Dur tak pernah sepi oleh para petakziah dari seantero negeri. Hadiah Al Fatihah untuk Almarhum Gus Dur, tetaplah menghibur bangsa ini, meskipun engkau telah duduk santai di alam sana.

----------------

Walaupun sudah hampir satu pekan pasca wafatnya Kiai Haji Abdurrahman Wahid atau biasa akrab disapa Gus Dur, namun suasana duka cita masih sangat terasa di setiap penjuru tanah air. Kita semua, seolah-olah belum percaya atas tiadanya sang pejuang demokrasi ini. Terasa, wafatnya beliau lebih cepat dari apa yang kita duga. Dikarenakan selama ini publik terbiasa disuguhi kabar tentang kesehatan Gus Dur yang naik turun. Namun pada kesempatan lain, Gus Dur tampil di media dengan statemen-statemennya yang khas atau menghadiri sebuah acara penting tertentu.

Dua hal ini yang selama ini mewarnai kehidupan Gus Dur yang dikenal publik, terutama masyarakat awam, sehingga ketika terdengar kabar di media beberapa hari sebelum wafatnya beliau, tepatnya 24 Desember 2009 bahwa kondisi kesehatan Gus Dur menurun dan harus dilarikan ke rumah sakit seusai melakukan ziarah ke beberapa makam kiai di Jawa Tengah dan Jawa Timur, masyarakat tidak terlalu kaget, termasuk penulis.

Namun rupanya, di penghujung tahun 2009, Sang Khalik harus menyempurnakan perjuangan Gus Dur di dunia. Di usianya yang ke-69 tahun, bertepatan dengan hari ulang tahun putri bungsunya (30/12/2009), bangsa Indonesia harus kehilangan putra terbaiknya, Sang Guru Bangsa, Bapak Pluralisme dan Multikulturalisme, Pahlawan Demokrasi, Pembela Kaum Minoritas, serta Negarawan Sejati. Sebagaimana diungkapkan presiden SBY tatkala memberikan sambutan pada acara kenegaraan pemakaman almarhum Gus Dur di kompleks Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur (31/12/2009).

Meninggalnya Gus Dur, ternyata banyak sekali pelajaran dan hikmah yang patut dijadikan refleksi bersama oleh bangsa ini. Banyak yang mengira, ketika Gus Dur lengser dari kursi kepresidenan pada tahun 2001, era Gus Dur sudah selesai. Pengaruh dan kharismatiknya diperkirakan sirna di tengah-tengah masyarakat. 

Ternyata, dugaan tersebut meleset dan telah terbantahkan dengan realita yang ada. Gus Dur tetap konsisten dalam memperjuangkan prinsip-prinsip hidupnya, walaupun tidak sedikit yang menghujat dan menentangnya. Beliau selalu hadir dan mengawal setiap momentum penting di negeri ini, termasuk kisruh KPK kemarin. Dengan kepercayaan diri yang tinggi, semangat juang yang membara, serta diiringi kekuatan spiritual dan keikhlasannya dalam membela yang benar, telah mampu mengalahkan "musuh-musuhnya" sampai akhir hayatnya.

Kini, setelah beliau tiada, semuanya terbukti dan menjadi saksi. Betapa Gus Dur sangat dicintai dan dikagumi oleh semua lapisan masyarakat, termasuk yang selama ini berseberangan dengan pemikiran-pemikirannya, baik di ranah politik, budaya dan keagamaan. Lihat saja, sampai detik ini, makam Gus Dur di ponpes Tebuireng terus dibanjiri para peziarah dari seluruh penjuru tanah air dan berbagai elemen masyarakat. Mulai anak-anak, pelajar, mahasiswa, akademisi, pejabat, tukang becak, artis, seniman, budayawan, aktivis, tokoh ormas, santri, para kyai, pengusaha, turis asing, bahkan semua penganut agama turut berziarah dan mendoakannya.

Sementara di berbagai daerah, digelar doa bersama, tahlilan, dan salat gaib untuk mendiang Gus Dur. Selain itu, kegiatan yang cukup unik juga digelar, seperti aksi barongsai menabur bunga di atas foto Gus Dur di Solo serta aksi satu juta lilin dan doa bersama oleh komunitas lintas agama di tugu Proklamasi Jakarta baru-baru ini. Sungguh sebuah pemandangan langka jika dibandingkan dengan tokoh-tokoh besar yang meninggal dunia sebelumnya, baik di Indonesia maupun di dunia.

Tidak hanya itu, para pemimpin-pemimpin dunia pun turut memberikan ucapan belasungkawa dan komentar mengenai sosok Gus Dur. Sekaliber presiden AS, Barrack Obama pun turut memberikan statemen bahwa Gus Dur sebagai perintis dan pemrakarsa demokrasi di Indonesia dan dunia. Sampai saat ini pun, berbagai media massa masih terus menayangkan biografi Gus Dur dalam tajuk "in memorium Gus Dur" disertai tanggapan dari para sahabat Gus Dur, bahkan rival-rival Gus Dur di kancah perpolitikan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x