Mohon tunggu...
Imam Subkhan
Imam Subkhan Mohon Tunggu... Penulis, public speaker

Aktif di Perhumas Surakarta, pendiri Akademi Orangtua Indonesia Surakarta, pengelola lembaga pelatihan SDM pendidikan, dan aktif menulis di berbagai media, baik cetak maupun online. Kreativitas dan inovasi dibutuhkan untuk menegakkan kebenaran yang membawa maslahat. Kritik dan saran silakan ke: imamsubkhan77@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Belajar Menerima Kekalahan, Karakter yang Perlu Diajarkan Sejak Dini

27 Mei 2019   13:11 Diperbarui: 27 Mei 2019   14:02 559 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Belajar Menerima Kekalahan, Karakter yang Perlu Diajarkan Sejak Dini
kompas.com

Akhir-akhir ini, istilah atau kata "menang dan kalah" sering mencuat di publik Indonesia, terlebih-lebih di media sosial. Misalnya dalam bentuk kalimat atau diksi seperti ini, "Siap Menang Siap Kalah", "Berani Menang Berani Kalah", "Menerima Kekalahan Itu Sulit", "Siap Menang Tak Siap Kalah", "Kalah Terus-Menerus Memang Menyakitkan", "Buat Apa Menang Kalau Curang", "Kalah-Menang Kita Tetap Indonesia", "Sampai Kapan Pun Kami Tetap Menang dan Kalian Kalah", dan seterusnya. Kata-kata "menang dan kalah" selalu ada di dalamnya.

Pertanyaannya, apakah "siap menerima kekalahan" adalah salah satu nilai atau karakter yang perlu diajarkan kepada anak-anak kita sejak dini? Karena secara tabiat, sulit bagi manusia untuk mengakui kalah atau gagal, sekali pun itu orang dewasa. Tak sedikit yang orang tersebut akhirnya kecewa berat, frustasi dan menganggap hidupnya telah gagal. Bahkan ada yang menjadi gila dan bunuh diri, gara-gara sebuah kekalahan. Luar biasa bukan efeknya?

Oleh karena itu, menurut hemat saya, siap menerima kekalahan adalah karakter yang perlu dilatihkan kepada anak-anak sejak dini. Malah sebaiknya, karakter ini bisa dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah dan menjadi salah satu aspek penilaian ranah sikap sosial.

Saya masih ingat betul, ketika pada suatu hari, saya mengantar anak saya yang masih duduk di jenjang prasekolah ikut lomba mewarnai di sebuah mal di kota Solo. Sebenarnya saya tahu persis kemampuan anak saya dalam hal mewarnai. Jika dibandingkan dengan anak-anak yang ikut belajar di sanggar, tentu hasilnya akan sangat jauh. 

Dengan melihat peta persaingan peserta, tentu saya sudah bisa memperkirakan, bahwa anak saya sulit untuk menjadi juara, apalagi hanya memperebutkan juari 1 sampai juara 3. Namun tetap saja saya ikutkan anak saya berkompetisi. Tujuan saya sesungguhnya bukan pialanya, tetapi pengalaman yang berharga sekaligus mengasah keberanian dan bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya.

Dan benar saja, anak saya tak juara. Dari ratusan peserta, hanya 3 anak yang mendapatkan piala dan hadiah. Saya melihat pada waktu pengumuman dilakukan, tak sedikit anak-anak yang menangis ketika melihat piala-piala itu jatuh ke tangan anak lain. Mereka merengek-rengek ke orang tuanya untuk juga mendapatkan piala itu. Termasuk anak saya, dia terus mengacungkan jarinya ke piala itu. "Aku ingin piala itu Ayah!" rengek anak saya. 

Sebagai orang tua, saya pun tak kehabisan ide untuk memenuhi permintaan anak. Sepulang lomba, saya mampir ke pengrajin pembuat piala atau trofi, dan saya pesan satu untuk anak saya, bahkan saya tempel foto anak saya di piala tersebut. Bukan main senangnya anak saya. Akhirnya, dia bisa tersenyum dan tertawa lagi sepanjang perjalanan pulang.

Jujur saja, saya sudah bisa memprediksi hal ini akan terjadi. Seusia mereka, anak tak siap untuk berkompetisi dan memahami konsep menang-kalah. Bagi mereka, ketika sama-sama sudah melakukan proses yang melelahkan, maka mereka akan mendapatkan hal yang sama pula dengan hasilnya. "Jika yang lain dapat piala, mengapa saya tidak? Padahal saya juga sama-sama mengerjakan dengan sebaik mungkin?"

Itulah sebabnya, saya selalu mengusulkan kepada sekolah anak usia dini dan panitia-panitia lomba, untuk selalu menyediakan hadiah sesuai jumlah peserta lomba. Lebih baik lagi, jika pialanya pun dibuatkan untuk semua anak, meskipun bagi anak juara 1 sampai 3 sedikit dibedakan. Artinya, sebisa mungkin sebagai orang tua, kita memberikan apresiasi dan penghargaan atas jerih payah anak. Selain mendapatkan hal-hal yang konkret seperti hadiah dan piala, anak juga harus kita apresiasi dalam bentuk kata-kata, ekspresi, bahasa tubuh, sentuhan, dan pelukan yang hangat. Misalnya, "Kamu hebat Nak, Ayah bangga sama kamu!"

Lalu pertanyaan berikutnya, kapan anak mulai diperkenalkan tentang konsep menang-kalah dalam sebuah kompetisi?  

Menurut saya, sebaiknya juga sudah dilatih dan dibiasakan sejak dini atau sejak usia prasekolah, meskipun dalam bentuk permainan. Sebaiknya hal ini dilakukan di lingkungan keluarga atau oleh orang tuanya sendiri. Lebih tepat lagi, jika anak sudah mulai bisa berpikir logis, yaitu ketika anak sudah duduk di bangku kelas 2 sekolah dasar ke atas. 

Saya mengutip sebuah artikel yang relevan dengan permasalahan ini, yakni dari klikdokter.com, yang berjudul "7 Kiat Mengajarkan Anak Menerima Kekalahan".

Menurut para ahli, bahwa menanamkan sikap menerima kekalahan sangat baik bagi perkembangan anak. Di satu sisi, mereka akan bisa mengevaluasi apa yang menyebabkan dia gagal, di sisi lain, anak memahami pentingnya bersikap adil atau menghargai hasil yang sudah terjadi.

Masih menurut sumber ini, sebaiknya kita jangan membiarkan anak menjadi pribadi yang mau menang sendiri ketika sudah dewasa. Dan jangan biarkan anak menjadi sosok yang menghalalkan segala cara ketika berkompetisi.

Nah, berikut ini cara atau kiat mengajarkan anak untuk bisa menerima kekalahan:

1. Pentingkan proses, jangan hasil

Sebagai orang tua, kita jangan sampai mementingkan hasil. Jika anak kalah, lebih baik evaluasi dan diskusikan dengan anak apa yang telah terjadi.

"Anda bisa sampaikan kepada anak-anak bahwa tidak masalah kalau kalah. Sebut bahwa dia sudah berusaha dan ke depannya harus perbaiki diri," misalnya seperti itu.

2. Perbaikan dirinya jauh lebih penting

Ajari anak untuk memperbaiki diri usai kekalahan. Jangan lupa untuk apresiasi setiap kemajuan yang anak lakukan atau yang dialami. Dengan mengapresiasi setiap perbaikan yang dialami anak, anak menjadi tahu bahwa sebenarnya dia tidak seburuk yang dipikirkannya.

3. Terus semangati anak

Sebaiknya kita jangan sekali-kali membicarakan keburukan atau kekurangan anak ketika dia kalah. Semangatilah dia untuk memperbaiki diri dan kesempatan masih terbuka lebar, untuk bisa mendapatkan hasil yang lebih lagi ke depannya.

4. Orang tua perlu menjaga sikap

Sewaktu anak kalah, sebaiknya jangan tunjukkan kekecewaan di depan anak. Ini supaya anak tidak semakin sedih setelah kalah. Pastikan kita justru memberikan wajah gembira dan menyenangkan, sehingga anak seperti mendapatkan penghargaan.

5. Tidak berlaku curang

Kita jelaskan kepada anak bahwa kekalahan yang sudah dialami tidak boleh membuatnya berlaku curang pada kompetisi selanjutnya. Ajarkan kepada anak untuk selalu berkompetisi sesuai aturan dan tidak menghalalkan segala cara.

6. Memberi selamat kepada lawan

Sebaiknya, kita ajari anak untuk memberi ucapan selamat kepada pemenang. Itu adalah salah satu cara terbaik untuk menerima kekalahan anak. Ini juga sekaligus mengajarkan anak untuk berbesar hati menerima sebuah kekalahan.

7. Tetap beri hadiah meski kalah

Kita sebagai orang tua, ketika melihat anak kalah, tidak ada salahnya untuk memberikan apresiasi atau hadiah kepada anak. Tekankan bahwa hadiah itu sebagai apresiasi atas kerja kerasnya dalam berkompetisi sesuai dengan aturan.

Itulah beberapa kiat yang bisa kita lakukan kepada anak. Bahwa mengajarkan anak menerima kekalahan, akan membuat anak bisa menghadapi kompetisi dengan jujur dan sportif ke depannya. Kelak, dengan mengajarkan anak siap menerima kekalahan dengan lapang dada, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang tangguh. SEMOGA!

#SiapMenerimaKekalahan #SiapMenangSiapKalah #BerkompetisiyangSehat

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x