Mohon tunggu...
Imam Subkhan
Imam Subkhan Mohon Tunggu... Penulis, public speaker

Aktif di Perhumas Surakarta, pendiri Akademi Orangtua Indonesia Surakarta, pengelola lembaga pelatihan SDM pendidikan, dan aktif menulis di berbagai media, baik cetak maupun online. Kreativitas dan inovasi dibutuhkan untuk menegakkan kebenaran yang membawa maslahat. Kritik dan saran silakan ke: imamsubkhan77@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Kemubaziran Uji Kompetensi Guru (UKG)

13 November 2015   12:34 Diperbarui: 18 November 2015   15:14 0 0 0 Mohon Tunggu...

[caption caption="Foto: fip.unesa.ac.id"][/caption]

Saat ini, mesin pencari situs di internet didominasi oleh subyek pencarian dengan kata kunci (keyword) Uji Kompetensi Guru (UKG), baik yang mencari informasi tentang pedoman pelaksanaan UKG, kisi-kisi soal UKG, maupun simulasi dan latihan UKG. Tentu saja sebagai netizen atau netter-nya (sebutan untuk pengguna internet) adalah para guru yang saat ini tengah menunggu giliran untuk diuji kompetensinya (9-27 November), terutama pada aspek kompetensi pedagogik dan profesional.

Pelaksanaan UKG kali ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, yang hanya diberlakukan untuk guru-guru yang sudah tersertifikasi. UKG tahun 2015 diperuntukkan semua guru yang terdaftar dalam data pokok pendidikan (Dapodik), baik yang sudah bersertifikasi profesi maupun belum, PNS maupun honorer, pada jenjang PAUD, SD, SMP, SMA dan SMK, yang jumlahnya mencapai angka 2,9 juta guru di seluruh Indonesia.

Walaupun pemerintah menjamin bahwa hasil UKG bukan untuk menentukan kelulusan atau bahan pertimbangan terkait tunjangan profesi guru (TPG), tetapi ketegangan dan kepanikan tetap saja melanda jiwa para guru. Pasalnya, hasil UKG tahun ini bakal dipublikasikan secara luas, bukan hanya perolehan nilai secara keseluruhan, tetapi juga per individu guru akan ditayangkan. Meskipun ada polemik, tentang apakah siswa dan walimurid juga berhak tahu atas hasil UKG para guru di sekolahnya. Karena jika hasilnya rendah, dimungkinkan menimbulkan keresahan sekaligus menurunnya tingkat kepercayaan siswa dan walimurid terhadap gurunya.

Namun demikian, pemerintah memastikan bahwa perolehan hasil UKG pada masing-masing guru menjadi bagian dari penilaian kinerja, selain digunakan sebagai bahan pertimbangan kebijakan dalam pemberian program pembinaan dan pengembangan profesi serta pemberian penghargaan dan apresiasi kepada guru. Dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, secara eksplisit mengamanatkan adanya pembinaan dan pengembangan profesi guru secara berkelanjutan sebagai aktualisasi dari sebuah profesi pendidik yang dilaksanakan bagi semua guru, baik yang sudah bersertifikat maupun belum bersertifikat.

Jika melihat hasil UKG tahun 2012-2014, memang “kualitas” guru masih jauh dari yang diharapkan, karena nilai rata-ratanya masih di bawah 5,0. Itu saja pesertanya merupakan guru-guru yang sudah bersertifikasi profesi, yang notabene guru-guru senior dan guru-guru yang telah lulus mengikuti program pendidikan dan latihan profesi guru (PLPG). Maka bisa diprediksikan, hasil UKG tahun 2015 bisa jadi akan lebih buruk, mengingat diikuti oleh semua guru, termasuk guru-guru yunior dan belum memiliki sertifikat pendidik. Jadi, target nilai 5,5 oleh pemerintah barangkali belum bisa tercapai untuk UKG tahun ini.

Lemahnya Konsep

Jika mengacu pedoman pelaksanaan UKG tahun 2015 yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, Kemendikbud RI, ada tiga tujuan yang ingin dicapai, yaitu (1) memperoleh informasi tentang gambaran kompetensi guru, khususnya kompetensi pedagogik dan profesional sesuai dengan standar yang telah ditetapkan;

(2) mendapatkan peta kompetensi guru yang akan menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan jenis pendidikan dan pelatihan yang harus diikuti oleh guru dalam program pembinaan dan pengembangan profesi guru dalam bentuk kegiatan pengembangan keprofesian berkelanjutan (PKB); dan (3) memperoleh hasil UKG yang merupakan bagian dari penilaian kinerja guru dan akan menjadi bahan pertimbangan penyusunan kebijakan dalam memberikan penghargaan dan apresiasi kepada guru.

Menurut penulis, kebijakan pelaksanaan UKG sama halnya dengan pemberlakuan ujian nasional (UN) pada siswa yang sampai detik ini sebagian publik di Indonesia menginginkan untuk dihapus. Tidak jauh berbeda dengan UN, soal-soal UKG pun lebih dominan mengukur pada ranah kognitif atau aspek pengetahuan dengan soal-soal bentuk pilihan ganda. Bisa diprediksi, bagi guru yang rajin berlatih menjawab soal-soal UKG dengan kisi-kisi yang tepat, dijamin hasilnya akan baik, perkara kemampuan mengajarnya di kelas masih diragukan.

Maka pertanyaannya, bisakah hasil UKG ini mencerminkan tingkat kompetensi guru yang sesungguhnya? Dan layakkah, jika hasil UKG ini menjadi acuan untuk pemetaan kompetensi guru yang digunakan sebagai analisis kebutuhan (need assessment) untuk program pendidikan dan pelatihan guru ke depan?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x