Imam Kodri
Imam Kodri karyawan swasta

Formal Education Background in UPDM (B) Of Bachelor’s Degree of Politics and Social Science, majoring of Public Administration and Master Degree, Majoring of Human Resources. Worked in various private companies over 30 years, such as: PT. Pan Brothers Textile as HRD Assistant Manager, PT. Sumber Makmur as HRD Manager, General Personnel Manager at PT. Bangun Perkarsa Adhitamasentra, Senior Manager of HRD and General affair at PT. Indoraya Giriperkarsa, Headmaster of Kelapa Dua High School, and the last, Head of the General Bureau and Human Resources at ISTN Jakarta.

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Indonesia Masih Membutuhkan Ki Lurah Semar Badranaya, Sanghyang Ismaya Mangejawantah

6 Desember 2014   14:16 Diperbarui: 17 Juni 2015   15:55 1015 0 0

Di Bale Markundo manik Sang HyangManikmaya sedang ada pertemuan para dewa yang dihadiri oleh Sang Hyang Narada, Sanghyang Indra, Sangyang Yamadipati, SanghyangPenyarikan, SangHyang Wisnu, Dewi Durga, Pendeta Durna, sedang membicarakan dengan serius membahas apa yang menyebabkan sering terjadinya musibah yang menimpa Kahyangan akhir-akhir ini.

Kahyangan Jongring Salaka sering dilanda oleh banyak kejadian yang aneh yang sulit diketahui asal muasal kejadiannya, macam-macam bentuknya, mulai keadaan kawah candra yang sering bergejolak siang dan malam, timbulnya angin puting beliung tak mengenal batas musim sampai menerjang Kori Selomatangkep.

Udara panas menyengat siang malam sehinga menjadikan ontran-ontran yang menimpa para dewa para dewi, para widadara, para widadari, para hapsara para hapsari. Pertemuan yang semula dalam suasana tenang, penuh dengan suasana musyawarah, lama kelamaan mulai berubah tegang-tengsi tinggi, menjadi arena perdebatan sengit terutama oleh mereka berdua yang menjadi tokoh yang seharusnya menjadi panutan para dewa hyang-hyang jiwandana.

Perdebatan yang saling memperlihatkan sifat tidak mau kalah oleh masing-masing pihak ingin tetap mempertahankan kebenarannya. Menurut SangHyang Narada musibah yang sering melanda Kahyangan Jongring Salaka ini akbat ulah dari Sanghyang Girinata (SangHyang Guru) sendiri yang telah melakukan tindakan menyimpang sering melakukan pelanggaran hukum dan peraturan perundangan sertaadat yang sudah ditentukan di Kahyangan.

Menurut maha menteri kayangan suralaya itu, Sanghyang Guru sering melakukan tindakan fitnah kepada para pandawa, selain memfitnah kepada para pandawa Sanghyang guru juga sering membohongi dan selalu melanggar janji kepada para pendawa. Namun Sanghyang Manikmaya berdalih bahwa seringnya ia ingkar janji baginya sekedar untuk mengetrapkan ilmu melanggar janji yang ia ciptakan sendiri.

Menurutnya melanggar janji adalah hal yang lumrah menurut pandangannya, dan sudah selayaknya seorang manikmaya karena maharajaannya harus bisa melanggar janji, hal ini penting untuk mempertahankan eksistensikekuasaannya di kahyangan, untuk menjaga kewibawaan para dewa sendiri.

Mengfitnah, pemaksaan kehendak, tekanan moral kepada para pandawa, menurut pandangannya juga dianggap penting , tujuannya agar para pandawa tidak berani protes, usul, menuntut, apalagi melakukan unjuk rasa dan sejenisnya. Para pandawa harus dikondisikan dalam keadaan lemah baik spirit, maupun secara fisik. Bila tidak demikian yang dikhawatirkan adalah para pendawa akan dapat menyaingi Kahyangan Jongring Salaka, bahkan mengalahkannya.

Bagi Batara Guru melakukan tindakan berbohong juga dianggap sah-sah saja, karena dengan berbohong dapat mengkondisikan bahwa SangHyang Manikmaya adalah seorang dewa yang maha sakti, suci, dewa yang seluruh ucapannya tindakannya akan dipandang oleh banyak orang sebagai suatu kebenaran, sehingga kejayaan kahyangan, kejayaan para dewa, khususnya kejayaan Sanghyang Guru dapat dipertahankan.

Dan terakhir tindakan Sang Hyang Guru memasukan para pandawakedalam kawah Candradimuka, adalah agar para pandawa hancur, sehingga tidak ada lagi yang dapat menyaingi popularitas dan kejayaan kahyangan Jongring Salaka. Perbuatan ini semula tertutup dan sangat dirahasiakan, tidakboleh sampai bocor kemana-mana, akan tetapi sehebat apapun menutupi perbuatan keburukan, tidak akan lepas dari pengetahuan Sanghyang Narada.

Tentu saja perbuatan jahat Sang Giri Nata (Sanghyang Guru) mendapat reaksi sangat keras dari Sanghyang Narada, sehingga sampai terjadi adu mulut antara Narada dan Guru yang tidak berkesudahan. Karena merasa terpojok Akhirnya Sanghyang Guru mempergunakan wewenang dan kekuasaannya sebagai Raja, Sanghyang Narada dipecat dari jabatannya sebagai wakil maharaja, dan diusir dari kahyangan , dilarang menginjak apalagi menempati fasilitas yang ada di kahyangan Jongringsalaka.

Batara Narada karena merasa tidak bersalah dan merasa dirinya diperlakukan sewenang-wenang, ia melaporkan kepada Ki lurah Semar Badranaya semua kejadian yang telah dilakukan oleh Sanghyang Guru. Kilurah Semar atau Sanghyang Ismaya yang sedang melakukan tapa brata di dusun Karangkadempel untuk menjauhi dunia rame untuk mendapatkan penerangan Sang Illahiyah, merasa sangat terkejut mendengar berita itu dan segera menutup laku tapa bratanya karena kemarahannya sangat memuncakdan seketika memancarkan kekuatan ki Lurah Semar yang sebenarnya pangejawantahan Sanghyang Ismaya putra Sanghyang Tunggal, sebagai turun langsung dari Sanghyang Wenang.

Kahyangan Suralaya di obrak-abrik dihajarnyakori Selomatangkep, jebol seketika, di hancur luluhlantakannya balai Marcukundomanik, suara menggelegar akibat amukan Ki Lurah Badranaya, menuntut balas agar para pandawa yang tidak bersalah segera dilepaskan dari sikasaan dan fitnah kawah Candradimuka. Melihat amukan Ki Lurah Semar Badranaya yang menggila dan sangat nggegirisi, Sanghyang Girinata melarikan diri karena merasa miris dan sangat ketakutan , sambil sesambat meminta pertolongan kepada Sanghyang Wenang kakeknya.

Sahdan yang sedang bertafakur di ruang semedi Kahyangan Ngondar-andir, tidak samar dialah penguasa tiga alam, Sanghayang Wenang yang telah mengetahui segala kejadian, apapun yang sedang terjadi tak terkecuali keadaan Kahyangan Jongringsalaka yang sedang dilanda musibah berantai. Sanghyang Wenang segera turun menemui Manikmaya dan Ismaya yang sedang berseteru, dan memberikan peringatan kepada keduanya.

“Manikmaya dan Ismaya , kalian berdua bertindak seperti anak kemarin sore, saling berebut sesuatu yang tidak bernilai, utamakanlah keluhuran budi, jauhi watak angkara murka, ingatlah perbuatan kalian berdua terutama kamu hai kau Manikmaya, polah tingkahmu menyebabkan rusaknya jagad raya ini,watak serakah , angkara murka, menyebabkan banyak para kawula alit yang tidak mengetahui apa-apa menderita, mereka banyak yang menjadi korban akibat ulah kamu hai Manikmaya.

Dan ingatlah kau Manikmaya pangkat jabatan kekuasaan adalah karunia Illahiyah, kau dipercaya memegang kekuasaan besar di Kahyangan semata-mata agar kamu bisa berbuat adil kepada para kawula alit, kepada masyarakat. Jangan malah berbuat sewenang-wenang mentang-mentang kamu berkuasa. Kepada kamu Ismaya, melakukan semedi tapabrata itu baik, akan tetapi apabila laku yang kau lakukan sampai melupakan tugas utama kamu untuk menjaga tegaknya hukum dan keadilan, maka sama saja engkau telah mengabaikan serta membiarkan kejahatan, kedholiman merajalela di bumi ini.

Aku tahu ulah kamu Manikmaya , karena pengaruh Dewi Durga dan Pendeta Durna, kamu punya banyak kelemahan ingatlah itu, terutama terhadap rayuan manis para perempuan, sehingga kamu banyak terjerumus kedalam perbuatan jahat, serakah yang berbau keduniawian, juga hati-hati kepada pendita Durna dari Sokalima itu, walaupun dia seorang pendita, ilmuwan, cendekiawan, tetapi punya watak memutarbalikan kenyataan, senangnya mengadu domba.

Telah banyak-banyak nasehat dari Sanghyang Wenang kepada manusia pilihan yang satu dialam ruchani berupa kahyangan Jongringsalaka sedang yang satunya lagi Ki lurah Semar sebagai Pengayom Dunia lahir manusia di dusu Karangkadempel.

Sanghyang Wenang, Sang Hyang Tungga, Sang Hyang Manikmaya (Sanghyang Guru), Ki lurah Semar (Sanghyang Hyang Ismaya), Dewi Durga dan Pendeta Durna, adalah gambaran dunia pewayangan, yang dipergunakan sebagai sarana oleh para wali untuk dijadikan media dakwah menanam kan bukan saja ajaran agama, sosial, politik, tetapijuga ajaran-ajaran tatasusila sesuai dengan adat masing-masing daerah. SangHyang Manikmaya sebagai lambang kekuatan dan kekuasaan rochani manusia, apabila banyak dipengaruhi oleh Dewi Batari Durga sebagai lambang keindahan duniawi, keserakahan duniawi, yang setiap saat selalu menggoda kekuatan iman dan kekuasaan rochani.

Apabila kita dapat mengendalikan dengan baik maka yang menang adalah Sanghyang Manikmaya dan naik derajatnya menjadi SangHyang Wenang. Penggoda bukan saja dari Batari Durga akan tetapi bisa datang dari Pendita Durna yang dilambangkan nafsu kesombongan karena menganggap dirinya sudah mencapai tataran kesempurnaan bidang keilmuan, kebijaksanaan, kearifan.

Pendita Durna akan selalu ditempatkan dalam lingkungan kemewahan istana, sedangkan Semar Ki Lurah Badaranaya (SangHyang Ismaya) selalu ditampilkan dalam lingkunga kesederhanaan di dusun Karangkadempel, namun Semar pencapaian tataran kesempurnaan bidang keilmuan, kebijaksanaan, kearifan, tidak pernah diobral apalagi didalam lingkungan kemewahan Istana dan mimbar-mimbar terbuka.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2