Mohon tunggu...
rokhman
rokhman Mohon Tunggu... Kulo Nderek Mawon, Gusti

Melupakan akun lama yang bermasalah

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Saudaraku dan Imajinasi Reformasi yang Hambar

21 Mei 2021   17:17 Diperbarui: 21 Mei 2021   17:23 103 8 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Saudaraku dan Imajinasi Reformasi yang Hambar
Potret gerakan Reformasi 1998. Kompas/eddy hasby dipublikasikan kompas.com

Aku baru ngeh jika hari ini 23 tahun yang lalu, gerakan Reformasi menemui salah satu ujungnya. Ya, 23 tahun yang lalu Soeharto mundur sebagai Presiden Republik Indonesia.

Sebelum Soeharto turun, berbulan-bulan riuh rendah gema perubahan muncul. Aku masih ingat jika di masa itu koran menjadi barang yang sangat ditunggu orang-orang di daerah.

Selain melihat berita di TV dan mendengar informasi di radio, koran jadi santapan wajib. Di masa itu, banyak orang mendadak menjadi pengamat politik.

"Kira-kira bagaimana ini mas," kata seseorang.

"Pokoknya ini adu kuat mas. Antara Presiden dan rakyat," kata yang lain.

Di masa itu kesusahan melanda. Tapi karena aku belum kerja, maka aku tak terlalu terdampak. Nah di masa itu imajinasi orang tentang Reformasi adalah hal yang luar biasa.

Saudaraku mengimajinasikan bahwa jika Reformasi berhasil, maka warga Indonesia akan sejahtera. Jika Reformasi berhasil, maka kebebasan akan membagiakan. Jika Reformasi berhasil, maka pekerjaan mudah didapatkan.

Maklum saja di masa sebelum Reformasi, saudaraku ini kesulitan mendapatkan pekerjaan. Maklum saja karena tak punya channel atau orang dalam. Nah, dia tentu berkhayal, Reformasi akan menghapus hal itu. Kerja ya karena kualitas, bukan karena orang dalam.

Aku pikir, banyak orang yang memiliki imajinasi serupa. Reformasi adalah gerbang menuju kemenangan, keberhasilan, kesejahteraan, dan hal-hal baik lainnya.

Tapi semua itu hanya imajinasi. Setidaknya itu menurut saudaraku. Gambaran dirinya adalah bahwa Reformasi itu  bisa menyejahterakan, memberi lapangan pekerjaan. Intinya gampang untuk rakyat. Tapi setelah tahun-tahun berlalu, khayalan itu tak kunjung jadi kenyataan.

"Ternyata setelah bertahun-tahun Reformasi, masih gini-gini saja," kata saudaraku terkekeh.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN