Mohon tunggu...
Ikrom Zain
Ikrom Zain Mohon Tunggu... Tutor - Content writer - Teacher

Hanya seorang pribadi yang suka menulis | Tulisan lain bisa dibaca di www.ikromzain.com

Selanjutnya

Tutup

Diary Pilihan

Mengapa Susah untuk Mengucapkan Selamat Tinggal dengan Kompasiana?

23 Juli 2021   09:00 Diperbarui: 23 Juli 2021   09:13 152 12 2
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Mengapa Susah untuk Mengucapkan Selamat Tinggal dengan Kompasiana?
https://www.news24.com

Jika Anda perhatikan statistik menulis saya sejal akhir Mei hingga pertengahan Juli ini, rasanya cukup banyak tulisan yang saya unggah.

Setiap hari, sepertinya saya rajin menulis. Bahkan, ada beberapa hari saya menulis 2 kali sehari seperti ritual mandi. Itu saya lakukan untuk mengisi waktu luang karena selama kurun waktu tersebut saya sedang libur amat panjang.

Ya, ketika anak-anak sekolah libur maka saya juga libur. Biasanya, waktu libur panjang sekolah sekitar dua bulan itu saya gunakan untuk jalan-jalan sampai bosan dan menyiapkan materi pembelajaran untuk tahun ajaran berikutnya. Lantaran saat awal libur sekolah kasus covid-19 di Indonesia mengerikan dan sekarang diberlakukan PPKM, maka praktis segala kegiatan pun saya lakukan di rumah saja.


Otomatis, waktu yang biasanya saja gunakan jalan-jalan, kini saya gunakan untuk menulis dan menulis. Terlebih lagi, sejak Desember 2020, saya jarang sekali menulis di Kompasiana. Waktu saya benar-benar habis untuk pembelajaran online dan tatap muka. Belum lagi, saya harus menyusun dan memasangkan jadwal antara siswa bimbel saya dengan para tutor.

Hampir dua bulan menulis di Kompasiana hampir tanpa putus memberikan banyak saya pelajaran. Ternyata, asyik juga jika bisa aktif menulis di Kompasiana dengan konsisten. Otak saya bisa terpacu lagi untuk berpikir dengan kritis dan berurutan. Saya jadi punya semangat lebih untuk membaca dan memahami bahan bacaan, entah buku, berita, atau lain sebagainya.

Saya bisa menyalurkan berbagai hal yang mengganjal di pikiran saya dalam bentuk tulisan, terutama mengenai perkembangan pandemi covid-19. Saya bahagia ketika ada hal yang belum banyak diketahui oleh banyak orang bisa saya berikan kepada orang yang membaca tulisan saya. Timbal baliknya, saya mendapat banyak ilmu dari tulisan para Kompasianer yang bisa saya jadikan pelajaran.

Di masa produktivitas saya yang menggebu ini, untuk pertama kali saya bisa placed (masuk ke jajaran) penerima K reward. Biasanya, saya tak terlalu banyak mengharap karena tulisan yang saya tulis bukanlah tulisan yang disukai oleh mesin pencari. Saya menulis bukan untuk mencari views dan statistik. Saya menulis karena memang ingin menulis dan itu tidak bisa diganggu gugat.

Bahkan, ketika ada topik pilihan yang bis membuat perhitungan statistik tulisan saya bisa berlipat, saya pun memilih mana yang memang sesuai dengan keinginan dan kemampuan saya. Kalau sekiranya topik tersebut tidak begitu saya kuasai, saya tidak memaksa.  Saya masih memegang prinsip untuk tidak menulis topik yang tidak saya kuasai betul.

Sayangnya, produktivitas saya dalam menulis di Kompasiana harus saya akhiri sampai di sini. Sama seperti judul lagu, tentu ada kekecewaan dan kesedihan karena saya tidak bisa lagi produktif. Alasan saya tak bisa lagi produktif tentu saja karena siswa bimbel saya sudah masuk. Mereka menjadi prioritas saya dibandingkan kegiatan menulis yang saya jadikan sambilan agar tidak bosan.

Maka, melalui tulisan ini, saya ingin pamitan dari Kompasiana. Tenang, pamitan yang saya maksudkan bukan saya tak lagi menulis melainkan para pembaca tidak akan menemui tulisan saya lagi seintens beberapa waktu terakhir ini. Saya  akan terus menulis meski bisa jadi hanya seminggu sekali di akhir pekan. Walau cukup berat, tetapi demi alasan kesehatan, maka saya harus melakukannya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan