Mohon tunggu...
Ika Septi
Ika Septi Mohon Tunggu... Lainnya

penyuka musik, buku, film dan kerajinan tangan.

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi Pilihan

Tetap Semangat Walau Harga Bawang Putih Naik

7 Februari 2020   20:05 Diperbarui: 7 Februari 2020   20:17 50 7 1 Mohon Tunggu...

Mungkin Van Helsing akan merana saat ini bila ia tinggal di Indonesia.  Mengapa?  Karena senjata pemusnah masal andalannya yaitu bawang putih stoknya semakin menipis. Vampir seperti count duckula eh dracula pun pasti bergembira ria menanti resign-nya Tuan Helsing yang harus jor-joran merelakan harta bendanya demi membeli bawang putih yang harganya terus menanjak bagai gaya sasak rambut emak-emak.

Ya, per-hari ini bawang putih di pasar telah menyentuh harga 80 ribu rupiah perkilonya.  Beli dua bonggol saja, dompet saya langsung menipis isinya padahal mah emang tipis aja dari asalnya, heuheu.  Di pasar dekat rumah hanya pelapak-pelapak besar saja yang menyediakan bumbu masakan bernama latin  Allium sativum itu, pelapak kecil mah cuma bisa bilang "I am sorry, goodbye".

Seperti diketahui bahwa hasil pertanian bawang putih Indonesia hanya memenuhi 5% dari permintaan pasar dalam negeri, dan sisanya yang 95% itu harus mengimpor dari negara lain seperti Tiongkok. Ya ampun, itu sisa banyak banget.

Kenapa sih negara kita yang lahan pertaniannya masih sangat luas itu hanya bisa menghasilkan sejumput komoditas bernama bawang putih?  Ya karena para petani tidak tertarik untuk menanamnya.

Koq bisa?

Salah satu alasannya adalah karena bawang putih bukanlah tanaman tropis.  Bawang putih harus ditanam di dataran tinggi, bila pun ada yang bisa ditanam di dataran rendah hasil produksinya tidak sebanyak yang ditanam di dataran tinggi, begitu kura-kura eh kira-kira.  

Alasan lainnya adalah biaya yang dibutuhkan untuk menanam  bawang putih lebih tinggi dari hasilnya. Contohnya satu hektar lahan yang ditanami bawang merah dapat menghasilkan 7 ton sedangkan bila ditanami bawang putih hanya menghasilkan 4 ton saja. Apesnya sudah hasilnya sedikit eh harus bersaing pula dengan produk impor, kan jadi nge-bete-in para petani tuh.

Nah, naiknya harga bawang putih kali ini digadang-gadang karena terkait dengan penyebaran virus Corona yang tengah terjadi di Tiongkok sana.  Namun menurut Bapak Mulyadi, Ketua Perkumpulan Pengusaha Bawang Nusantara (PPBN) kenaikan harga bawang putih juga disebabkan oleh belum diterbitkannya Rekomendasi Impor Produk Holtikultura (RIPH) oleh kementan sejak bulan Desember 2019 silam.  Selain itu adanya peraturan yang mengharuskan pelaku usaha menanam bawang putih sebanyak 5% dari volume impor adalah sebab lainnya.

Dan tak hanya Van Helsing saja yang merana karena naiknya harga bawang putih tukang seblak eh ibu-ibu pun demikian karena bawang putih adalah salah satu bumbu masakan yang sangat krusial.  Tanpa bawang putih masakan terasa kurang gurih.

Tapi sodara-sodara setanah air merdeka, santuy aja karena badai pasti berlalu, ya kan?  

Sementara menunggu badai topan tornado mereda,  sebagai pejuang dapur sudah semestinya kita (Ealah kita? Saya aja kaleee) untuk menghemat penggunaan bawang putih dan menambahkan bumbu lainnya yang dapat mendukung kegurihan masakan yang dibuat misalnya dengan menambahkan bawang bombay.

Kemiri adalah bumbu lain yang dapat menambah gurih masakan.  Tapi ingat sangrai dulu ya untuk menghilangkan rasa pengurnya.

Nah, kalau sudah mati gaya, gunakan saja bumbu instan sesuai dengan masakan yang diinginkan, heuheu.  Hari gini banyak judul masakan ada bumbu instannya.

Akhir kata, tetap semangat para pejuang dapur.  Jangan pernah menyerah dalam masak-memasak hanya karena harga salah satu bumbu tengah menanjak.  Percayalah semua akan indah pada waktunya, ish apaasiiihhh.


Sekian.



*dari berbagai sumber.

VIDEO PILIHAN