Iip  Syarip Hidayat
Iip Syarip Hidayat

Belajar dan terus belajar, Menulis merupakan sebuah Hobby. email :iipsyarip1@gmail.com Fb. Iip Syarip Hidayat

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Tentang Cita-cita Anak-anak Indonesia di Malaysia

17 April 2018   11:00 Diperbarui: 19 April 2018   15:58 2310 1 0
Tentang Cita-cita Anak-anak Indonesia di Malaysia
Ilustrasi: ekonomi.kompas.com

Pada awal masuk mengajar di  Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK) di Kinabalu, Malaysia, langkah pertama yang saya lakukan, dan memang biasa dilakukan kebanyakan pengajar lainnya, adalah memperkenalkan diri kepada para siswa. Saya mengajar untuk murid-murid kelas lima ketika itu.

Perkenalan itu pun diawali dari diri saya sendiri. Lalu setelah itu dilanjutkan para siswa untuk secara bergantian memperkenalkan diri masing-masing.

Ada hal menarik ketika di tengah perkenalan. Salah seorang siswa yang memperkenalkan menutup perkenalannya itu dengan cita-cita, "Ingin mempunyai IC".

Sejenak, saya kaget. Apa tuh IC ? Kemudian beberapa siswa menjawab bahwa IC itu adalah sebuah kartu seseorang yang sudah diakui sebagai warga negara Malaysia. Mungki kalau di Indoensia lebih tepatnya KTP atau kartu tanda penduduk.

Kemudian saya bertanya lagi kepada anak tersebut. "Loh, kenapa kamu bercita-cita ingin mempunyai IC?", tanya saya dengan sedikit heran.

Si anak tersebut pun menjawab dengan sanatainya

"Karena, pak, kalau sudah punya IC itu kita lebih tenang hidup di sini, tidak di kejar-kejar police, semua sudah dijamin di sini, pak, mau sekolah setinggi apa pun asal kita mau bisa dikasih oleh kerajaan, tinggal kita yang bayar nanti setelah dapat kerja. Biaya ke rumah sakit murah, kalau gaji di bawah RM 1000 bisa dapat bantuan dari kerajaan,  mencari kerja gampang dan rumah pun disubsidi sama kerajaan," katanya.

"Pokonya hidup di sini lebih enak, pak, daripada di Indonesia, serta  orang tua saya sudah nyaman tinggal dan bekerja di sini," sambungnya.

Waduh dalam hati sambil menelan ludah saya sejenak merenung. Masuk akal juga sih alasan anak ini kenapa dia bercita-cita ingin punya IC. Menurutku, ini ini PR besar. Kalau begini terus bisa-bisa nanti semua anak bercita-cita sama.

Saya langsung bertanya lagi kepada anak tersebut, "Apakah kamu tidak ada keinginan untuk pulang ke Indonesia dan kemudian bekerja di sana serta membangun Indonesia?

Lalu dia menjawab, "Saya belum tahu Indonesia, pak. Saya belum pernah pergi ke sana dari semenjak lahir. Jadi saya tidak tahu Indonesia," jawab si anak itu dengan sangat jujur.

"Oh, kalau begitu kamu lihat ini," sambil saya menunjukkan peta Indonesia. "Ini Indonesia negara yang begitu luas dari Sabang sampai Mereuke, mempunyai alam yang subur, mempunyai berbagai suku, budaya, dan bahasa, serta kaya akan sumber daya alamnya. Alamnya pun begitu indah. Apakah kamu tidak ingin membangun Indonesia nanti kelak kamu dewasa? "

Sejenak si anak itu pun terdiam, lalu mejawab, "Oh, iya pak, saya sebetulnya ingin sekali melihat Indonesia dan suatu hari saya bisa membangun Indonesia, biarlah orangtua saya sudah IC tapi saya akan tetap bangga terhadap Indonesia dan akan kembali ke Indonesia," kata anak itu dengan semangatnya.

"Iya kamu harus bangga terhadap Indonesia,  karena biar bagaimana pun Indonesia merupakan negara asal muasal nenek moyang kamu dan kamu harus melanjutkan perjuangan orangtua terdahulu untuk memajukan Indonesia menjadi negara yang lebih hebat lagi", sambil saya menepuk -- nepuk punggung anak itu.

Dari situlah saya penasaran dengan latar belakang orang tua anak tersebut. Lalu saya mencari informasi dari beberapa guru dan temanya  ternyata tersebut mempunyai beberapa keluarganya sudah IC juga. Sehingga mungkin dia tahu hal tesebut dari keluarganya itu.

Tidak bisa dipungkiri memang untuk saat ini hidup di Malaysia terutama warga asli sudah merasa nyaman dengan kebijakan- kebijakan pemerintahnya, seperti yang dikatakan anak tadi. 

Anak -anak biasanya suka mendengar pembicaraan orangtua atau pembicaraan orang -orang disekitarnya. Kemungkinan besar memang beberapa keluarganya sudah mempunyai IC. Tidak mungkin anak yang baru kelas 5 sudah bisa menjelaskan sedetil itu tenang fasilitas hidup di Malaysia, kalau bukan dari orang dewasa.

Di sinilah tantangan yang lumayan cukup besar ketika harus memberikan motivasi dan mengembalikan rasa nasionalisme para siswa.

Sangat wajar memang jika mereka sudah merasa nyaman hidup di sini karena orangtuanya belum pernah memperkenalkan Indonesia, bahkan diajak ke Indonesia saja tidak pernah.  

Ada yang bilang bahwa "Indonesia di dadaku tapi, tetapi Malaysia di perutku". Itu sebuah kalimat yang memang benar adanya. Ketika mereka susah mencari pekerjaan di Indonesia dan akhinya mengadu nasib dengan bekerja di negara tetangga, suatau hal yang wajar sekali.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2