Mohon tunggu...
Ihsan Ayyasy
Ihsan Ayyasy Mohon Tunggu... Political Ecologist

Aktif Mendalami Politik Lingkungan

Selanjutnya

Tutup

Politik

Melihat Orientalisme Minoritas dan Solusinya di Indonesia

3 April 2016   20:53 Diperbarui: 3 April 2016   21:08 582 0 0 Mohon Tunggu...

Indonesia merupakan negara dengan populasi yang besar juga dengan keberagaman manusianya yang luar biasa. Berdasarkan data BPS dalam sensus tahun 2010 negara ini memiliki lebih dari 300 etnik dan 1340 suku bangsa. Selain etnis dan suku bangsa negara ini juga mengakui 6 agama dimana salah satu agamanya merupakan mayoritas yang mencapai angka 87.18 % dan 12% lima agama sisanya namun itupun masih belum termasuk dengan beberapa kelompok agama yang tidak diakui oleh negara (BPS: 2010). 

Dengan begitu banyaknya keragaman yang ada di Indonesia menjadikan negara ini sangat kaya akan diversitas budaya. Namun hal ini tidak serta merta menjadikan negara ini menjadi negara yang penuh toleransi. Jika kita melihat kondisi negara ini sekitar satu setengah dekade yang lalu begitu banyak konflik yang terjadi antar suku dan etnis, juga beberapa peperangan, kerusuhan, dan pembantaian terhadap etnis tertentu. Hal-hal seperti ini membuat sebuah pertanyaan siapakah sebenarnya orang Indonesia?

            Siapakah Indonesia? Apakah orang jawa? Sunda? Madura? Melayu? Batak? Orang dayak? Bali? Nusa tenggara? Orang sulawesi? Orang maluku? Papua? Cina? India? Arab? Siapa? Negara ini lahir dari keberagaman suku bangsa, jika kita ingin melihat siapakah Indonesia, kita harus melihat nusantara jauh sebelum kemerdekaan. Dahulu kita akan mendapati banyak kerajaan-kerajaan yang berdiri di nusantara. Kerajaan-kerajaan dimana didalamnya sendiri sudah ada elemen pribumi maupun pendatang. Kerajaan-kerajaan ini kemudian mendapat sebuah musuh bersama yang menjadikannya mau tidak mau menjadi satu. 

Elemen masyarakat bersatu melawan penjajahan, namun dalam perkembangannya kemudian muncullah dua kelompok yang dikategorikan sebagai pribumi dan pendatang baik itu cina, arab, India, maupun eropa. Kemudian di era kebangkitan nasional suku-suku yang ada diseluruh Indonesia bersatu bersama dengan pendatang yang hidup bersama ini berkontribusi memberikan dirinya dan membentuk identitas yang sama untuk melawan penjajahan yang terjadi, identitas yang bernama Indonesia. Dari situlah muncul suatu identitas bersama yang bernama Indonesia. Namun hal yang terjadi setelah kemerdekaan beberapa dekade yang lalu dan sekarang  tidak sama seperti era pra kemerdekaan.

            Setelah kemerdekaan beberapa waktu setelahnya muncul berbagai sentimen kedaerahan, sentimen golongan, sentimen etnis maupun agama. Masyarakat Indonesia yang tadinya bersatu dalam satu identitas menjadi terpecah dalam golongan-golongan kepetingan. Mereka yang jumlahnya banyak dan mayoritas di Indonesia seperti pribumi dan islam menjadi golongan yang  mendominasi di Indonesia. Selain itu secara kesukuan orang-orang jawa juga mendominasi kepentingan dan pola pikir masyarakat Indonesia secara masif. 

Namun secara umum yang terjadi dan dapat dilihat bukanlah orang jawa yang mendominasi terhadap suku-suku lain di Indonesia, tetapi pribumi (suku-suku asli Indonesia) dengan pendatang (tionghoa dan arab). Kedua elemen masyarakat tersebut memiliki ketegangan dan anggapan yang sangat kuat terhadap perbedaan terlebih pada etnis tionghoa di masa orde baru dan reformasi.

            Di Indonesia stereotype pribumi terhadap pendatang tak bisa terlepaskan dari anggapan kita dan mereka. Kita yang orang Indonesia dengan mereka yang merupakan imigran. Stereotype yang terjadi memberi anggapan bahwa seolah-olah mereka yang pendatang bukan merupakan bagian dari kita. Anggapan tentang pendatang yang hanya datang ke Indonesia untuk mencari untung belaka dan tak memedulikan selain golongannya juga menjadi stereotype yang dominan.

 Masyarakat pendatang dianggap asing berbeda dan bukan yang sama dengan pribumi. Hal demikian terjadi tidak begitu saja namun memang akumulasi dari fakta dan kejadian yang ada di Indonesia. Fakta bahwa kaum pendatang menguasai lebih besar ekonomi Indonesia dari pribumi Indonesia kemudian perbedaan warna kulit dan budaya yang signifikan juga memengaruhi stereotype terhadap pendatang.

            Jikalau kita melihat pandangan Orientalisme Edward Said tentang bagaimana dunia barat melihat dunia timur, kita bisa juga meminjam orientalisme ini untuk dipakai di Indonesia dalam scope yang lebih kecil dalam hal pribumi Indonesia melihat atau mengorientasikan para pendatang. Indonesia pada dasarnya merupakan negara yang multikultur, seharusnya pada negara yang multikultur dan polietnik seperti Indonesia stereotype tidak sangat kuat seperti yang terjadi di Indonesia. 

Pribumi Indonesia seharusnya bisa hidup berdampingan dengan pendatang baik secara budaya maupun secara ekonomi. Namun hal yang terjadi adalah orientalisme pribumi terhadap pendatang. Orientalisme ini tidak lepas dari kepentingan masyarakat mayoritas yang menginkan golongannya untuk dominan di negeri ini. Mereka yang mayoritas secara langsung maupun tidak membentuk opini stereotype. Penguasa di negeri ini yang membuat kebijakan yang mendiskriminasi etnis pendartang pada era orde lama dan orde baru.

 Namun hal menarik lainnya dikutip dari jurnal Univeristas Sumatera Utara terkait etnis tionghoa. “Secara etnik Cina di Indonesia membuat lingkungannya sendiri hidup secara ‘eksklusif’ dengan tetap memertahankan budaya tradisi leluhur. Ong Hok Kham (dalam Ning: 1992) menyatakan bahwa eksklusifisme orang cina itu disebabkan oleh kehendak mereka sendiri, bukan disebabkan oleh pemisahan yang dilakukan oleh bangsa Indonesia” (Erika : 2006). 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN