Mohon tunggu...
Aryono Putranto
Aryono Putranto Mohon Tunggu... Seorang pembelajar yang tinggal di kota pelajar

(semoga) menjadi penulis yang kritis

Selanjutnya

Tutup

Balap

Layakkah Alex Marquez menjadi Suksesor Paduka?

17 November 2019   18:21 Diperbarui: 17 November 2019   18:35 25 0 0 Mohon Tunggu...

Ditulis oleh:

Ignatius Aryono Putranto

Dosen Fakultas Ekonomi, Program Studi Akuntansi, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

Email: aryono_16@yahoo.com

Dunia balap MotoGP baru saja dikejutkan dengan keputusan Paduka Jorge Lorenzo, yang memutuskan untuk mengakhiri petualangannya di kejuaraan penuh prestis setelah 17 tahun berkompetisi. Sontak, pengumuman ini menjadi tanya bagi banyak pihak. Apakah Jorge memang murni memutuskan sendiri perihal kepensiunannya? Atau adakah tekanan dari pihak lain? Siapa pebalap yang akan mengisi kursi panas jok motor Honda RC213V yang bagi banyak orang dianggap sebagai motor yang khusus dipersembahkan untuk Marc Marquez? Wajar sih jika ada banyak pertanyaan, apalagi karakteristik manusia adalah adanya sifat kepo.

Dari sekian banyak pertanyaan, tulisan ini hanya akan mencoba mengupas salah satu kandidat yang tiba-tiba namanya menyeruak ke permukaan untuk menggantikan paduka. Ya, nama itu adalah Alex Marquez Alenta. Di saat banyak orang mulai membahas kandidat pengganti yang semuanya berasal dari tim LCR Honda, (iyalah, kan ga ada calon lain, masak mbah Rossi?) orang seakan lupa bahwa ada Alex Marquez yang bisa semakin menambah ramai khazanah pergosipan di paddock MotoGP.

Alex Marquez memang bukan nama yang hanya sepintas lewat di kejuaraan balap motor dunia, tidak seperti Lord Karel Abraham. Jika orang mendengar nama Alex Marquez, maka orang akan langsung mengaitkannya dengan calon legenda kelas para raja yang sangat fenomenal, Marc Marquez. Ya, Alex adalah adik dari Marc dan mereka memang digadang-gadang sebagai pebalap muda yang berbakat dari tanah Matador. Alex Marquez, seperti pebalap Eropa lainnya, mengawali karir di kejuaraan CEV Buckler 125cc. Seiring berjalannya waktu, akhirnya Alex Marquez bisa menapaki karirnya di kejuaraan dunia dengan menjadi wildcard untuk kelas Moto3 pada seri kejuaraan di Spanyol tahun 2012. Dua tahun setelah debutnya, Alex akhirnya meraih titel juara dunia 2014 untuk kelas Moto. Prestasi itu mengantarkannya memasuki jenjang lebih tinggi yaitu kelas Moto2 pada tahun berikutnya. Lima tahun berkutat di kelas menengah, gelar juara dunia akhirnya dia peroleh kembali pada tahun 2019 sebagai juara dunia Moto2. Gelar yang baru saja diriahnya ini, membuat semakin banyak orang yang berprediksi, apakah Alex Marquez sudah layak untuk bertarung di kelas puncak.

Alex Marquez, yang sudah menunjukkan potensi juara, sebenarnya memang berhak dan berpeluang untuk menapaki kelas tertinggi, kelas para raja, MotoGP. Jika menilik dari 'tradisi', memang Alex Marquez berpeluang naik kelas. Ada dua 'tradisi' yang saya maksudkan di sini. 'Tradisi' yang pertama terkait dengan 'hobi' Alex Marquez yang naik kelas setelah meraih gelar juara di kelas sebelumnya. Hal ini bisa terlihat dari rekam jejak Alex Marquez. Pada tahun 2015, dia naik kelas ke Moto2 setelah meraih gelar juara dunia Moto3 pada tahun sebelumnya. Tahun ini, 2019, Alex Marquez meraih gelar juara dunia kelas Moto2. Jika menilik dari jejak prestasinya, berarti tahun depan, 2020, adalah kesempatan Alex Marquez untuk melanjutkan 'hobi' naik kelas ke MotoGP.

Tradisi kedua adalah para juara Moto2 saat ini saling berkompetisi di kelas para raja tersebut, seperti: juara dunia Moto2 2012 (Marc Marquez -- Repsol Honda), 2013 (Pol Espargaro -- Red Bull KTM), 2014 (Tito Rabat -- Avintia Ducati), 2015 dan 2016 (Johan Zarco -- LCR Honda), 2017 (Franco Morbidelli -- Petronas Yamaha), dan juara dunia Moto2 tahun 2018 (Franco Bagnaia -- Pramac Ducati). Kehadiran Alex Marquez di kelas MotoGP musim 2020 mendatang akan menjadi penerus 'tradisi' ini.

'tradisi' dan ilmu cocoklogi memang menarik untuk diperbincangkan, tetapi kita tidak boleh melupakan faktor lain yaitu kesiapan dari pebalap itu sendiri terutama dalam hal adaptasi. Alex Marquez memiliki 'tradisi' lain yang tidak menguntungkan dirinya, yaitu terkait dengan pencapaian di musim pertama. Pada tahun 2012, ketika dia menjalani 11 balapan pertamanya di kelas Moto3, dia hanya mencetak 27 poin, tanpa kemenangan, tanpa podium, tanpa start terdepan, dan hanya sekali  meraih pencetak putaran tercepat. Hal yang sama juga terjadi di musim perdananya di kelas Moto2 pada tahun 2015. Hanya bisa meraih 73 poin, dan berakhir di posisi 14 klasemen, tanpa kemenangan, tanpa podium, tanpa start terdepan, dan bahkan tidak mencetak putaran waktu tercepat. 'Tradisi' buruk ini bisa juga terjadi di musim perdananya di MotoGP. Bahkan, dari sisi prestasi, Alex Marquez harus menunggu sampai musim kedua untuk bisa meraih juara seri di kelas Moto3, dan dia harus berjuang sampai musim ketiga untuk bisa meraih kemenangan di kelas Moto2. Bisa jadi, dengan kondisi dan persaingan saat ini di kelas puncak, Alex akan mengulang 'tradisi' buruk ini jika dia tidak segera mempersiapkan dirinya dengan baik. Memang kita tidak bisa berharap seperti yang dilakukan 'si bayi ajaib' Marc Marquez, yang bisa langsung juara dunia di musim perdananya di MotoGP.

Terkait dengan kursi kosong di Repsol Honda, apakah Alex layak mendudukinya? Jika merunut ke masa lalu yang penuh kenangan, Alex memiliki kenangan indah dengan mesin Honda. Terbukti dengan gelar juara dunia yang dia raih di kelas Moto3 bersama tim Estrella Galicia 0,0 yang bermesin Honda. Faktor lain yang mendukung Alex untuk bergabung dengan  tim Repsol Honda adalah adanya romantisme tim yang dibelanya sekarang, Marc VDS Racing Team. Semenjak keikutsertaannya di Motogp tahun 2015 hingga 2018, tim Marc VDS sangat setia dengan mesin berlogo sayap tunggal itu. Jadi atmosfer Honda bukanlah hal asing bagi Alex Marquez. Bahkan pada tahun 2014, Alex Marquez pernah mengendarai Honda RC213V Repsol Honda bernomor 93 pada sebuah sesi tes di Valencia.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x