Senja Guzel
Senja Guzel learn-to-be writer.

Memperhatikan dan belajar.

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan Pilihan

Tentang Mereka yang Tidak Dapat Pulang

10 November 2018   20:11 Diperbarui: 10 November 2018   20:31 334 1 0
Tentang Mereka yang Tidak Dapat Pulang
Ucil, seekor siamang (Symphalangus syndactylus), hasil sitaan dari perdangangan satwa liar ilegal. (dok. pribadi)

Belakangan ini perdangan satwa ilegal sedang marak karena tren memelihata satwa liar naik. 

Mungkin belum banyak orang yang paham kalau satwa liar, terutama yang langka, tidak boleh dipelihara secara perorangan berdasarkan undang - undang. Masih banyak orang yang memelihara kakatua, kucing hutan, atau malah kera seperti siamang dan orangutan, di dalam rumahnya.

Kalaupun mereka sudah mengetahui adanya pelarangan dan memeliharanya berarti ilegal, mereka tidak menggubrisnya sampai satwa berukuran besar dan sudah tidak bisa lagi ditangani, barulah mereka serahkan ke pihak yang berwenang.

Pihak berwenang disini adalah polisi hutan atau penegak hukum, orang - orang yang bekerja dibawah Kementrian Lingkungan Hidup. Pernah terpikir, setelah dari pihak berwenang, satwa akan dikemanakan?

Tidak banyak orang mengetahui tempat ini.

(dok. pribadi)
(dok. pribadi)
Animal Sanctuary Trust Indonesia (ASTI) atau dulu dikenal dengan nama Pusat Penyelamatan Satwa Gadog, adalah salah satu dari beberapa Pusat Penyelamatan Satwa yang ada di Indonesia. Terletak di kecamatan Megamendung, kabupaten Bogor, adalah sebuah tempat dimana beragam satwa liar diselamatkan.

Kurang lebih ada 80 ekor dari beragam spesies satwa liar tinggal disini. Mulai dari kakatua, elang, bermacam - macam satwa primata, bahkan buaya dan harimau. Semua diurus oleh 8 orang pekerja.

Selain penyerahan sukarela oleh warga, satwa liar ASTI juga berasal dari penyitaan paksa, dan perdagangan satwa liar melalui online ataupun melalui komunitas berhasil diungkap pihak berwajib. 

Satwa liar yang diterima jarang sekali diserahkan dalam keadaan sehat baik fisik maupun mentalnya. Paruh burung yang dipotong, taring yang dicabut paksa, sayap yang dipatahkan, perilaku abnormal yang menunjukan stres berkepanjangan, penyakit yang seharusnya tidak ada pada spesies tertentu...

Begitu banyak masalah kesehatan dari para satwa yang datang.

Pernah lihat orangutan yang gemar makan nasi padang? atau owa sumatra yang suka bakso lengkap dengan sambelnya? ya, kondisi paling aneh sekalipun sudah dialami satwa liar yang ada disini. Pola makan tidak normal seperti itu disebabkan oleh "salah asuh" saat dipelihara oleh manusia. 

Satwa - satwa yang ada di ASTI, seharusnya hanya "mampir" untuk sementara waktu karena ASTI hanya merupakan tempat penyelamatan sementara atau tempat transit.

Ketika satwa yang datang dalam kondisi tidak sehat fisik dan mental, semua pekerja mulai dari medis hingga keeper (perawat satwa), berusaha mengembalikan kondisi menjadi prima.

Selanjutnya, satwa seharusnya bisa dikembalikan ke hutan, ke habitat aslinya, kalau ada lembaga di daerah habitatnya yang dapat melakukan proses rehabilitasi terlebih dulu.

Proses rehabilitasi ini penting, sebab ketika satwa telah lama menjadi peliharaan orang dimana mereka terbiasa mendapatkan makan sendiri dan tidak ada ancaman dari luar (selain dari manusia nya itu sendiri), insting mereka menjadi tumpul.

Yang paling ditakutkan adalah jika mereka terluka karena tidak bisa memberikan perlawanan pada predator yang membahayakan nyawanya, atau kalah saat mempertahankan wilayah, atau malah hanya karena mereka tidak bisa mencari makan sendiri sehingga nyawanya menjadi terancam.

Itulah sebabnya diperlukan proses rehabilitasi untuk membangkitkan kembali insting mereka sehingga dapat bertahan hidup, berkembang biak, terhindar dari kepunahan, dan menghasilkan keseimbangan di alam.

Bagaimana dengan satwa yang taringnya sudah dicabut atau sayapnya patah atau memiliki cacat fisik lain? bukankah dengan keadaan seperti itu mereka tidak dapat bertahan hidup di hutan?

Benar. ASTI tidak akan ambil resiko untuk memulangkan satwa - satwa yang sudah tidak memliki potensi untuk bertahan hidup di hutan. Jika ada lembaga yang berfungsi sebagai 'panti asuhan' untuk satwa yang tidak dapat pulang di daerah habitat aslinya, maka ASTI akan melakukan translokasi.

Jadi setidaknya, walaupun tidak bisa pulang ke hutan, mereka masih dapat tinggal di lembaga tersebut, di daerah yang seharusnya mereka hidup.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2