Mohon tunggu...
IDRIS APANDI
IDRIS APANDI Mohon Tunggu... Widyaiswara dan Penulis

Widyaiswara Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Jawa Barat, Penulis Artikel dan Buku, Trainer Menulis, Pembicara Seminar-seminar Pendidikan. No. HP 0878-2163-7667

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Literasi dan Pendidikan Karakter dalam Tulisan Tegak Bersambung

5 Juli 2019   15:24 Diperbarui: 5 Juli 2019   15:38 0 2 1 Mohon Tunggu...

Salah satu materi yang diajarkan kepada siswa SD khususnya pada kelas rendah adalah menulis tegak bersambung. Saya sendiri pernah mengalaminya saat saya belajar di MI (setara SD). 

Saya ingat, saat itu guru kelas I, II, dan III mengajarkan menulis dengan tangan. Tulisan tangan tegak bersambung guru-guru zaman dulu memang dikenal bagus, rapi, dan indah. Kalau menulis di papan tulis, terlihat begitu menikmati goresan demi goresan kapur atau pena. Menulisnya tidak terburu-buru sehingga hasilnya indah.

Sebelum menyampaikan materi, guru menggarisi papan tulis dengan kapur, lalu memberi contoh tulisan tegak bersambung yang harus ditiru oleh para siswa.  Saya termasuk yang senang kalau ada materi tersebut, karena saya senang dengan seni menulis indah. Para siswa menyiapkan pensil yang telah diserut atau dipertajam. Setelah guru memberi contoh, para siswa diminta untuk menulis sesuai dengan yang dicontohkan.

Selintas, materi menulis tegak bersambung hanya sekadar mengajarkan supaya siswa bisa menulis, tetapi dari prespektif literasi hal tesebut bisa diambil nilai atau pelajaran. 

Dari konteks literasi, pelajaran menulis merupakan salah satu bentuk literasi dasar. Mulai dari menulis huruf, merangkai huruf menjadi kata demi kata, hingga menjadi sebuah kalimat. Walau sama-sama menulis, tetapi menulis huruf tegak bersambung berbeda dengan guru latin. Menulis huruf latin yang penting bisa terbaca walau bentuknya tidak terlalu indah, tetapi kalau menulis huruf tegak bersambung, samping keterbacaan, juga memperhatikan kerapihan dan keindahan.

Mengajarkan menulis kepada siswa, apalagi kepada siswa kelas rendah bukan hal yang mudah. Perlu kesabaran guru, mulai dari cara memegang pensil hingga cara menulis huruf demi huruf. 

Pada pembelajaran menulis pun, para siswa diajari cara menulis yang sesuai dengan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) misalnya cara menulis huruf kecil atau besar, tanda baca, dan sebagainya.

Dari konteks pendidikan karakter, pelajaran menulis huruf tegak bersambung sarat dengan muatan pendidikan karakter, diantaranya; ketelatenan, ketelitian, kerja keras, sungguh-sungguh, pantang menyerah, mencintai keindahan, mencintai kerapihan, mengasah kelembutan, dan tidak tergesa-gesa.

Hal yang saya rasakan sendiri saat setelah menyelesaikan tugas menulis tegak bersambung adalah kebahagiaan dan kepuasan. Bahkan seni menulis indah tersebut terus diasah hingga bisa masuk ke dalam kategori kaligrafi. Orang-orang yang tulisan tangannya bagus suka diminta untuk menulis ijazah, sertifikat, atau membuat tulisan-tulisan untuk hiasan dinding.

Pembelajaran menulis huruf tegak bersambung memang saat ini masih diajarkan di sekolah-sekolah, tetapi tidak dapat pula dipungkiri bahwa kualitas tulisan para siswa cenderung semakin sulit dibaca (untuk tidak mengatakan jelek). Bahkan guru yang memiliki kemampuan menulis huruf tegak bersambung yang indah pun sudah relatif jarang, sehingga hal ini menurut saya juga akan menurunkan kualitas pembelajaran huruf tegak bersambung.

Saya sendiri tidak tahu apakah di program studi PGSD ada pelajaran menulis huruf tegak bersambung atau tidak? Saya berharap ada, karena menulis tegak bersambung bukan hanya sekedar pelajaran menulis, tetapi ada muatan literasi dan pendidikan karakternya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2