IDRIS APANDI
IDRIS APANDI PNS

Widyaiswara Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Jawa Barat, Penulis Artikel dan Buku, Trainer Menulis, Pembicara Seminar-seminar Pendidikan. No. HP 0878-2163-7667

Selanjutnya

Tutup

Karir Artikel Utama

Bagaimana Menangani Karyawan yang Kritis di Kantor?

5 Mei 2019   07:53 Diperbarui: 5 Mei 2019   11:25 267 4 5
Bagaimana Menangani Karyawan yang Kritis di Kantor?
ilustrasi karyawan yang kritis di kantor (Dok. Jobplanet Indonesia) 

Sebuah kantor, instansi, lembaga atau perusahaan, pada umumnya memiliki banyak pegawai atau staf. Untuk mengelolanya bahkan dibuat sebuah unit kerja khusus yang disebut bagian personalia, Human Resources Departement (HRD), atau bagian kepegawaian. 

Bagian tersebut menangani masalah kepegawaian mulai dari informasi penerimaan pegawai, seleksi, pengangkatan, pengelolaan data-data pegawai, sampai proses administratif pemberian penghargaan, hukuman, hingga pemberhentian pegawai.

Setiap pegawai tentunya memiliki beragam tipe. Mulai dari pekerja sampai kepada tipe pemikir. Mulai dari tipe penurut, manut, tidak banyak bicara, hingga tipe kritis, tidak asal menerima sebuah kebijakan. 

Beragam karakter tersebut ada plus dan minusnya, saling melengkapi, dan menjadi warna dalam sebuah organisasi. Staf yang bertipe pekerja pada umumnya hanya sekedar melaksanakan SOP atau perintah atasan. Ketika ada perintah, laksanakan, dan beres. 

Dia tidak mau ambil pusing dengan lingkungan pekerjaannya. Dia juga kurang tertarik memberikan saran atau masukan untuk perbaikan atau peningkatan kualitas produk atau layanan. Intinya, dia bekerja untuk mencari nafkah ansih, tidak neko-neko. 

Sedangkan tipe staf yang kritis, disamping dia suka mengkritisi kekurangan SOP yang telah ada, juga memiliki inisiatif untuk mengajukan usulan, alternatif solusi, atau terobosan-terobosan baru untuk meningkatkan kualitas produk atau layanan.

Setiap pimpinan tentunya berharap semua stafnya bekerja dengan baik dan menaati setiap perintah yang diberikannya. Dan diakui atau tidak, diharapkan tidak akan ada staf yang complain atau mengkritisi dirinya, karena dia ingin berada di zona nyaman. 

Oleh karena itu, dia akan cenderung memilih staf yang manut padanya. Sedangkan dia kurang suka terhadap staf yang cenderung kritis, karena ada stigma bahwa staf yang kritis adalah staf yang no action talk only (NATO) alias omdo, dianggap sebagai kaum oposan, pengacau, bahkan dicap sebagai orang berbahaya, provokator, bisa mengganggu stabilitas lembaga atau mengganggu posisinya.

Di instansi swasta, model-model staf seperti ini akan dengan mudah ditangani karena sang pimpinan atau bos bisa saja memecatnya, sedangkan di instansi pemerintah, tidak semudah itu, ada aturan-aturan kepegawaian yang harus diperhatikan, dan masalah kekritisan tidak masuk ke dalam soal pelanggaran disiplin. Paling juga, biasanya dikaitkan dengan loyalitas yang rendah. 

Akibatnya, kurang diberi kepercayaan, bahkan dikucilkan. Diakui atau tidak, orang pada dasarnya tidak nyaman bahkan tidak mau dikritik, karena kritik dianggap sebagai hal yang bisa mempermalukan atau mengurangi wibawanya.

Pertanyaannya adalah mengapa ada staf yang kritis? Hal ini bisa disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya: (1) karena watak individunya yang memang kritis, 2) karena adanya perlakuan diskriminatif terhadap dirinya, (3) adanya ketidakpuasan terhadap sebuah keputusan atau kebijakan pimpinan, dan (4), bisa akumulasi atau kombinasi dari beberapa sebab sebelumnya.

Menurut saya, ada pandangan yang salah kaprah yang menganggap bahwa sikap kritis merupakan ekspresi ketidaksukaan, benci, bahkan iri terhadap orang lain. Kadang sikap kritis disamakan dengan sikap nyinyir yang memandang setiap hal yang dilakukan oleh orang lain selalu salah alias tidak ada benarnya.

Anggapan tersebut harus diluruskan. Kritis tidak identik dengan benci atau iri, tapi justru merupakan sebuah ekspresi kepedulian. Bagaimana mau kritis kalau tidak peduli? Dia memeras pikirannya untuk melihat setiap kekurangan, kejanggalan, atau hal yang perlu diperbaiki di lembaga tempatnya bekerja. Yang dikritisi bukanlah orang, tetapi sistem. 

Tujuannya, agar lembaga tempatnya bekerja semakin maju dan sesuai dengan harapan sebagaimana tercantum dalam visi dan misinya.

Sikap kritis dan nyinyir adalah dua hal yang berbeda. Sikap kritis muncul dari objektivitas, sedangkan nyinyir muncul dari subjektivitas, dan hal termasuk penyakit hati. SMS, alias susah melihat orang lain senang dan senang melihat orang lain susah. 

Sikap kritis disertai dengan usulan alternatif solusi, sedangkan sikap nyinyir hanya bisa menyalahkan, tanpa disertai usulan alternatif solusi.

"Kalo ngasih kritik yang solutif dong. Jangan pandainya ngeritik doang, tapi tidak ada solusi." Itulah ungkapan yang suka muncul dari pihak yang dikritik kepada pengiritik. Untuk hal ini saya setuju, karena kritik tanpa solusi tidak akan efektif, bakan bisa menjadi boomerang kepada pihak pengkritik. 

Oleh karena itu, sang pengkritik pun disamping pandai mengkritik, juga harus siap dengan usulan alternatif solusi, supaya kritik yang disampaikannya konstruktif dan solutif.

Menurut saya, seorang pimpinan harus berterima kasih pengkritik, karena dia menjadi memiliki bahan-bahan untuk perbaikan sistem manajemen pada lembaga yang dipimpiannya. Dan pada dasarnya tidak ada kepemimpinan yang sempurna, pasti memiliki kekurangan. Kritik juga merupakan bagi dan kontrol atau check and balances terhadap sebuah kekuasaan, karena kekuasaan yang absolut cenderung menyimpang atau sewenang-wenang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2