Mohon tunggu...
IDRIS APANDI
IDRIS APANDI Mohon Tunggu... Penulis - Penikmat bacaan dan tulisan

Pemelajar sepanjang hayat.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Menjadi Widyaiswara Penulis, Sebuah Anugerah dan Kesaksian

28 Maret 2017   20:09 Diperbarui: 28 Maret 2017   20:20 1856 3 2
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Penulis ketika menyampaikan materi pada sebuah kegiatan kegiatan. (Foto : Dok. Pribadi)

Mengawali tulisan ini, Saya ingin flash back ketika tahun 2002 Saya pertama kali diterima sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di Balai Pelatihan Guru (BPG) Bandung yang saat ini bernama Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Jawa Barat. Saya waktu itu, mendaftar menggunakan ijazah SMA, sehingga diangkat pada jabatan pelaksana golongan II/a.

Pada tahun pertama, Saya ditempatkan menjadi staf pada Sekretariat Widyaiswara, dan tahun 2003 pindahkan menjadi staf pada urusan kepegawaian. Sebagai seorang tenaga administrasi, Saya banyak berkutat pada pekerjaan administratif, mulai dari mengetik draft surat-surat sampai mengelola data-data kepegawaian.

Tahun 2005, Saya lulus ujian penyesuaian dari golongan II ke golongan III/a. Ijazah S-1 Saya alhamdulillah bisa terpakai. Saya masih berkutat di bagian administrasi. Saya mulai senang membaca berita dan artikel dari koran dan media Online.Dari membaca berita dan artikel tersebut, Saya mulai tertarik menulis. Diawali dari menulis surat pembaca di Pikiran Rakyat dan Galamedia. Isinya berupa aspirasi, mengkritisi pelayanan publik, dan permasalahan sosial yang terjadi.

Tahun 2006 jalan menuju dunia menulis mulai terbuka. Tulisan Saya yang berjudul “Arti Dibalik Kunjungan Presiden SBY ke Sekolah” dimuat di Galamedia tanggal 24 April 2006. Saya sangat senang karena Saya sadar tidak mudah sebuah tulisan dimuat di surat kabar. Tulisan Saya terpilih diantara sekian banyak tulisan yang diajukan oleh penulis yang lain.

Itulah momentum pertama saya untuk menggeluti dunia menulis, khususnya menulis artikel ilmiah populer. Perlahan tapi pasti, tulisan-tulisan cukup banyak menghiasi koran dan majalah, seperti Pikiran Rakyat, Galamedia, Tribun Jabar, Pelita, majalah Suara Daerah, Majalah Bhinneka Karya Winaya, dan sebagainya.

Awalnya, Saya tidak terlalu serius menggeluti dunia menulis. Saya menulis hanya sebagai hobi atau mengisi waktu luang, tetapi dalam perkembangannya, Saya mulai menikmatinya dan semakin masuk ke dalamnya. Dari 2006 sampai dengan saat ini (Maret 2017), kurang lebih sekitar 600 artikel dan puisi yang telah Saya tulis. Bagi Saya, karya-karya tulis tersebut adalah kekayaan intelektual yang tidak bernilai.

Tahun 2010 Saya mengikuti seleksi Calon Widyaiswara di kantor Saya, dan alhamdulillah lulus, lalu pada bulan November 2010, Saya mengikuti Diklat Calon Widyaiswara di Pusdiklat Pegawai Kemdikbud di Sawangan Depok. Saya diangkat menjadi Widyaiswara TMT 1 Mei 2011. Saya memasuki dunia yang baru, dari seorang tenaga struktural menjadi seorang tenaga fungsional yang wajib mengumpulkan Angka Kredit (AK). Dari dunia yang bergelut dengan kertas, komputer, dan benda-benda mati, kini harus berinteraksi mendidik, mengajar, dan melatih PNS khususnya kalangan guru.

Artikel-artikel yang Saya tulis di media massa ternyata sangat bermanfaat dalam menambah AK Saya. Sebelumnya Saya tidak berpikir artikel-artikel tersebut dapat menjadi AK, karena Saya menulis hanya sebagai hobi dan sarana curhat saja. Pelajarannya dari hal tersebut adalah segala sesuatu yang baik, tidak akan pernah sia-sia. Sejak saat itu, Saya semakin bersemangat untuk menulis. Saya merasa passionSaya memang di dunia menulis.

Tahun 2013 Saya mulai merintis menulis buku. Dan Maret 2014 buku pertama yang berjudul “Pendidikan Indonesia Mau Dibawa Kemana?” diterbitkan. Buku tersebut merupakan bunga rampai dari artikel-artikel yang Saya tulis dan diterbitkan di koran dan majalah. Hal tersebut menjadi motivasi Saya untuk menulis buku-buku berikutnya.

 Alhamdulillah, sampai dengan 2017, sebanyak 12 judul buku telah Saya terbitkan. Dan Saya pun berencana untuk menerbitkan buku-buku berikutnya. Hal ini didasari tujuan menulis bukan hanya sekedar mengejar angka kredit, tetapi untuk menyebarkan gagasan, pemikiran, memberikan manfaat bagi orang lain, mengukir sejarah, dan sebagai sarana ibadah.

Tidak dapat dipungkiri, dari menulis, Saya mendapatkan point dan koin. Point saya dapatkan dari AK, sedangkan koin berupa honor yang dari koran atau majalah yang menerbitkan tulisan Saya. Walau demikian, ada kalanya tulisan yang dimuat di koran atau majalah lokal tidak mendapat honor. Bagi Saya, hal itu tidak menjadi masalah, karena rezeki bisa datang dari pintu yang lain. Misalnya dari undangan mengisi seminar, pelatihan, atau workshop yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan, sekolah, atau organisasi profesi guru.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan