Mohon tunggu...
Franky Dwi Damai (Idham)
Franky Dwi Damai (Idham) Mohon Tunggu... Mahasiswa Ilmu Hukum, Universitas Pendidikan Ganesha (UPG)

Aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Singaraja.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Jejak Langkah, Tergantung Penempaan Diri

22 Februari 2020   02:05 Diperbarui: 22 Februari 2020   02:05 18 0 0 Mohon Tunggu...

Awal perjalanan

Singaraja, 22 Januari 2020. Dua pekan sebelumnya dalam setiap malam, aku mulai resah kebimbangan diri mulai menyuluti lelap tidurku,  hingga tersulut di bawah alam sadarku, terbesit keheningan. 

Aku meronta-ronta dalam diam bersama kehingan malam dan setumpuk penyakit susah tidur yang mulai membelenggu. Kubuka kembali lembaran-lembaran jejak langkahku empat tahun silam. Sebelum aku menguatkan keberangkatanku untuk meninggalkan Kampung halaman tepatnya di Tahun 2016.

Aku masih ingat betul, kenapa aku mengorbankan pilihanku sendiri, dan lebih memilih untuk melanjutkan pendidikan kuliah dari pada bekerja dan berdiam diri di Kampung halaman. Tiada lain adalah kekuatan surga duniaku yang selalu membuatku berpikir dan merenung "lima tahun kedepan" apakah diriku tetap seperti ini, ataukah harus mencari jati diri sesuai alternatif kedua orang tuaku.

Cukup satu minggu waktu diberikan padaku oleh Ibu, untuk berpikir panjang sebelum bertindak. Hingga kerap setiap malam aku selalu bermunajat pada Tuhanku, dan kusampaikan dalam lantunan pasrah harusnya aku bagaiamana Tuhan. Hal ini terjadi, dikarenakan karena ada dua hal yang menjadikanku berat.

Aku berpikir bahwa Ibu, akan sendirian dalam mengisi hari-harinya tanpa kehadiran diriku. Lantaran Kakakku saat itu sedang kuliah di Politeknik Negeri Malang. Belum lagi saat itu Ayah sering bekerja di luar kota untuk memenehui kebutuhan hidup keluarga kecil kami. Itulah alasanku sungguh berat, karena sudah jadi hukum kepastiaan, kalau aku takkan kuasa meninggalkan Ibu sendiri di rumah.

Kedua, yang tergiang dipikirku adalah Ibu akan lebih bersusah payah untuk mengikhlaskan aku dan juga bersusah payah untuk membiayai hidupku di perantauan serta menunjang fasilasku untuk menunjang pendidikan.

Semakin hari semakin berat beban ini, dan sampai pada akhir waktu yang sudah tidak bisa ditoleransi lagi. Bahwa kenyataan yang membenturku mau tidak mau, ikhlas dan tidak ikhlas aku harus pergi untuk melanjutkan pendidikanku di tanah Rantau, dan meninggalkan keluarga kecilku.

Aku percaya bahwa keabadian dalam hidup adalah perjalanan penempaan diri yang sangat dinamis, yang entah sampai kapan harus di akhiri. Jelas aku harus melewati ini semua. Tak terasa kedua mataku meneteskan air mata setelah Ibu, melaksanakan ritual adat keluarga kecil kami sebelum pergi dari tanah asli kelahiranku, Sedayulawas, Brondong, Lamongan.

Ibu mengantarkanku bersama Bapak dan Kakakku sampai di Terminal, Tunggul, kami berempat tak kuasa menahan tangis dan seolah tegar dalam perpisahan untuk sejenak saling mengikhlaskan jarak dan waktu kebersamaan dalam setiap hari-hari panjang. Lewat kaca bus, aku berdiri dan  menengok mereka bertiga.

Ternyata mereka menangis, aku hanya bisa diam dan duduk kembali di atas dan melepas pandanganku dari arah mereka dan memilih untuk menghadap ke depan jalan yang harus aku lewati hingga sampai kota tujuan perantauanku, yakni Kota Singaraja, Bali.

Usai sehari perjalanan dan akhirnya sampailah juga aku dan menemukan kota pendidikan tujuanku. Aku merasa sepi dan merasa asing di sini di kota Singaraja. Sanak saudarapun aku tak punya apalagi teman seperjuanganku. Namun ketika itu aku masih bisa bersyukur karena masih ada Kakak tingkat yang mau menerima dan memperbolehkanku menumpang sebut saja (Sahrul/Cak Brin dkk).

Selama satu minggu, aku hanya mejalani rutinitas yang tidak familiar sebagaimana mestinya kultur dan status quo hidupku. Situasi di mana aku memaksakan diri untuk melawanya, hingga memutuskan untuk tidak melakukan rutinitas sebagai seorang pekerja. Berbeda dengan saat masih di kampung. Akupun memulai dengan melakukan rutinitas baru, sebagai mahasiswa tidak seperti pekerjaan yang menghasilkan uang. Saat jadi mahasiswa baru aku mulai disuguhkan persiapan administrasi pendaftaran kuliah, daftar ulang dan juga persiapan ospek dua minggu kedepan.

Banyak rintangan akademik yang aku hadapi, mulai dari ketidak bebasan berekspresi. Tuntutan dari panitia ospek, hingga pembayaran uang ospek. Semua terangkum menjadi satu yang membekukan pikirku. Seusai ospek mulai aku temukan warna baru yang mulai aku resapi. Dengan mencoba memahami rekayasa demi rekayasa dan status quou orang lain. Aku mulai belajar kembali tentang lingkungan sekitar baruku.

Aku teringat kembali, bahwa seperti biasa setiap pagi aku selalu sarapan bersama dengan keluarga kecil, karena untuk tahun pertama dan terakhir pastinya aku harus memaksakan untuk melaksanakan segala rutinitasku tanpa kehadiran mereka yang secara tatap muka memotivasi dan mengkritisiku.

Kesepian rutinitas dan kebekuan pikir menjadikanku untuk, mencari relasi dan membuka diri untuk menempa diri. Akupun memulai bergegas untuk mengikuti seluruh kegiatan yang diwajibkan di Kampus. Bahkan aku mulai mengikuti perkumpulan organisasi islam di lingkungan kampus sebut saja, PMM Alhikmah, di sana aku mulai menemukan teman senasib perantauan, aku juga mulai menemukan keberagaman karakter dan cita-cita serta perjuangan dari hubungan pertemanan.

Namun aku tetap gelisah, sampai pada suatu hari aku menemukan sebuah komunitas teather Putung Rokok (Kontur). Banyak yang aku temukan di komunitas ini, mulai dari hubungan pertemanan, etika, kebebasan dan kebersamaan dalam keberagaman.

Namun pada satu sisi aku masih resah dan  tak tahu arah tujuan. Masih tidak puas dan haus ilmu, mulai tergiang kebekuan di hati dan pikirku,  gelut keruh mulai kembali lagi, apa yang aku inginkan dan apa yang harus aku lakukan. Entah, apa yang membuatku resah, yang aku tahu hanya ada yang kurang dengan kondisiku saat ini. Selama ini aku tidak menemukan kepuasaan dalam dunia kemahasiswaan, mulai dari pengkosongan, doktrin dan pembelajaran dengan kekangan sistem pengajaran yang tidaklah semua gaya pembelajaran Dosen masuk dalam pikiranku.

Aku sering mengalami bentrok dengan perseptif, yang jelas ada budaya pendidikan yang kurang bisa dicerna oleh Pikirku. Konsepsi yang dusah diterima secara rasional dan sungguh itu sangat membuatku geli. Sialnya beberapa dari mereka selalu konsisten dengan gaya-gaya otoritarian serta penekanan bentuk primodialismenya sendiri.

Lucunya aku mulai sadar dan semakin geli, di mana aku dihadirkan pada realitas kebenaran yang diterima melalui paksaan-paksaan oleh sekelompok  yang mengaku intelek yang punya rangsangan kaku, untuk diakui dan di sepakati oleh sekumpulan manusia  berpikir di kelas kontruksi yang beku.

Tidak siklus namun cenderung stagnan dan linear cara kerjanya. Sampai pada suatu hari salah satu dari sekumpulan manusia berpikir itu sadar dan mengaminkan atas penentangan sistem pendidikan "Gaya Bank", sebagai alat penindasan menurut Paulo Freire dalam bukunya (Pedagogy of the Oppressed). kepedulian Paulo Freire dalam bidang pendidikan sangatlah memajukan peradaban dan memanusiakan manusia sebagaimana dalam Buku Pertama : Educacao como Practica de Liberdade, yang di dalamnya membahasa bahwa Pendidikan Sebagai Pelaksanaan Pembebasan.

Paulo Freire, dalam beberapa karyanya menawarkan kesadaran terhadap para individu dengan  menyebutkan bahwa pendidikan lama sebagai pendidikan dengan "sistem bank" dikarenakan di dalam pendidikan guru merupakan subjek yang memiliki pengetahuan yang diisikan kepada murid. Murid adalah wadah atau suatu tempat laksana deposit belaka, dan dalam proses tersebut murid semata-mata merupakan objek. Sistem ini senantisa dirobohkan oleh Freire dengan menciptakan sistem baru yang dinamakan problem-posing education (pendidikan hadap masalah).

Secara realitas ada yang benar tidak singkron di mana anggapan bahwa (1) Guru mengajar, murid diajar, (2) Guru mengetahui segala sesuatu, murid tidak tahu apa-apa (3) Guru berfikir, murid dipikirkan, (4) Guru bercerita, murid patuh mendengarkan, (5) Guru menentukan peraturan, murid diatur, (6) Guru memilih dan memaksakan pilihannya, murid menyetujui, (7) Guru berbuat, murid membayangkan dirinya berbuat melalui perbuatan gurunya, (8) Guru memilih bahan dan isi pelajaran, murid (tanpa diminta pendapatnya) menyesuaikan diri dengan pelajaran itu, (9) Guru mencampuradukan kewenangan ilmu pengetahuan dan kewenangan jabatannya, yang dia lakukan untuk menghalangi kebebasan murid, (10) Guru adalah subjek dalam proses belajar, murid adalah objek belaka, (11) Problem-Possing Education.

Selama aku di sini, yang aku tahu hanya paksaan denda, ketakutan nilai kecil, atas tugas. Ketakutan ketidakhadiran dalam kegiatan itu yang mewarnai dan menyulut emosi mengingat, karena salah satu dark fungsi dan manfaat bidikmisi, terjadi sebuah keniscayaan sampai hari ini aku masih bisa di kasih kesempatan untuk berkesempatan melanjutkan perkuliahan.

Pada satu sisi aku juga sadar, bahwa aku yang perlu aktif dan kreatif untuk melebarkan relasi dan mencari pengalaman di luar akademik dengan mulai menemukan lingkungan pencerahan baru, agar aku bisa menambah pengalaman dalam penempaan hidup. Mulailah aku putuskan untuk masuk dalam pemilihan DPM Kampus, dan alhamdulilah aku menjadi salah satu kandidat, sampai pada akhirnya aku terpilih sebagai keterwakilan (Dewan Perwakilan Mahasiswa) versi miniatur kenegaraan yakni (MPM Rema) legislatif kampus.

Interaksi dunia legeslatif kampus, menjadikanku sadar bahwa memperbanyak relasi dan memperkuat jaringan adalah salah satu bagian penguat usia investasi jangka panjang. Hingga aku mulai mengenal salah satu seorang pemuda perantau juga sepertiku sebut saja Diki, Halim, Jaswanto, Yayan, dan Bang Zen. Kehadiran mereka lambat laun menjadi bumbu penyedap setiap kegelisahanku. Sampai pada akhirnya aku mulai diperkenalkan mereka dengan "HMI" Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Singaraja. Tahun 2016/2017 aku mulai masuk dan mengikuti Basic Training  LK 1.

Hingga sampai saat ini, aku menjejakkan dan  menjajakaki semester akhir, di mana aku dihadapkan pada tugas dan skripsi. Memang benar adanya, jikalau di manapun Kampusnya itu sama saja. Tergantung penempaan diri dan kesadaran untuk menempa diri,  untuk menjadi "uswatun hasanah" dengan modal iman, ilmu dan amal, semua akan terlaksana sebagaimana mestinya. Karena iman tanpa ilmu itu buta, sedangkan iman, ilmu dan tanpa amal adalah jurang kemunduran peradaban.






VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x